Selasa, 6 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Nasional

Tak Masuk Kabinet Jokowi, Muhammadiyah Harus Lahirkan Calon Pemimpin Masa Depan

Bagikan:

Hidayatullah.com—Meski pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) tidak mengambil perwakilan Muhammadiyah duduk dalam cabinet, Muhammadiyah, tak perlu kecewa.

Sebagai salah satu Ormas Islam terbesar Indonesia, kader Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan calon pemimpin masa depan sehingga dapat mengisi pos-pos strategis dalam pemerintahan di masa depan, demikain salah satu tokoh muda Muhammadiyah Muchlas Rowie mengatakan.

“Pada pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (JK) belum ada beberapa kader Muhammadiyah secara struktural yang masuk dalam pemerintahan,” kata Muchlas Rowie saat mengisi Latihan Kepemimpinan Nasional yang diselenggaran oleh DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Jakarta, kemarin dikutip Antara.

Praktisi bisnis yang akrab disapa Rowie itu, mengatakan, apabila melihat pada konteks kekininian Muhammadiyah dalam bidang politik belum mempunyai peran yang besar. Terbukti, sangat minimnya kader Muhammadiyah menduduki pos-pos strategi di dalam pemerintahan.

Rowie mengatakan, rekam jejak perjalanan Muhammadiyah dalam mengawal Indonesia, organisasi yang dibentuk oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912 itu mempunyai peran yang sangat diperhitungkan, baik dalam bidang pendidikan, sosial, kesehatan dan bahkan politik.

Menurut Rowie, dalam tradisi Muhammadiyah, Ormas ini tidak terbiasa meminta jabatan. Karena itu, sampai sekarang dinilai masih terkungkung dengan doktrin budaya menunggu.

“Yaitu kita tidak boleh meminta-minta jabatan. Tapi, apabila diberi jabatan kita tidak boleh menolak,” katanya.
Padahal, dalam konteks politik saat seperti saat ini, kekusaan justru direbut dan diperjuangkan.

Oleh karena itu, Rowie mengajak, jajaran Muhammadiyah sudah harus mulai berubah dengan memberikan kepercayaan kepada kader-kader muda, dan mondorong mereka untuk menjadi pemimpin bangsa.

Sebagaimana diketahui, rekam jejak perjalanan Muhammadiyah bagi bangsa Indonesia tak diragukan lagi. Organisasi yang dibentuk oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912 mempunyai peran yang sangat diperhitungkan, baik dalam bidang pendidikan, social, kesehatan bahkan politik.

Di era Soeharto, Muhammadiyah dan NU secara bergantian diberi kesempatan wakilnya masuk kabinet, setidaknya secara bergantian menjadi Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Namun di era Jokowi, tak satupun wakil ormas organisasi ini masuk kabinet.

Meski mengaku sedih, Rowie menyarankan agar pemuda Muhammadiyah memasarkan dan mendorong kader-kader terbaiknya untuk menjadi pemimpin bangsa. Sehingga ketika bangsa ini memanggil, Muhammadiyah sudah mempersiapkannya.

“Saya sangat sedih. Ketika Jokowi meminta menteri kesehatan, Muhammadiyah hanya memunculkan dua nama, dan akhirnya yang terpilih bukan kader Muhammadiyah. Padahal kita mempunyai kader-kader terbaik yang begitu banyak. Sehingga kita tidak mempunyai harga diri,” katanya dikutip jpnn.*

 

 

Rep: Anton R
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Para Saksi Tidak Menguasai Alat Bukti

Para Saksi Tidak Menguasai Alat Bukti

Seusai Diperiksa 10 Jam, Adnin: Apakah Meminjamkan Rekening untuk Umat Islam Salah?

Seusai Diperiksa 10 Jam, Adnin: Apakah Meminjamkan Rekening untuk Umat Islam Salah?

Munarman: RI Menjadi Target Israel

Munarman: RI Menjadi Target Israel

DPR RI: Pemerintah Selandia Baru harus Jamin Keamanan Umat Islam

DPR RI: Pemerintah Selandia Baru harus Jamin Keamanan Umat Islam

PBNU: Presiden Tak Boleh Tunduk Kepentingan Partai

PBNU: Presiden Tak Boleh Tunduk Kepentingan Partai

Baca Juga

Berita Lainnya