Ahad, 23 Januari 2022 / 19 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

Pengaruh Globalisasi sebabkan Generasi Muda lebih kenal tokoh Asing daripada Pahlawan Nasional

hidayatullah.com/Ngadiman
seminar “Pengusulan Kembali KH Ahmad Sanusi Sebagai Pahlawan Nasional” di Bandung, Rabu (28/05/2014)
Bagikan:

Hidayatullah.com—Direktur Kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial Kemensos yang diwakili Dra.Siti Aisyah menyambut baik pengusulan kembali KH.Ahmad Sanusi sebagai Pahlawan Nasional.

Menurut Siti, salah satu perjuangan KH. Ahmad Sanusi saat masa pendudukan DI/TII Pimpinan Kartosuwiryo beliau mengeluarkan fatwa agar masyarakat di daerahnya untuk tidak terpengaruh dengan DI/TII dan tetap setia dengan NKRI.

Selain itu,sambungnya, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Ia juga memberikan dua sumbangan pemikiran penting; Pertama, meredakan pertentangan antara pihak yang setuju dan yang tidak setuju menjadikan Islam sebagai dasar negara.

Kedua, memasukkan konsep imamat (demokrasi) sebagai landasan bentuk pemerintahan Indonesia yang akan dimerdekakan.

Sementara karyanya besar KH.Ahmad Sanusia yang terkenal ialah Tamsijjatul Muslimin  yaitu alih aksara Al Qur’an ke huruf latin yang waktu adalah untuk pertama kalinya dan satu-satunya.

“Kita akui bersama pengaruh globalisasi saat ini dapat menyebabkan generasi muda penerus bangsa lebih mengenal tokoh-tokoh dari luar negeri sebagai idola daripada Pahlawan Nasional yang kita miliki. Perlu kami informasikan kepada hadirin sekalian bahwa hingga saat ini kita telah memiliki 159 Pahlawan Nasional,”jelasnya dalam seminar “Pengusulan Kembali KH Ahmad Sanusi Sebagai Pahlawan Nasional” di Bandung, Rabu (28/05/2014).

Untuk itu pihaknya berharap, dengan adanya seminar ini dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengusulan KH. Ahmad Sanusi sebagai Pahlawan Nasional dan dapat melengkapi data-data yang sebelumnya diusulkan sehingga nantinya KH. Ahmad Sanusi dapat dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional.

Adapun dalam pengusulan ini agar Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) dapat berperan aktif sehingga data yang nantinya diusulkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Seminar sendiri diselenggarakan oleh Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati dan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI). Acara tersebut dihadiri seribuan peserta.*

Rep: Ngadiman Djojonegoro
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

PGI: Dengan Putusan MK, Yahudi dan Bahai Dapat Menuliskan Agamanya

PGI: Dengan Putusan MK, Yahudi dan Bahai Dapat Menuliskan Agamanya

Pemondokan Calhaj di Mekkah Sesuai Standar Minimal

Pemondokan Calhaj di Mekkah Sesuai Standar Minimal

Pemerintah Dinilai Tak Serius Kurangi Angka Konsumsi Rokok

Pemerintah Dinilai Tak Serius Kurangi Angka Konsumsi Rokok

Tanwir Muhammadiyah Tidak Dijadikan Ajang Politik Praktis

Tanwir Muhammadiyah Tidak Dijadikan Ajang Politik Praktis

10 Mahasiswa Palestina Mulai Belajar di UIA

10 Mahasiswa Palestina Mulai Belajar di UIA

Baca Juga

Berita Lainnya