Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Idealnya Pemuda Islam Bisa Mengaji Qur’an dan Mengajarkan

Ainuddin Chalik
Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A'la Abdullah.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Seorang pemuda Islam idealnya mampu membaca Al Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah tahsin dan tajwid, serta mengajarkannya kepada orang lain. Namun, faktanya, yang terjadi kondisi sebaliknya. Jangankan pemuda, realitas umat hari ini masih banyak yang buta Al Qur’an.

Demikian ditegaskan Instruktur nasional Grand MBA, Agung Tranajaya, Lc, M.Si, dalam acara Training of Trainer (TOT) Grand MBA – Syabab Hidayatullah di Pusdiklat Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (19/10/2014).

Gerakan Nasional Dakwah Membaca dan Belajar Al Qur’an atau disingkat Grand MBA merupakan program nasional Hidayatullah sebagai metode pilihan pembelajaran Al Qur’an secara tuntas dan sistematis.

Tranajaya mengungkapkan, realitas umat hari ini masih jauh dari nilai-nilai Al Qur’an, bahkan untuk mempelajarinya saja enggan. Salah satu pemicunya diantaranya menganggap belajar Al Qur’an itu susah dan hanya diampu oleh mereka yang berbakat.

“Bisa membaca Qur’an dengan baik dan benar bukan soal bakat atau tidak berbakat. Semua kita bisa baca Qur’an asalkan ada kemauan. Jadi intinya, mau atau tidak, itu saja,” kata Agung Tranajaya.

Agung menilai, banyak orang yang tidak percaya diri (pede) menjadi guru ngaji Al Qur’an. Padahal pekerjaan sebagai guru ngaji merupakan dakwah yang sangat mulia dan disukai oleh Allah Ta’ala, sebagaimana dikutip dari hadits Nabi diriwayatkan Imam Al-Bukhari.

Pandangan negatif terhadap pekerjaan sebagai guru ngaji dipicu juga oleh pengaruh materialisme yang disebarkan melalui berbagai perangkat media. Tidak sedikit orangtua yang lebih mendahulukan mengikutkan anaknya kursus menari, musik, dan les bahasa. Sementara kemampuan baca tulis Al Qur’an berada di prioritas ke sekian.

“Secara tidak sadar remaja dan anak-anak muda kita dijauhkan dari Qur’an dengan hadirnya berbagai macam pemuas kesenangan lahiriyah,” imbuh Agung yang membina puluhan majelis taklim Grand MBA di Jabodetabek ini.

Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah dalam pengarahannya mengingatkan, sesungguhnya tidak ada pekerjaan yang lebih patut disibuki oleh orang beriman selain belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.

Dia menegaskan, hendaknya dalam setiap rutinitas keseharian kita baik seorang santri, mahasiswa, pebisnis, pemimpin, dan sebagainya, ada waktu untuk mempelajari Qur’an dan mengajarkannya. Abdullah pun menyayangkan adanya pertentangan di masyarakat soal apakah guru ngaji boleh menerima imbalan atau tidak.

“Saya justru heran dengan orang seperti ini. Apakah guru ngaji boleh menerima imbalan atau tidak? Seharusnya bukan itu yang dipersoalkan. Wong banyak orang yang di luar sana bicara sembarangan dapat duit kok, ini masa guru ngaji gak boleh dikasih imbalan,” ujarnya.

Namun dia mewanti-wanti tidak boleh meniatkan pekerjaan mengajar ngaji karena uang, maka itu tidak boleh pasang tarif.

“Dalam belajar Al-Qur’an ini tidak usah terburu-buru. Istiqomah saja, jangan tergesa-gesa. Insya Allah akan ada hasilnya. Targetnya adalah Qur’anisasi, yang itu artinya kita harus selalu mendakwahkan Islam. Bergerak secara kuantitas dan bergerak secara kualitas,” imbuh beliau.

Abu A’la mengatakan Grand MBA adalah gerakan ideologis yang digagas oleh Hidayatullah dengan spirit Sistematika Nuzulnya Wahyu (SNW). SNW adalah ruh guna mengajarkan Al Qur’an. Untuk itu dia berharap angkatan pertama TOT Grand MBA ini dapat terus bergulir. Menjadi pembelajar dan pengajar Al Qur’an adalah sebuah kebanggaan.

“Pemuda harus mempelopori gerakan belajar dan mengajar Al Qur’an. Ini sebuah kebanggaan. Jangan minder, harus selalu percaya diri,” pungkasnya.*

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Pakar Syariah: Pesan Imam Ahmad pilih Pemimpin yang Muslim

Pakar Syariah: Pesan Imam Ahmad pilih Pemimpin yang Muslim

”Separatisme di Papua Haram!”

”Separatisme di Papua Haram!”

Sejak Awal Berdiri MUI Tak Boleh Menyaingi Ormas Islam

Sejak Awal Berdiri MUI Tak Boleh Menyaingi Ormas Islam

LSPEU: SBY dan Amien ke Putaran Kedua

LSPEU: SBY dan Amien ke Putaran Kedua

Serap Masukan soal RUU P-KS, DPR Gelar Lomba Orasi

Serap Masukan soal RUU P-KS, DPR Gelar Lomba Orasi

Baca Juga

Berita Lainnya