Rabu, 31 Maret 2021 / 17 Sya'ban 1442 H

Nasional

Kemenag Akui Harus Kerja Lebih Keras Satukan Kalender Hijriah

IBNUSUMARI/HIDAYATULLAH.COM
Prof. Dr. Machasin MA (tengah) Prof. Dr Khuzimah T. Yanggo (kanan) dan Dr. Mukhtar Ali (kiri) saat konferensi pers penetapan 1 Dzulhijjah 1436 H
Bagikan:

Hidayatullah.com– Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) masih akan terus berupaya menyatukan kalender Hijriah. Meskipun sampai saat ini masih belum bisa disamakan, bukan berarti itu sudah mentok tetapi memang belum sampai kepada kesimpulan yang bisa menyatukan.

“Prinsip-prinsipnya sebetulnya sudah ada dan mulai mendekat ke arah itu tetapi memang masih diperlukan usaha yang lebih keras lagi supaya bisa menyatu,” kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Machasin, MA saat konferensi pers di Gedung Kemenag Jalan Thamrin Jakarta, Ahad (13/09/2015) malam.

Menurut Machasin sebetulnya prinsip-prinsipnya itu sudah sama, metode juga sebetulnya tidak banyak perbedaan, cuma tinggal kriterianya saja yang ada sedikit perbedan, yakni ada yang menggunakan wujudulhilal, dan satu lagi menggunakan imkanurrukyat.

“Kalau wujudulhilal merupakan kriteria penetapan yang mengharuskan melihat wujud hilal (bulan,red) tersebut. Sedangkan imkanurukyat itu terhitung minimal konjungsian terjadi 8 jam sebelum matahari tenggelam, lalu ketinggian hilalnya minimal dua derajat, jarak antara busur matahari dengan hilal itu minimal 2 derajat jarak dari ufuk,” papar Machasin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kemenag RI dipimpin langsung Machasin menggelar sidang Istbat penetapan awal Dzulhijjah 1436 Hijriah pada Ahad, (13/09/2015) malam, didampingi Prof. Dr. Khuzaimah T. Yanggo (Ketua MUI Pusat) dan Dr. Mukhtar Ali (Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag RI) menetapkan 1 Dzulhijjah 1436 H jatuh pada Selasa, 15 September 2015.

Sementara itu, Prof. Dr. Khuzaimah T. Yanggo menuturkan dalam fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004, disebutkan bahwa penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah berdasarkan hisab dan rukyat. Menurutnya, penetapan Idul Adha antara Arab Saudi dengan Indonesia itu berbeda karena di Arab Saudi harus melihat wukuf Arofahnya, sementara, di Indonesia tidak karena lebih kepada melihat tanggal Dzulhijjahnya.

“Berdasarkan laporan petugas rukyat yang ditugaskan menyampaikan jika ternyata mereka belum melihat hilalnya,” pungkasnya.*

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Din: Selesaikan Dulu Akar Radikalisme yaitu Ketidakadilan Ekonomi, Hukum, Politik, Sosial

Din: Selesaikan Dulu Akar Radikalisme yaitu Ketidakadilan Ekonomi, Hukum, Politik, Sosial

Acara KKEI Dimeriahkan Talkshow dan Expo

Acara KKEI Dimeriahkan Talkshow dan Expo

Ikuti Aksi 55, ⁠⁠⁠Camelia Malik: Hukum Tidak Hanya di Dunia, Tapi Juga di Akhirat

Ikuti Aksi 55, ⁠⁠⁠Camelia Malik: Hukum Tidak Hanya di Dunia, Tapi Juga di Akhirat

Sohibul Berikan 3 Koridor RUU Ciptaker kepada Airlangga

Sohibul Berikan 3 Koridor RUU Ciptaker kepada Airlangga

Guru Agama Jangan Kalah Sama Artis

Guru Agama Jangan Kalah Sama Artis

Baca Juga

Berita Lainnya