Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Ini Dia Solusi Cegah Terulangnya Kasus “Tuhan Membusuk” Versi MUI Jatim

Abdus Syakur/Hidayatullah.com
Ustadz Muhammad Yunus (tengah) saat memimpin rapat Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) di kantor MUI Jatim, menyikapi kasus tema “Tuhan Membusuk” OSCAAR 2014 UINSA
Bagikan:

Hidayatullah.com– Kasus tema “Tuhan Membusuk” pada kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) 2014 di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya diharapkan yang terakhir kalinya terjadi. Bagaimana mengantisipasi agar kasus serupa tidak terulang?

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur (Jatim) Ustadz Muhammad Yunus melontarkan sejumlah solusi. Pertama dan penting dilakukan, kata Yunus, pemerintah harus berperan aktif menindaklanjuti kasus tersebut. Terutama dengan merubah kurikulum atau silabus kurikulum di UINSA dan IAIN/UIN secara umum.

“Yang perlu dilakukan adalah pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk ikut membantu bagaimana membenahi, memperbaiki kurikulum yang ada di IAIN itu. Apa yang menyebabkan IAIN atau UINSA sekarang itu menjadi seperti itu,” ujarnya kepada hidayatullah.com belum lama ini.

Sebab, Yunus beralasan, kasus tema “Tuhan Membusuk” sifatnya sudah masuk ke wilayah-wilayah yang sangat penting. Yaitu terkait dengan pola pikir dan cara pandang para mahasiswa yang mengikuti pemikiran dan filsafat Yunani-Barat.

“Sumber-sumber keilmuan yang mereka (UINSA. Red) pakai sebagai metodologi itulah yang keliru. Sehingga untuk memperbaikinya adalah (mengganti kurikulum) itu yang menurut saya urgen untuk dilakukan,” terangnya di Jl Kejawan Putih Tambak, Surabaya, Jumat (05/09/2014).

Solusi kedua, tambah Yunus, pihak dekanat atau rekrorat memberikan pembinaan dan pentarbiyahan kepada para mahasiswa agar pemikirannya jangan sampai tersesat.

Solusi ketiga, tambahnya, setiap proposal kegiatan kemahasiswaan khususnya di UIN harus melalui sensor, baik dari pihak perguruan tinggi maupun mahasiswa selaku panitia pelaksana teknis. Misalnya dengan memperhatikan tema kegiatannya.

“Ruang publik sekarang ini memang sangat rentan. Apalagi di media sosial, ini bahaya. Mestinya teman-teman UINSA punya kecerdasan untuk bisa melihat situasi, apakah tema-tema yang dibikin itu menjadi kontroversi di masyarakat atau tidak. Mestinya ada semacam sensor bahwa ini berbahaya,” terangnya.

Selain itu, katanya, kasus pelecehan agama seperti tema “Tuhan Membusuk” harus dibawa ke ranah hukum agar menjadi pelajaran bagi siapa saja. Hingga kini proses hukum kasus tersebut terus berlangsung. Kasus serupa sudah sering terjadi di UINSA dan berbagai IAIN/UIN sebelumnya.*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Menristekdikti akan Tempatkan Rektor Asing di Perguruan Tinggi Swasta

Menristekdikti akan Tempatkan Rektor Asing di Perguruan Tinggi Swasta

RUU Ormas Belum Saatnya Disahkan

RUU Ormas Belum Saatnya Disahkan

#MKBukanBawahanTKN Trending Topic

#MKBukanBawahanTKN Trending Topic

Polri Mengaku Tak Tahu Ada Upaya Penangkapan Tokoh KAMI Ahmad Yani

Polri Mengaku Tak Tahu Ada Upaya Penangkapan Tokoh KAMI Ahmad Yani

KWPSI Diharap jadi Benteng Syari’at Islam di Aceh

KWPSI Diharap jadi Benteng Syari’at Islam di Aceh

Baca Juga

Berita Lainnya