Penyakit ‘Sekolaisme’, Sudah Doktor Tidak Mau Cari Ilmu Lagi

Penyakit ‘sekolaisme’ menurut Adian karena pengaruh hegemoni konsep Barat yang menilai kebahagian itu dengan materi

Penyakit ‘Sekolaisme’, Sudah Doktor Tidak Mau Cari Ilmu Lagi
Kholili
Dr Adian dalam Kajian Ilmiah Sains Islam di Universitas Brawijaya Malang

Terkait

Hidayatullah.com–Mencari ilmu itu bukan hanya sekolah saja atau dengan mengejar gelar akademik belaka. Sayangnya, saat ini sedikit orang mau mencari ilmu lagi. Demikian Ketua Program Doktor Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, Dr. Adian Husaini mengingatkan.

“Kesalahan pendidikan kita saat ini adalah, sekolah dan kerja hanya untuk cari kerja, bukan cari ilmu”, ujar Adian dalam Kajian Ilmiah Sains Islam di Universitas Brawijaya Malang, Ahad (11/05/2014) dalam kajian bertajuk “Sains Islam: Antara Peluang dan Tantangan” itu, Adian menyebut problem tersebut dengan istilah ‘sekolaisme’.

“Sekarang ada ‘penyakit’ baru yaitu ‘sekolaisme’. Yakni menganggap mencari ilmu itu hanya di sekolah saja. Ini salah. Jika sudah meraih gelar, sudah selesai cari ilmu. Padahal di luar sekolah itu juga sangat penting”, lanjut Adian di hadapan dua ratus lebih mahasiswa.

Akibat dari paradigma itu, terang Adian, niat pelajar mengejar materi dalam sekolah.

“Padalah, sekolah itu mestinya bukan BLK (Balai Latihan Kerja), tapi mendidik jiwa”, tegas peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) itu.

Pendidikan kata Adian dalam rangka untuk mengenal Allah. Sebab kebutuhan primer manusia bukan sandang, papan dan pangan saja. Tapi beribadah kepada Allah itu kebutuhan paling primer.

Namun, Adian menunjukkan kutipan sebuak buku ajar sekolah yang didalamnya mengandung problem. Yakni tidak memasukkan kebutuhan ibadah sebagai kebutuhan primer.

“Pelajaran seperti ini dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Ini pandangan sekular”, terangnya sembari menunjukkan slide kutipan sebuah buku pelajar ilmu sosial untuk sekolah Dasar.

Penyakit ‘sekolaisme’ menurut Adian karena pengaruh hegemoni konsep Barat yang menilai kebahagian itu dengan materi.

“Manusia sekuler tidak tahu tujuan hidupnya. Setelah meninggal akan kemana. Bahagia dalam pandangan Barat dengan materi dan pencapaian. Jika sudah mencapai derajat tertentu dianggap bahagia”, katanya.

Karena itu, paradigma sains yang sekular itu harus diislamkan. Sebab melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan.

“Sejarah barat modern itu adalah anti agama. Maka, dalam sains Barat tidak boleh ada campur tangan Tuhan. Sebab campur tangan itu akan mengganggu mereka”, pungkasnya.

Selain menghadirkan Adian Husaini, kajian yang diadakan oleh ITCON (Islamic Thought and Civilization Institute) dan ITJ Chapter Malang ini juga menghadirkan Dr. Budi Handrianto, peneliti INSISTS bidang Sains Islam.*

 

Rep: Kholili Hasib

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !