Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Wakil Rektor Universitas Al Quran Sudan: Gelar Syahid Pertama Dalam Islam Direbut Wanita

Bagikan:

Hidayatullah.com–Sejak awal kedatangannya, Islam telah memuliakan wanita. Bahkan manusia yang pertama menyicipi kemuliaan Islam juga seorang wanita, yaitu bunda Khadijah. Termasuk gelar syahid yang pertama direbut oleh Sumayyah, ibunda dari sahabat Ammar bin Yasir.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Ahmad Said Salman, Wakil Rektor University of The Holy Qur’an and Islamic Science (UHQIS), Sudan ketika menyampaikan Kuliah Umum di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri, Balikpapan, Selasa (23/12/2014) kemarin.

Dalam ceramahnya di hadapan 170 orang mahasiswi STIS, Syeikh Ahmad Said, demikian panggilan akrabnya, menyebutkan, seorang Muslimah memiliki peran istimewa dalam membangun peradaban Islam.

Meski secara fisik terlihat lemah, tapi sesungguhnya wanita-wanita Muslimah itulah yang melahirkan dan mendidik generasi-generasi hebat sebagai pelanjut perjuangan kelak.

“Bukan tanpa alasan jika Khadijah pertama kali yang meyakini ajaran yang disampaikan Nabi tersebut,” ungkap Ahmad menjelaskan.

Sebab Nabi ketika itu benar-benar membutuhkan sosok pendamping yang menguatkan dalam mengawali gerakan dakwahnya.

Kesadaran seperti itulah yang hendaknya senantiasa terpatri dalam diri setiap wanita Muslimah, terutama sebagai penuntut ilmu. Sebab kejayaan peradaban Islam hanya bisa diraih dengan dasar ilmu yang benar. Sedang sumber ilmu terbesar tak lain kembali kepada al-Qur’an (back to holy al-Qur’an).

Dalam acara yang digelar di Aula di Lantai II STIS Hidayatullah Putri, Ahmad juga mengingatkan agar tak menjadikan ilmu dan hafalan al-Qur’an sebagai tujuan akhir. Bagi seorang Muslim semua itu hanya sebatas sarana untuk taqarrub (mendekat) kepada Allah.

“Ia dikejar bukan untuk dibanggakan, tapi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

“Nilai-nilai al-Qur’an inilah yang kelak menjadi roda penggerak yang mengatur segala aktivitas manusia. Mulai dari adab kepada diri sendiri, keluarga, teman, guru, tetangga, dan seterusnya. Puncaknya adalah beradab dan berakhlak kepada Allah dalam urusan ibadah.”

Lebih jauh, pria yang juga dikenal kepakarannya di bidang Bahasa Arab tersebut menambahkan, hal mendasar yang wajib dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah senantiasa menghadirkan kebesaran Allah dalam setiap urusan.

Dengannya diharapkan, tumbuh benih-benih takwa sebagai syarat meraih ilmu yang bermanfaat.

“Ilmu itu tak akan berguna jika tidak dilandasi dengan iman dan takwa,” ujarnya mengutip Surah al-Baqarah [2]: 282.

Menurut Ahmad, hal inilah yang membedakan antara peradaban Islam dengan apa yang diusung oleh Barat. Meski Barat mengklaim maju dalam peradaban mereka, tapi sejatinya peradaban tersebut rapuh sebab jauh dari nilai-nilai al-Qur’an. Sedang di saat yang sama, al-Qur’an telah menjanjikan kejayaan peradaban buat umat Islam. Sebab, menurut al-Qur’an, umat Islam adalah umat yang terbaik, jika memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Allah.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor University of The Holy Qur’an and Islamic Science (UHQIS) atau yang dikenal dengan Universitas al-Qur’an ini juga menawarkan kerjasama pendidikan dengan STIS Hidayatullah.

Menurut Ahmad, ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan kerjasama tersebut. Mulai dari peluang lanjut studi di Universitas al-Qur’an bagi mahasiswa dan dosen STIS hingga kerjasama beberapa program pengembangan kedua kampus ke depan.

Tawaran dari Universitas al-Qur’an tersebut langsung mendapat respon positif dari STIS Hidayatullah.

“Alhamdulillah, STIS merasa sangat terhormat bisa bekerjasama dengan Universitas al-Qur’an dan ini adalah berita gembira buat seluruh umat Islam di Indonesia,” pungkas Abdul Ghofar Hadi, Ketua STIS Hidayatullah.

“Insya Allah STIS segera mengurus kelengkapan berkas yang dibutuhkan untuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tersebut,” imbuh Abdul Ghofar kembali.*/Masykur Abu Jaulah

 

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

FPI Aceh Harapkan Ulama jadi Mediator Kekerasan Pemilu di Aceh

FPI Aceh Harapkan Ulama jadi Mediator Kekerasan Pemilu di Aceh

Polda: 3 Orang Terkait Pembakaran Bendera Masih di Polres Garut

Polda: 3 Orang Terkait Pembakaran Bendera Masih di Polres Garut

Kajian Lintas Parpol lahir Karena ‘Kekalahan” Politik umat Islam

Kajian Lintas Parpol lahir Karena ‘Kekalahan” Politik umat Islam

Islamic Book Fair ke-11 Digelar

Islamic Book Fair ke-11 Digelar

MUI: Pemerintah Harus Bersikap Tegas Mengatasi Kasus Pengedaran Narkoba

MUI: Pemerintah Harus Bersikap Tegas Mengatasi Kasus Pengedaran Narkoba

Baca Juga

Berita Lainnya