Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

IPM Nilai Pemerintah Tak Serius Hadapi MEA 2015

Bagikan:

Hidayatullah.com—Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menilai pemerintah kurang serius menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Pernyataan ini disampaikan Eko Adriyanto, Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar muhammadiyah, Bidang Kewirausahaan.

“Ada empat faktor yang membuat daya saing Indonesia masih dibawah rata-rata Negara pesaing dikawasan ASEAN. Yaitu, kinerja logistik, tarif pajak, suku bunga Bank, serta produktivitas tenaga kerja. Untuk bersaing Indonesia memerlukan peningkatan kapasitas produksi yang bernilai tambah melalui investasi,” demikian ujarnya dalam rilisnya pada hidayatullah.com.

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Palembang ini menambahkan, dalam produk industri tertentu Indonesia memang masih dianggap masih memiliki keunggulan terhadap Negara tetangga.

Namun disektor industri jasa, Indonesia dipandang masih kalah dengan Negara ASEAN lainnya. Sejumlah tantangan juga masih dihadapi sektor industri dalam negeri, seperti gejolak upah minimum, kepastian hukum, praktik ekonomi biaya tinggi dipelabuhan maupun jalan raya.

Berdasarkan kajian yang dirilis oleh Sekretariat ASEAN, kata Eko, Thailand menjadi Negara yang paling siap menghadapi implementasi Pasar Tunggal ASEAN 2015, dengan tingkat kesiapan 84,6 persen, disusul Malaysia dan laos 84,3 persen, Singapura 84 persen, dan kamboja 82 persen. Sedangan skor kesiapan Indonesia adalah 81,3 persen alias diurutan ke-6.

Posisi Indonesia dalam perdagangan Intraregional ASEAN saat ini juga belum optimal. Total ekspor Indonesia ke Negara-negara ASEAN masih di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand.

Mahasiswa pascasarjana Universitas Mercubuana ini berharap, perlu adanya midset bahwa “ASEAN adalah pasar Indonesia” dan “Think ASEAN”. Serta perlu peran aktif pemerintah untuk mensosialisasikan MEA 2015 ini, didunia usaha, akademisi, media, lembaga non pemerintah dan tentunya pelajar yang merupakan basis Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Dalam hal ini, harus diakui Indonesia sudah kalah langkah.

Thailand sudah punya ASEAN TV, sebuah stasiun televisi yang terus menyiarkan tentang kesiapan Thailand menyambut MEA 2015.
“Pertanyannya sekarang, kenapa media massa kita – mulai dari TVRI, RRI, dan berbagai lembaga penyiaran lainnya tidak didayagunakan maksimal untuk mensosialisasikan MEA? Perlu diingat, MEA bukanlah sekedar forum silaturahmi antar Negara ASEAN, tetapi juga akan menjadi arena persaingan ekonomi,” tambah Eko.*

 

Rep: Anton R
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

SBY: 10 Tahun Saya Memimpin Indonesia, Tak Pernah Rusak Partai Lain

SBY: 10 Tahun Saya Memimpin Indonesia, Tak Pernah Rusak Partai Lain

KLHK: 857.756 Hektare Hutan dan Gambut Terbakar dalam 9 Bulan

KLHK: 857.756 Hektare Hutan dan Gambut Terbakar dalam 9 Bulan

Sejumlah Media Sosial Sempat Down, Sudah Normal?

Sejumlah Media Sosial Sempat Down, Sudah Normal?

Risma: “Allah akan Membimbing Saya”

Risma: “Allah akan Membimbing Saya”

Oknum Anggota AU – Kopassus Bertikai, Anggota DPR Ingatkan Doktrin Tri Dharma

Oknum Anggota AU – Kopassus Bertikai, Anggota DPR Ingatkan Doktrin Tri Dharma

Baca Juga

Berita Lainnya