Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Media Dinilai tak Adil Beritakan kasus Pemerkosaan di Langsa-Aceh

Tribunnews
ilustrasi: Pelaksanaan hukum cambuk
Bagikan:

Hidayatullah.com–Kepala Dinas Syariat Islam Langsa Drs. H. Ibrahim Latif, MM, mengatakan media-media, terutama media asing tidak begitu adil memberitakan kasus mesum dan pemerkosaan yang menimpa seorang janda di Langsa Aceh.

“Semenjak dulu media-media asing selalu tidak adil menyorot pemberitaan Syariat Islam di Aceh, “ demikian menurut Ibrahim Latief kepada hidayatullah.com, Kamis (08/05/2014).

Menurutnya, kasus yang sekarang menjadi sorotan media adalah dua kasus yang berbeda. Pertama kasus tindakan mesum dan kedua kasus pemerkosaan.

“Untuk kasus kasus perzinaan menggunakan pasal 22 Qanun Syariat Islam yang Nomor 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (mesum). Sedangkan untuk kasus pemerkosaan sudah langsung ditangani pihak kepolisian dengan menggunakan KUHP, tambahnya.

Sebagaimana diketahui, beberapa hari ini marak pemberitaan seorang janda beranak berinisial Y ditemukan sedang melakukan perzinahan dengan W,  pria beristeri dan memiliki 5 orang anak di kediamannya Gampong Lhok Bani, Langsa Barat.

Perbuatan maksiat keduanya ini rupanya diketahui seorang pemuda yang menyebabkan kedua pasangan ini digerebek dan diarak keliling kota.

Di saat penggerebekan inilah Y diperkosa secara bergantian oleh sembilan pemuda.

Menurut Ibrahim Latif, dua kasus inilah yang tidak dicermati media; kasus mesum (perzinahan) yang sedang ditangani Dinas Syariat dan kasus pidana pemerkosaan yang ditangani polisi.

Menurut Ibrahim, dalam kasus perzinahan antara Y dan W akan menggunakan Qanun Syariat Islam bernnomor 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (mesum), yang ancamannya dicambuk  paling tinggi 9 (sembilan) kali, paling rendah 3 (tiga) kali atau denda paling banyak Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), paling sedikit Rp 2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah).

Hanya masalahnya, menurut Ibrahim, soal kasus mesum ini baru masih tuduhan dan prosesnya masih lama. Belum tentu, ia mendapat hukuman cambuk.

“Saat ini si wanita sudah dilepaskan. Dia hanya diminta laporan. Proses hukum cambuk masih lama dan belum tentu pula ia mendapatkannya,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara DPD Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Mustafa Husen mengatakan, pemberitaan media-media soal kasus ini jelas ada agenda tersembunyi ingin memberi citra negatif pada Syariat Islam di Aceh.

“Semua orang di Aceh tahu kasus ini dua hal (kasus Mesum dan pemerkosaan, red), tetapi media sengaja mencampurnya untuk memberi kesan buruk pada syariat Islam,” ujarnya.*

Mengapa janda Y ‘korban pemerkosaan’ ini mendapat ancaman cambuk? Inilah penjelasan detil Kadis Syariat Islam Drs. H. Ibrahim Latif

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

PPP dan PKB Usulkan Panja Ahmadiyah

PPP dan PKB Usulkan Panja Ahmadiyah

Dana Diputus Pemerintah, Kantor MUI Sumbar Ditutup Sementara

Dana Diputus Pemerintah, Kantor MUI Sumbar Ditutup Sementara

Capres Anti Korupsi, Dahnil Nilai Komitmen Jokowi Masih Diragukan

Capres Anti Korupsi, Dahnil Nilai Komitmen Jokowi Masih Diragukan

41 Persen Kekerasan Seksual Akibat Pornografi

41 Persen Kekerasan Seksual Akibat Pornografi

Majelis Seni Kaligrafi Sebut Ada Pelecehan Lafaz Allah di Tayangan Master Chef

Majelis Seni Kaligrafi Sebut Ada Pelecehan Lafaz Allah di Tayangan Master Chef

Baca Juga

Berita Lainnya