Senin, 25 Oktober 2021 / 18 Rabiul Awwal 1443 H

Nasional

KPI: Banyak Kekerasan dan Pornografi, Anak Dinilai Belum “Merdeka”

ilustrasi
Bagikan:

Hidayatullah.com–Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti banyaknya pelanggaran anak yang mengakibatkan anak belum “merdeka”.

Beberapa hal seperti eksploitasi anak, kesalahan pola asuh, pendidikan yang sarat dengan aksi kekerasan, pornografi, rokok, mainan yang mengandung zat berbahaya dan kampanye politik di jalanan, menjadi hal penting yang harus diatasi bersama oleh masyarakat.

Dalam hal eksploitasi, KPAI menyoroti masih maraknya anak-anak yang dipekerjakan sebagai pengemis dan pekerja seks komersial. KPAI memiliki catatan terkait tingginya kasus perdagangan manusia yang melibatkan anak-anak.

“Kemerdekaan ini menjadi slogan saja, apalagi jika dikaitkan dengan penyelenggaraan perlindungan anak. Menurut catatan KPAI, beberapa hal yang masih kontraproduktif dengan spirit kemerdekaan di antaranya masih banyak anak yang menjadi pengemis, peminta-minta, korban  jasa eksploitasi seksual karena dipaksa oleh orang dewasa,” ujar komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Susanto Nawa di kantor KPAI Jakarta, pada Kamis (13/08/2015).

Menurutnya, anak yang dieksploitasi ini tidak mampu untuk memberi perlawanan. Bahkan, mereka yang sudah terlanjut masuk dalam perangkap sindikat kejahatan, sulit untuk menghindar dan menentang.

“Sudah tugas kita untuk memerdekakan anak-anak yang menjadi korban sindikat kejahatan,” tegasnya.

Hal lain yang tidak kalah urgennya adalah kesalahan pola asuh anak. Akibat kesalahan itu, menurutnya, anak hidup dalam tekanan kekerasan orang dewasa. Alasan yang sering diberikan adalah untuk mendidik anak agar tidak manja di kemudian hari.

Menurut Susanto, KPAI tidak bisa menerima alasan demikian, karena metode pengajaran kepada anak tidak boleh berdasarkan aksi kekerasan yang mengakibatkan anak trauma dan sakit.

“Kekerasan ini tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah. Tidak sedikit anak menjadi korban sistem sekolah yang sarat dengan aksi kekerasan dan senioritas. Anak yang menjadi murid junior tidak kuasa melindungi dirinya. Ini tentu menjadi budaya primitif dengan dalih masa orientasi siswa,” jelasnya.

Pornografi dan rokok juga menjadi ancaman besar bagi tumbuh kembang anak. Kedua hal tersebut menimbulkan ketagihan pada diri anak yang tentunya akan melahirkan hal negatif di kemudian hari.

“Masih banyak anak yang menjadi korban tontonan pornografi, kekerasan, konflik, bahkan kejahatan. Kondisi tontonan demikian, harus dihapus, untuk kepentingan terbaik mereka,” ujarnya.

Hal lain yang disoroti KPAI adalah kampanye politik yang sebentar lagi akan marak di Pilkada Serentak. Menurut Susanto, melibatkan anak dalam kampanye adalah pelanggaran terhadap UU dan mengancam keselamatan mereka.

“Keselamatan anak terancam ketika mereka diajak kampanye politik dengan motor dan mobil bak terbuka di jalan raya,” jelasnya.

Terkait dengan mainan yang mengandung zat berbahaya, KPAI masih menemukan banyak dijual bebas. Pemerintah sudah memberi peringatan kepada masyarakat untuk berhati-hati dengan mainan berbahaya karena zat yang dikandungnya akan meracuni anak.

“Seruan untuk berhati-hati terhadap mainan yang mengandung zat berbahaya sudah kita lakukan.  Anak jangan sampai menjadi korban bisnis  yang hanya  berorientasi profit,” tegasnya.

Susanto berharap momentum kemerdekaan ini harus menjadi pemicu untuk memerdekakan anak sekaligus menjadikan anak sebagai arus utama pembangunan. *

Rep: Anton R
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ketua MUI: Masyarakat Harus Terimanya Siapapun Kapolrinya

Ketua MUI: Masyarakat Harus Terimanya Siapapun Kapolrinya

DPR RI Komisi IV

Peraturan Turunan UU Cipta Kerja Kelar, Ini Daftar Lengkapnya

Meski Dicap Murtad, Adam Tidak Kafirkan LDII/Islam Jamaah

Meski Dicap Murtad, Adam Tidak Kafirkan LDII/Islam Jamaah

Pejudo Tunanetra Kukuh Berjilbab Dihadiahi Umrah dan 212 Award

Pejudo Tunanetra Kukuh Berjilbab Dihadiahi Umrah dan 212 Award

Polda Jatim Akui Mukhlis Resedivis

Polda Jatim Akui Mukhlis Resedivis

Baca Juga

Berita Lainnya