Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Umat Islam Harus Merdeka dari Penjajahan Hawa Nafsu

Rektor UNIKA Dr Ending Bahrudin
Bagikan:

Hidayatullah.com–Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Dr. H. Ending Bahruddin menyerukan setiap umat Islam agar memerdekakan dirinya dari penjajahan hawa nafsu. Dengan kemerdekaan jiwa, kemerdekaan di bidang lain akan menyusul dengan sendirinya.

Hal itu dikatakan Ending dalam khutbah Jumat di hadapan sivitas akademik UIKA di masjid al-Hijri II, Bogor (Jumat, 14/8/15).

“Jangan terbuai dengan euforia peringatan hari kemerdekaan bangsa Indonesia, sedang orang itu masih terjajah oleh hawa nafsunya,” jelas Ending.

Sebagai contoh, lanjut Ending, ada seorang penggembala yang diuji oleh sahabat Nabi Muhammad. Sahabat tersebut menyuruh anak itu menjual seekor kambing yang sedang digembala. Karena merasa bukan pemilik gembala, anak itu menolak tawaran sahabat. Berkali-kali dibujuk, rupanya sang penggembala teguh dengan pendiriannya.

Ia berkomitmen tidak menjual seekor pun gembalanya tanpa seizin pemilik binatang. Akhirnya rayuan sahabat terhenti setelah penggembala itu menjawab, kalau begitu lalu di mana Allah berada?

Kisah di atas, masih lanjut Ending dalam khutbahnya, hendaknya menjadi cermin dan refleksi seluruh umat Islam dalam memaknai hari kemerdekaan Indonesia. Bahwa ada jihad besar yang harus ditaklukkan sebelumnya jika ingin memperoleh kemerdekaan yang hakiki. Yaitu memerdekakan jiwa dari belenggu penjajahan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah musuh terbesar yang harus ditaklukkan terlebih dahulu.

“Kemerdekaan yang hakiki bisa diraih jika orang tersebut mampu menguasai hatinya dari godaan hawa nafsu,” papar Ending menerangkan.

Dalam hal ini, Nabi mengingatkan tentang peran hati sebagai segumpal daging yang menentukan amal perbuatan setiap manusia.  Jiwa yang bersih adalah hati yang selalu menuruti panggilan keimanannya. Ia merdeka dari godaan hawa nafsu dan selalu  memancarkan akhlak yang terpuji.

“Jika hati seseorang bersih niscaya perbuatannya bisa terjaga dan tidak akan merugikan orang lain,” ungkap Ending.

Ibarat sebatang pohon, semakin pohon itu tinggi maka angin yang menerpanya kian kencang pula. Semakin besar volume keimanan yang dipunyai seseorang niscaya kian besar pula tantangan hawa nafsu yang dihadapi. Namun ketika ia berhasil melewati godaan tersebut, maka bukan hanya jiwanya yang merdeka. Tapi ia juga layak mendapatkan kemerdekaan selainnya.

“Kemerdekaan jiwa dari belenggu hawa nafsu adalah awal dari kemerdekaan fisik lainnya,” ujar Ending menerangkan. “Selanjutnya akan lahir kemerdekaan pendidikan, kemerdekaan ekonomi, kemerdekaan hukum, kemerdekaan politik, dan sebagainya,” imbuh Ending menutup.*/Masykur Abu Jaulah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

DPR Ribut SKB, Menag Setuju Jadi UU

DPR Ribut SKB, Menag Setuju Jadi UU

SBY Rayakan Kemenangan, Pro PDI-P Bakar Ban

SBY Rayakan Kemenangan, Pro PDI-P Bakar Ban

Kominfo Akan Tutup Portal Tukang “Kopas” Berita

Kominfo Akan Tutup Portal Tukang “Kopas” Berita

Politisi PPP Nilai Kasus Penistaan Agama oleh Ahok Kasus Sederhana, tak Perlu Dibuat Gaduh

Politisi PPP Nilai Kasus Penistaan Agama oleh Ahok Kasus Sederhana, tak Perlu Dibuat Gaduh

MUI Apresiasi BNN, Minta Usut Tuntas Kasus Pil PCC

MUI Apresiasi BNN, Minta Usut Tuntas Kasus Pil PCC

Baca Juga

Berita Lainnya