Kamis, 20 Januari 2022 / 16 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

“Hafal Pancasila Belum Tentu Pancasilais”

Ainuddin Chalik/Hidayatullah.com
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Mahyudin
Bagikan:

Hidayatullah.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Mahyudin, menegaskan orang yang menghafal luar kepala isi Pancasila belum tentu sosok pancasilais.

Keterangan Mahyudin tersebut menanggapi pertanyaan salah seorang audien dalam acara kunjungan organisasi Syabab Hidayatullah di kantornya. Salah seorang sempat menanyakan  seringnya pondok pesantren dikaitkan dengan radikalisme dan label tidak pancasilais.

Mahyudin menilai, secara tekstual pesantren mungkin dianggap kurang mengajarkan Pancasila karena dari pengalaman dirinya masuk di beberapa pesantren memang banyak santri-santri Pancasila pun tidak hafal.

“Tapi itu bukan berarti mereka tidak Pancasilais karena Pancasila itu senditi digali dari falsafah bangsa Indonesia sendiri. Falsafah itu diantaranya hidup rukun, toleransi, dan beragama. Jadi jauh hari sebelum Indonesia merdeka, kita sudah beragama. Jauh hari sebelum Indonesia merdeka, Islam sudah kuat,” imbuhnya.

Lanjut dia, maka diambil dan disaring dari situlah, para bapak bangsa kemudian menggagas Pancasila dengan menggali nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya masyarakat Indonesia agar bisa mengakomodir semua kepentingan.

“Itulah maka lahirlah Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa ini,” ujarnya.

Mahyudin menegaskan dirinya tidak sependapat jika dikatakan pesantren tidak pancasilais. Jutru pesantren adalah pelaku Pancasila. Masalah belum mengajarkan butir-butir secara mendalam, itu soal lain.

“Semangat Pancasila ini lahir dari orang beragama, bukan lahir dari orang sekuler. Makanya dalam Pancasila, sila pertama ditempatkan Ketuhanan yang Maha Esa,” imbuh fungsionaris DPP Golkar ini.

Namun, ia mengingatkan, tentu ada pihak-pihak yang berusaha merongoring nilai-nilai falsafah Pancasila karena tidak mau melihat bangsa Indonesia bersatu, PKI misalnya. Sehingga, menurutnya, urusan maaf atau tidak memaafkan PKI itu sudah close.

“Tidak ada maaf, selesai urusan. Bangsa ini tidak usah lagi mikirin masalah tetek bengek masa lampau. Kalau pikirin masa lampau, nanti orang dapat teteknya, kita dapat bengeknya. Percuma. Jadi sudahlah,” selorohnya dengan mimik serius.

Dalam kesempatan tersebut Mahyudin mengatakan pihaknya menyambut baik inisiasi Pemuda Hidayatullah untuk turut mensosialisasikan empat pilar kebangsaan.*

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Menag sebut UIN Maliki Malang Al-Azharnya Indonesia

Menag sebut UIN Maliki Malang Al-Azharnya Indonesia

Soal Israel Tak Sekedar Kekuatan Politik, Tapi  Ada Zionisme

Soal Israel Tak Sekedar Kekuatan Politik, Tapi Ada Zionisme

Gelar Konferensi Rajab, HTI Optimis Khilafah akan Tegak

Gelar Konferensi Rajab, HTI Optimis Khilafah akan Tegak

Pesantren Tebuireng Minta Pemulasaraan Jenazah Covid-19 sesuai Agama

Pesantren Tebuireng Minta Pemulasaraan Jenazah Covid-19 sesuai Agama

Ketua Markas Dakwah: Komunis Gaya Baru Ancaman Terbesar Umat Islam dan NKRI Saat Ini

Ketua Markas Dakwah: Komunis Gaya Baru Ancaman Terbesar Umat Islam dan NKRI Saat Ini

Baca Juga

Berita Lainnya