Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Lima Tahun ke Depan Indonesia Bisa Jadi Pusat Studi Islam Dunia

Dirjen Pendis Prof. Kamaruddin Amin.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kamaruddin Amin merasa yakin Indonesia akan menjadi pusat studi Islam dunia beberapa tahun ke depan.

“Visi Ditjen Pendidikan Islam pun sudah mengarah ke sana. Konsepnya di Pendis sudah ada, di antaranya program 50.000 doktor, 10.000 hafiz, santri berprestasi dan sejumlah program strategis di Ditjen Pendis lainnya,” katanya di Jakarta, Selasa (30/12/2014).

Mengenai target implementasinya, Kamaruddin mengatakan, membutuhkan waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan. “Mungkin butuh satu atau dua RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional),” katanya.

Sebelumnya, Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI), Mahfud MD usai bertemu Wapres Jusuf Kalla, Senin (29/12/2014), mewacanakan menjadikan Indonesia sebagai pusat pemikiran Islam. Mahfud bahkan mewacanakan tak perlu belajar Islam di Timur Tengah.

“Masa kita belajar Islam harus di Timur Tengah, sementara Timur Tengah sendiri tidak bisa memberi, menjadi contoh yang baik, pertikaian, pembunuhan terjadi di sana,” katanya.

Masih menurut Mahfud, Indonesia berhasil mengembangkan Islam yang lebih rasional dan moderat sehingga pemikiran Islam seharusnya bisa lebih berkembang di sini.

Terkait ini, Kamaruddin Amin mengatakan, apa yang disampaikan Mahfud MD bukan merupakan hal baru, karena Ditjen Pendis sudah merencanakannya sejak lama.

Meski demikian, Kamaruddin mengatakan bahwa Timur Tengah masih sangat penting untuk menjadi tujuan belajar. Di samping memiliki distingsi yang dapat memperkaya khazanah keislaman Indonesia, lanjut Kamaruddin, Timur Tengah juga masih menjadi simbol Islam salaf al-salih yang terlalu penting untuk diabaikan.

“Menjadikannya rujukan mutlak tidak tepat, tetapi mengabaikannya sama sekali juga tidak benar,” tegas pria yang juga Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini.

Kamaruddin mengaku bahwa pemikiran Islam Timur Tengah juga sangat variatif, tidak selalu radikal, dan itu tergantung negaranya. Mesir misalnya, beda dengan Saudi dan juga Maroko.

“Overall, distingsi Timur Tengah adalah kekayaan materi keilmuannya. Rasanya juga naif kalau realitas sosio politik Timur Tengah yang kurang demokratis sepenuhnya dituduhkan kepada pemikiran keislamannya. Tentu faktornya sangat multidimensional,” ujar Kamaruddin.

Selain itu, pengembangan pendidikan Islam juga harus mempertahankan tradisi keagamaan pada masa Sahabat dan Tabiin sebagai rujukan nilai dalam kehidupan. “Ilmu tentang hal itu penting dan Timur Tengah kuat untuk itu,” katanya.*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Prof.   Didin Hafidhuddin: Ramadhan Harus Jadi Bulan Tarbiyah

Prof. Didin Hafidhuddin: Ramadhan Harus Jadi Bulan Tarbiyah

Kak Seto LPAI Menaruh Perhatian Terhadap Anak-anak Keluarga Habib Rizieq

Kak Seto LPAI Menaruh Perhatian Terhadap Anak-anak Keluarga Habib Rizieq

Generasi Milenial harus Dapat Perhatian Serius

Generasi Milenial harus Dapat Perhatian Serius

Lima Dari Tujuh Orang Tim Pembuat DSM Adalah Homo dan Lesbian

Lima Dari Tujuh Orang Tim Pembuat DSM Adalah Homo dan Lesbian

Sejumlah Aktivis Islam di Jawa Timur Dilaporkan Hilang

Sejumlah Aktivis Islam di Jawa Timur Dilaporkan Hilang

Baca Juga

Berita Lainnya