Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

SNH Advokasi Center: Pelaku Pelarangan Ibadah Dan Pembakaran Masjid Tolikara Papua Harus Dihukum

Bagikan:

snh

Hidayatulah.com- Pelarangan Ibadah Sholat Idul Fitri yang dilanjutkan dengan perusakan dan pembakaran masjid oleh sekelompok orang di Karubaga Kabupaten Tolikara, Papua pada Jum’at pagi (17/7) dinilai telah merusak tatanan kehidupan umat beragama di Indonesia.

Dalam pasal 28 E ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 dan Pasal 22 UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, sudah secara tegas memberikan jaminan kebebasan bagi setiap warga negara untuk memeluk agama dan beribadat menurut agamanya tersebut.

“Tidak hanya itu, tindakan brutal sekelompok orang tersebut juga menyisakan persoalan hukum yang harus segera dituntaskan oleh kepolisian,” kata Sekretaris Jenderal SNH Advokacy Center, Harry Kurniawan dalam rilisnya kepada hidayatulah.com.

Harry mengatakan bahwa pelarangan dan perusakan rumah ibadah merupakan kejahatan yang dapat dihukum berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (“KUHP”). Menurutnya, ketentuan Pasal 156 a KUHP yang dihubungkan dengan Pasal 4 Penetapan Presiden No.1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, telah mengatur secara jelas bahwa segala bentuk penodaan terhadap agama di Indonesia dapat diancam hukuman penjara. Begitupula, perbuatan melarang, merintangi, atau menghalang-halangi segala bentuk upacara keagamaan juga dapat dihukum menurut ketentuan Pasal

“Untuk kejahatan Pasal 156a KUHP diancam hukuman penjara 5 tahun, sementara untuk kejahatan Pasal 175 diancam hukuman penjara 1 tahun 4 bulan”, ujarnya.

Menurut Harry, Pasal 406 KUHP juga dapat diterapkan dalam kasus ini karena sekelompok orang tersebut juga melakukan tindakan perusakan dan pembakaran terhadap masjid dan kios-kios milik warga yang berada di sekitar tempat pelaksanaan Sholat Idul Fitri. Berdasarkan ketentuan Pasal 406 KUHP,  segala bentuk penghancuran dan perusakan barang milik orang lain secara sengaja dan melawan hukum hingga barang tersebut tidak dapat dipakai lagi, diancam hukuman penjara selama 2 tahun 8 bulan.

Ia menambahkan, kejadian pelarangan ibadah disertai pembakaran masjid di Tolikara- Papua ini merupakan kasus yang sensitif yang harus segera diselesaikan secara serius oleh pemerintah dan aparat kepolisian. Ia menyesalkan kejadian ini dan mengingatkan bahwa kasus ini akan meluas seperti  peristiwa tahun 1998 yang terjadi di Ambon apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Dalam kasus ini, tindakan hukum yang tegas, cepat, dan tepat harus segera diambil oleh aparat kepolisian untuk meredam dampak dari peristiwa tersebut yang bisa meluas ke wilayah lain. Proses hukum terhadap kasus pelarangan sholat Idul Fitri dan perusakan masjid beserta kios-kios di Tolikara harus segera dituntaskan agar nantinya kejadian ini tidak menjadi “duri dalam daging”.

“Kasus ini harus dituntaskan setuntas-tuntasnya dan para pelakunya harus segera ditangkap dan dihukum sesuai perbuatannya”, pungkas Harry.*

Rep: Muhammad
Editor: Huda Ridwan

Bagikan:

Berita Terkait

MUI Dukung Anies Tutup Semua Tempat Hiburan Berpraktik Prostitusi

MUI Dukung Anies Tutup Semua Tempat Hiburan Berpraktik Prostitusi

Pemerintah Disebut Sudah Berkali-kali ‘Mengulur’ Pemberhentian Sementara Ahok

Pemerintah Disebut Sudah Berkali-kali ‘Mengulur’ Pemberhentian Sementara Ahok

MUHSIN Jabar Gelar Budaya Indonesia Iran

MUHSIN Jabar Gelar Budaya Indonesia Iran

Warga Aceh Peringati 8 Tahun Tsunami Jepang, Pakai Kimono Berjilbab

Warga Aceh Peringati 8 Tahun Tsunami Jepang, Pakai Kimono Berjilbab

Beberapa Jam Dibebaskan,  Alfian Tanjung Ditangkap Lagi

Beberapa Jam Dibebaskan, Alfian Tanjung Ditangkap Lagi

Baca Juga

Berita Lainnya