Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Soal Penghilangan Gelar Khalifatullah, Pengamat: Ada Pengaruh Pluralisme

globalindo
Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menguncapkan Sabda Tama di Siti Hinggil, Keraton Yogyakarta. Beberapa sabda Raja yang diucapkan Sri Sultan yakni, menghapus gelar Khalifatullah dan megukuhkan GKR Pambayun sebagai Putri Mahkota
Bagikan:

Hidayatullah.com-Pemerhati sejarah Jawa dan Islam Susiyanto merasa prihatin penghilangan gelar Khalifatullah dalam gelar kesultanan, di Siti Hinggil Kraton Ngayogyakarta.

Susiyanto menilai, penghilangan ini nampaknya mulai ada pengaruh paham liberalisme dan pluralisme agama dalam pemikiran Sultan Hamengkubuwono X.

Pernyataan itu Susiyanto sampaikan menanggapi salah satu isi Sabda Raja yang telah diucapkan oleh Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono X terkait penghilangan gelar Khalifatullah dalam gelar kesultanan, di Siti Hinggil Kraton, Kamis (30/04/2015).

“Saya sebenarnya prihatin, akhir-akhir ini memang ada beberapa hal yang bersifat negatif berkaitan dengan Islam dari keraton Yogyakarta, terutama pemikiran sultannnya yang agaknya mulai terpengaruh oleh pluralisme agama, dibadingkan untuk mengikuti leluhur- leluhurnya yang memiliki kedekatan dengan Islam,” kata Susiyanto kepada hidayatullah.com saat dihubungi, Kamis (07/05/2015) pagi.

Dari pihak kerajaan sendiri, kata Susiyanto, sebagaimana perkembangan yang ia ikuti, sebenarnya Sultan pada saat itu ingin mengangkat putri atau anak perempuannya sebagai putra mahkota. Karena gelar khalifah tidak mungkin diwarisi oleh anak perempuan, maka, lanjutnya, dilepaslah gelar (khalifatullah) tersebut.

“Sejak Hamengkubuwono III di lingkungan kraton itu kedekatan sultan dengan Islam masih cukup kental. Cuma Hamengkubuwono setelah-setelah itu kedekatannnya dengan Islam agak berkurang,” kata Susiyanto Sekretaris Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Solo Raya ini.

Kraton sendiri sebetulnya sudah berupaya meluruskan bahwa kraton itu merupakan kesultanan Islam. Misalnya, saat zaman perang Diponegoro, tepatnya pasca perang itu kepercayaan rakyat terhadap kraton menurun saat itu. Kemudian, lanjutnya, kraton mengeluarkan karya sastra bernama suryo rojo, yaitu cerita fiktif yang di dalamnya memuat cerita Islam.

“Karya fiktif ini dibuat dalam rangka untuk mendekati kalangan santri dan ulama pada saat itu. Jadi, sebenarnya dari pihak kraton sendiri ada upaya untuk lebih mendekati Islam dengan menggunkan medium-medium budaya seperti itu,” pungkas penulis buku “Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa” (2010) ini.*

Rep: Achmad Fazeri
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pemerintah Sosialisasikan “Tatanan Normal Baru” Meski Pandemi Belum Usai

Pemerintah Sosialisasikan “Tatanan Normal Baru” Meski Pandemi Belum Usai

Pemerintah Indonesia Dinilai Panik Merespons Krisis Lira

Pemerintah Indonesia Dinilai Panik Merespons Krisis Lira

Janji Blokir Situs Porno, Hanya Isapan Jempol  Menkoinfo?

Janji Blokir Situs Porno, Hanya Isapan Jempol Menkoinfo?

Banyak Produk di Sumbar Belum Bersertifikat Halal

Banyak Produk di Sumbar Belum Bersertifikat Halal

Anies Sebutkan Inspirasi Kepemimpinan Nabi

Anies Sebutkan Inspirasi Kepemimpinan Nabi

Baca Juga

Berita Lainnya