Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Tohir Bawazir: Tak Ada Istilah Islam Fundamentalis Dalam Literatur Islam

Achmad Fazeri/Hidcom
Drs. Tohir Bawazir memberikan sambutan pada acara dialog politik dan peluncuran buku "Jalan Tengah Demokrasi Antara Fundamentalisme dan Sekulerisme"
Bagikan:

Hidayatullah.com– Direktur Utama Penerbit Pustaka al-Kautsar, Drs. Tohir Bawazir mengatakan bahwa dalam literatur Islam tidak ada istilah fundamentalis, baik itu di dalam al-Qur’an maupun Hadist.

Justru, tegas Bawazir, istilah fundamentalis datangnya dari barat dan nasrani yang kemudian diadopsi menjadi sebuah istilah Islam fundamentalis.

“Setiap perjuangan politik yang menolak keberadaan partai politik yang menggunakan sistem demokrasi saya anggap fundamentalis,” kata Bawazir saat memberikan sambutan pada acara dialog politik dan peluncuran buku berjudul “Jalan Tengah Demokrasi Antara Fundamentalisme dan Sekulerisme”, di Grand Aila Hotel, Jalan Cikini Raya Jakarta, Selasa (18/08/2015).

Bawazir menuliskan dalam bukunya jika ada 3 model bentuk pemerintahan yang dianggap ideal di kalangan Islam fundamentalis, yaitu pertama negara yang ideal adalah negara khilafah (negara Islam yang tunggal,red).

Kedua, lanjut Bawazir, negara yang ideal adalah yang penting adannya peneggakkan syariah, dan ketiga adanya pandangan bahwa bentuk negara itu nggak penting, tetapi yang paling utama adalah akidah dan tauhid masyarakatnya harus lurus

“Kalau ada 3 model pasti jelas yang 2 salah, nggak mungkin benar semua karena ketiganya berbeda semua. Bisa juga 2 model salah atau ketiganya salah,” papar Bawazir.

Namun, Bawazir menegaskan bahwa dirinya tidak mungkin membenarkan ketiga model tersebut. Sebab, menurutnya, pengikut dari ketiga model itu saling menyalahkan satu sama lainnya.

“Dari yang 3 itu, 1 menyalahkan yang 2 atau yang 2 itu menyalahkan yang 1 dan seterusnya. Itu kan muter terus jadinya,” ujar Bawazir yang juga penulis buku “Jalan Tengah Demokrasi Antara Fundamentalisme dan Sekulerisme”.

Dalam al-Quran, kata Bawazir, yang justru ada istilah namanya ghulu atau berlebih lebihan maupun esktrims. Dan maknanya pun negatif, sebab al-Quran itu mengecam yang namanya perbuatan ghulu dalam beragama.

“Jadi, saya lebih suka sebut fundamentalis karena agak lebih soft dibanding dengan ghulu atau berlebih-lebihan atau ekstrims itu,” pungkas Bawazir.*

Selaku penyelenggara acara diskusi dan launching itu, Penerbit Pustaka al-Kautsar menghadirkan dua pembicara sekaligus yaitu DR. Adian Husaini (Cendekiawan Muda Muslim Indonesia) dan KH. Cholil Ridwan (Ketua Bidang Budaya MUI Pusat dan Founder Pengajian Politik Islam).

Hadir dalam acara tersebut para tokoh seperti Ahmad Farid Okbah (MIUMI), Amin Jamaluddin (Penulis Buku), Hartono Amin Jaiz (Pakar dan Peneliti Aliran Sesat), Evi Afrizal Sinaro (Ketua IKAPI DKI Jakarta), Muhammad Al-Khaththath (Sekjen Forum Umat Islam) dan lain sebagainya.*

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Achmad Fazeri

Bagikan:

Berita Terkait

Setujui RS Siloam, DPRD Padang Banjir Kecaman

Setujui RS Siloam, DPRD Padang Banjir Kecaman

UGM Teliti Metode HoBI

UGM Teliti Metode HoBI

Hidayatullah Batal Ganti Nama Jabatan Pemimpin Umum

Hidayatullah Batal Ganti Nama Jabatan Pemimpin Umum

Gubernur NTB Instruksikan ASN Wajib Shalat Fardhu Berjamaah

Gubernur NTB Instruksikan ASN Wajib Shalat Fardhu Berjamaah

300 Santri Papua Ikut Meriahkan Panggung Parade Tauhid Indonesia

300 Santri Papua Ikut Meriahkan Panggung Parade Tauhid Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya