Ahad, 17 Januari 2021 / 3 Jumadil Akhir 1442 H

Nasional

Prof Wan Mohd Nor Wan Daud: Mengkritik Barat Bukan Berarti Anti Barat

Bagikan:

Hidayatullah.com—Tidak semua mengkritik Barat bisa disebut anti Barat. Sikap mengkritik Barat karena ada budaya mereka (Barat) yang tak sesuai dengan ajaran syariat Islam.

Hal itu diungkapkan Prof Wan Mohd Nor Wan Daud dalam sebuah acara Kuliah Umum di kampus Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor Selasa, (03/11/2014) lalu.

Dalam kuliah umum bertajuk “Pendidikan Tinggi Berkualitas Dalam Perspektif Islam dan Barat” Prof Wan mengkritik beberapa konsep pendidikan Barat yang dianggapnya menyimpang dari agama Islam.

Benturan yang dimaksud tak lain ketika Barat menegasikan ilmu dan sains dari ruh agama dan nilai spritualitas.

Menurutnya, inilah alasan mendasar mengapa sekularisasi ilmu itu muncul di tengah masyarakat. Meski Barat mengaku terdepan dalam era modern, tapi sejatinya ia rapuh dalam kemajuan dibanggakan itu.

“Excellent without soul,” terang pendiri Center for Advanced Studies on Islam, Sciense and Civilization (CASIS) di Malaysia ini ketika mengungkap kebobrokan kemajuan Barat yang banyak dibanggakan orang.

Dampaknya seorang Muslim yang terinfeksi pemikiran sekuler, ketika ia membaca Al-Qur’an dan Sunnah bukan lagi dengan kaca-mata wahyu tapi dengan pandangan kebaratan. Ibarat orang buta yang menilai seekor gajah. Pandangannya tak akan pernah adil dan sempurna.

Karena itu, konsep Islamic Worldview (cara pandang yang benar) itu penting sebagai landasan berfikir seorang Muslim. “Jika ia tersilap, maka kerangka ilmu juga ikut tersilap. Ujungnya amal ibadah juga jadi tersilap,” ujarnya dengan logat bahasa Melayu yang kental.

Di hadapan 80 orang mahasiswa Pasca Sarjana UIKA, ia menyatakan, di zaman serba modern sekarang, kondisi negara-negara Barat sebenarnya tak jauh beda dengan masa renasains dahulu.

“Ilmu dan perkembangan sains mereka tetap saja seperti dahulu. Jauh dari nilai-nilai moral agama,” sebutnya.

“Bahkan puncaknya, manusia diperlakukan dan dinilai layaknya sebuah pabrik industri. Mereka hanya diukur dengan materi saja,” imbuhnya kembali.

Untuk itu Prof Wan Mohd Nor mengingatkan para mahasiswa dan akademisi lainnya agar berhati-hati dalam berinteraksi dan mengadopsi budaya Barat. Sebab Islam sendiri telah menetapkan konsep tersendiri dalam menuntut ilmu dan membangun peradaban yang diinginkan.

“Jangan menganggap penting semua yang ditawarkan (Barat). Jika sesuai agama silakan ambil, jika tak benar, maka harus ditolak,” ucap murid Prof Dr Fazlur Rahman yang meraih predikat gelar Ph.D dari University of Chicago itu.*

Rep: Masykur Abu Jaulah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Debat Capres-Cawapres Diharapkan Bermutu dan Berkualitas

Debat Capres-Cawapres Diharapkan Bermutu dan Berkualitas

Republika Disomasi, Anggota DPR RI: Pegiat LGBT Sepertinya Kalap

Republika Disomasi, Anggota DPR RI: Pegiat LGBT Sepertinya Kalap

Fahri Hamzah: Kata ‘Kafir’ adalah Terminologi Agama

Fahri Hamzah: Kata ‘Kafir’ adalah Terminologi Agama

DPD: Pemakaian Data Akurat Prasyarat Keberhasilan Pembangunan

DPD: Pemakaian Data Akurat Prasyarat Keberhasilan Pembangunan

Pelajar Tolak Rencana Menkes Mudahkan Kondom

Pelajar Tolak Rencana Menkes Mudahkan Kondom

Baca Juga

Berita Lainnya