Senin, 20 September 2021 / 12 Safar 1443 H

Nasional

Jurnalistik Tidak Netral, Wartawan Muslim Tidak Boleh Melepas Agamanya

Dr Adian Husaini saat berdiskusi dengan pengelola media Islam di Malang
Bagikan:

Hidayatullah.com– Kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkan peristiwa atau akrab disebut jurnalistik bukanlah pekerjaan yang netral.  Apalagi jika dilepaskan dari rambu-rambu agamanya.

Demikian salah satu paparan Dr. Adian Husaini saat berdiskui dengan para jurnalis Muslim di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya Malang.

Adian yang berpengalaman puluhan tahun malang-melintang di dunia jurnalistik juga mengatakan, patokan bagi jurnalis yang mengaku Muslim bukanlah benar dan salah, tetapi halal-haram dan haq dan bathil.

“Patokan jurnalistik dalam Islam itu adalah halal dan haram. Harus jelas, mana yang halal dan mana yang haram. Yang halal kita dukung, dan yang haram kita tolak sesuai aturan Islam. tidak ada jurnalistik yang bebas nilai,” terang Kepala Program Studi Pendidikan Islam Program Pascasarjana UIKA Bogor ini dalam temu akrab jurnalis Muslim yang diadakan oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Cabang Malang itu Senin (16/03/ 2015)

Adian berpesan agar penulis dan jurnalis Muslim selalu idealis, alias tetap memegang teguh agama kita dalam bekerja, tidak terpengaruh oleh banyaknya tindakan yang menyeleweng dari rekan kerja kita, walaupun itu akan membuat kita dijauhi.

“Idealisme dalam perjuangan membela Islam lewat pena akan sangat membantu dalam perjalanan di masa-masa mendatang, meski pun terasa pahit”, tambahnya.

Jihad di Jalan Allah

Karena itu, menurut Adian, perjuangan lewat dunia jurnalistik merupakan jihad. Jihadnya disebut sebagai jihad bil qalam, berjuang lewat pena.

Dalam kesempatan itu, Adian memberi motivasi kepada penulis agar meneladani para ulama yang produktif dalam menelurkan karya.

“Ada seorang ulama yang istiqamah menulis. Sampai ketika sang ulama dalam kondisi sakaratul maut masih sempat meminta kepada muridnya untuk mengambilkan pena guna menulis”, pungkasnya.

“Seorang wartawan Islam harus meluruskan niatnya dalam mencari berita dan menyampaikan, yaitu meniatkan karena Allah Subhanahu Wata’ala,” demikian pesan Adian dalam diskusi tersebut.*/Aditya Arga (Malang)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Presiden Harapkan Muhammadiyah Jadi Motor Perbaruan Bangsa

Presiden Harapkan Muhammadiyah Jadi Motor Perbaruan Bangsa

DPR Sambut Positif Masuknya Beberapa Maskapai Haji

DPR Sambut Positif Masuknya Beberapa Maskapai Haji

Cak Anam: NU Jadi Tumbal Kekuasaan

Cak Anam: NU Jadi Tumbal Kekuasaan

Pilkada DKI, Para Jawara-Pengacara “Bang Japar” Awasi Tiap TPS secara Resmi

Pilkada DKI, Para Jawara-Pengacara “Bang Japar” Awasi Tiap TPS secara Resmi

Dirjen Kebudayaan Terbitkan Buku ‘Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia’

Dirjen Kebudayaan Terbitkan Buku ‘Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia’

Baca Juga

Berita Lainnya