Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Mufidah Said: Perempuan Al-Irsyad sudah Berkiprah hampir 100 Tahun

hidayatullah.com/Rita
Mufidah Said Bawazier
Bagikan:

Hidayatullah.com–Jika ada sebuah asumsi perempuan tidak memiliki peranan di dalam organisasi-organisasi dakwah,  rasanya hal ini tidak terjadi pada organisasi besar Al Irsyad. Tiga tahun dari berdirinya Al Irsyad Al Ismiyah tepat pada 6 September  1914   oleh Syeikh Ahmad Surkati, perempuan sudah memiliki kiprah dalam organisasi ini, demikian diungkap Mufidah Said Bawazier, SE.

“Iklim berorganisasi di Al Irsyad Al Islamiyah terasa memberikan ruang yang cukup baik untuk perempuan berkontribusi,” ujar  Wakil Ketua Pengurus Besar Wanita Al Irsyad periode 2012-2017 Mufidah Said Bawazier, di sela pertemuan berbagai ormas Muslimah dalam rangka konsolidasi perkembangan Rancangan Undang-undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) di Cikini Jakarta belum lama ini. [baca: Ormas Muslimah Sepakat Tolak RUU KKG]

Organisasi Wanita Al Irsyad adalah organisasi wanita Islam yang dinilai tidak fanatik dan tidak juga terlalu moderat, namun berpegang teguh pada prinsip dan koridor Syariat Islam.

Dalam perjalanannya, pada tahun 1960an Wanita Al Irsyad memang sempat berada dibawah Otonomi Pengurus Pusat Al Irsyad.

Namun dengan pertimbangan efektifitas dan kontribusi yang bisa lebih banyak diberikan oleh kaum perempuan, Melalui Surat Keputusan nomor 15 tertanggal 19 Shafar 1434 H atau 2 Januari 2013, Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah sesuai kewenangannya memutuskan membentuk badan otonom Wanita Al-Irsyad. Bagi Wanita Al-Irsyad, dengan status otonom ini seolah “lahir kembali”, yang memudahkan berbagai keputusan organisasi dijalankan dan memberikan sumbangan yang besar tidak saja bagi Internal Al Irsyad bahkan dalam peran nasional.

Menutup pembicaraan siang itu, Mufidah Said mengatakan bahwa konsep pemberdayaan perempuan dalam pandangan Wanita Al Irsyad adalah pemberdayaan yang tetap berjalan dalam koridor Islam, tidak menyimpang dari kodratnya dengan menjadikan keluarga sebagai tanggung jawab utamanya.

“Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang sejajar dengan laki-laki namun tidak dalam rangka merendahkan laki-laki. Perjuangan perempuan khususnya Wanita Al Irsyad yang tidak ingin berpangku tangan dan merasa harus turut andil terutama dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan usia dini sebagaimana yang dijalankan dalam amal sholeh organisasi,” ujarnya.*/Rita (Jakarta)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mahasiswa Protes Ceramah Ustad Nur Maulana di Kantor Trans TV

Mahasiswa Protes Ceramah Ustad Nur Maulana di Kantor Trans TV

MUI Mengutuk Keras Penyerangan Terhadap Hermansyah

MUI Mengutuk Keras Penyerangan Terhadap Hermansyah

Dinilai Aneh Ruhut Sitompul Urus UU Zakat

Dinilai Aneh Ruhut Sitompul Urus UU Zakat

Kisah PGI Saat Dipersilakan Habib Rizieq Gelar Paskah Nasional di Monas

Kisah PGI Saat Dipersilakan Habib Rizieq Gelar Paskah Nasional di Monas

Warna Warni Panji Tauhid Seantero Monas

Warna Warni Panji Tauhid Seantero Monas

Baca Juga

Berita Lainnya