Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Empat Hal Yang Harus Dipersiapkan Menyambut Ramadhan

soloraya.com
Tadarus di Bulan Ramadhan (ilustrasi)
Bagikan:

Hidayatullah.com– Persiapan yang harus dilakukan oleh seorang muslim menjelang bulan Ramadhan di antaranya seperti persiapan intelektual, mental, spiritual dan fisik.

Demikian pernyataan disampaikan Pendiri Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center, Ustad Bachtiar Nasir usai acara launching program spesial Ramadhan AQL Islamic Center 1436 Hijriyah di Sekretariat AQL Islamic Center Jalan Tebet Utara, Jakarta, Jum’at (12/06/2015).

Bachtiar mengatakan persiapan intelektual di sini maksudnya adalah jangan sampai seorang muslim berpuasa tetapi tidak mengerti ilmunya.

“Jangan sampai kita sahur tetapi tidak mengerti ilmunya, jangan sampai lailatul qodar tetapi tidak mengerti ilmunya, jangan sampai i’tikaf tetapi tidak mengerti ilmunya dan seterusnya. Persiapan intelektual seperti ini wajib karena prinsipnya al-Ilmu qoblal amal (berilmu sebelum beramal),” ujar Bachtiar yang juga Sekretaris Jenderal Majelis Inelektual dan Ulama Muda Indonesia.

Menurut Bachtiar yang paling dibutuhkan saat bulan Ramadhan adalah persiapan mental. Sebab, syaitan tidak akan membiarkan seorang muslim menjadi pribadi yang baik manakala telah bertaubat di bulan Ramadhan. Sementara itu, di luar bulan Ramadhan syaitan berupaya membentuk kebiasaan yang buruk dalam diri seorang muslim.

“Nah, mana mungkin syaitan akan rela setelah seorang muslim bertaubat di bulan Ramadhan terus menjadi pribadi yang baik,” cetus Bachtiar.

Karena itu Bachtiar menegaskan kalau seorang muslim tidak melawan mental-mental jahiliyah syahwatiyah sejak sebelum Ramadhan tiba maka kemungkinan besar di bulan Ramadhan kebiasaan-kebiasaan buruk akan tetap melekat dalam diri seorang muslim.

“Kita tetap menjadi tukang tidur, lalai membaca al-qur’an, masih malas qiyamul lail, takut bersedekah dan sebagainya. Jadi mental juang itu sudah harus dipersiapkan sejak sebelum ramadhan datang. Sebagaimana seperti persiapan mental umat Islam menghadapi perang Badar maupun Fahthul Makkah di bulan Ramadhan,” ujar Bachtiar.

Untuk persiapan spiritual, Bachtiar menyebutnya sebagai persiapan imaniyah atau ruhiyah yang tidak boleh dilupakan karena paling penting dari semua persiapan lainnya.

“Misalnya, mempersiakan diri untuk bisa menahan nafsu dari setiap yang membatalkan puasa dari terbit hingga terbenamnya matahari, berdzikir sebanyak-banyaknya waktu pagi dan petang, tilawah qur’an di pertengahan siang dan malam, murojaah hafalan qur’an sambil mengurangi kesibukan-kesibukan yang mengurangi spiritualitas keimanan dan seterusnya. Semua itu butuh konsentrasi spiritual yang harus benar-benar dipersiapkan,” jelas Bachtiar.

Bachtiar menambahkan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah riwayat, “Beruntunglah mereka yang sudah siap ruhiyahnya di bulan Sya’ban karena mereka akan beruntung ketika bulan Ramadhan”.

Dan yang tidak kalah pentingnya, lanjut Bachtiar, adalah persiapan fisik seperti pola tidur, pola makan, maupun menjaga kondisi tubuh dengan berolahraga. Jadi, ritmenya itu harus menyesuaikan waktu yang sudah Allah atur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

“Misalnya saat berbuka dalam sebuah riwayah dikatakan ‘Berbukalah dengan tamr kalau tidak ada maka berbukalah dengan seteguk air’. Nah, berbuka puasa itu target utamanya bukan mengenyangkan perut tetapi tohur (bersih) yaitu membersihkan tenggorokan dan pencernaan. Ini tadabur hadistnya. Jadi kalau pola makanan bermula dari tohur pasti kalau nggak tamr yah seteguk air, karena itu tohurnya dulu yang paling penting tidak seperti sekarang yang kebanyakan mengutamakan nutrisi dulu,” papar Bachtiar.

Sementara itu, imbuh Bachtiar, untuk pola tidurnya jika kembali kepada surat al-Muzamil ayat 20, harusnya seorang muslim itu bangun dua pertiga malam, paling lambat setengah malam dan jika sudah sangat mepet-mepetnya sepertiga malam untuk qiyamul lail.

“Selain itu, jika dikembalikan pada surat al-Muzamil itu, bagaimana pun kondisi kita, baik sedang sakit, berbisnis, mudik lebaran, atau bahkan sedang dalam berperang sekalipun, maka kita harus membaca dan muroja’ah hafalan al-Qur’an minimal surat-surat yang sudah kita hafal,” pungkas Bachtiar.*

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Terkait Al-Maidah 51, PP Muhammadiyah: Menyampaikan Ajaran Agama Kewajiban

Terkait Al-Maidah 51, PP Muhammadiyah: Menyampaikan Ajaran Agama Kewajiban

Pemalsuan Buku Nikah

Peraturan Baru, Tarif Menikah Bisa Sampai Rp 600 Ribu

IPNU Kembali ke Basis Pelajar

IPNU Kembali ke Basis Pelajar

Perayaan Tahun Baru, 8 Warga di Bali Kena Petasan Masuk Rumah Sakit

Perayaan Tahun Baru, 8 Warga di Bali Kena Petasan Masuk Rumah Sakit

Hadapi Kerusakan Peradaban, 100 Tokoh Dunia akan Bertemu di Jakarta

Hadapi Kerusakan Peradaban, 100 Tokoh Dunia akan Bertemu di Jakarta

Baca Juga

Berita Lainnya