Kamis, 18 Februari 2021 / 6 Rajab 1442 H

Nasional

Pasca 11 September Muslim Amerika Dituntut Jelaskan Islam yang Sebenarnya

Reuters
Komunitas Muslim memprotes perlakukan kasar yang dilakukan polisi New York dalam kegiatan pengintaiannya.
Bagikan:

Hidayatullah.com—Ada 6-7 juta penduduk Muslim di Amerika dan jumlah tersebut tumbuh dengan cepat melalui imigrasi, konversi, dan kelahiran dari generasi baru.

Demikian data yang disampaikan oleh Jaye Starr dalam kuliah umum bertajuk, “Islam and Muslims in America” yang diselenggarakan oleh American Institute for Indonesian Studies (AIFIS) bekerjasama dengan Program Internasional Universitas Islam Indonesia (UII), pada hari Selasa, (29/04/2014) di Kampus UII Yogyakarta.

Menurut Jaye Starr, komposisi demografis penduduk Muslim tersebut berasal dari Asia Selatan sebanyak 33%, Afrika Amerika 30%, Arab 25%, Eropa 2%, Asia Tenggara 2% dan lainnya sebesar 5%.

Sedangkan kota-Kota yang terdapat banyak penduduk Muslim adalah Boston, New York, Philadelphia, DC, San Francisco/Berkley, Minneapolis, Chicago, dan Detroit.

Runtuhnya Gedung WTC, 11 September 2011 juga berdampak bagi kaum Muslim di Amerika. Bila sebelum peristiwa tersebut kaum Muslim cenderung eksklusif (tertutup), maka setelah peristiwa itu kaum Muslim dituntut untuk menjadi warga inklusif (terbuka).

Selain untuk berbaur hidup dengan pemeluk agama lain, kaum Muslim akhirnya dituntut untuk mengenalkan potret Islam yang sesungguhnya yang selama ini dianggap sebagai sumber lahirnya kekerasan. Menjadi warga yang inklusif juga dimaksudkan untuk mengurangi Islamophobia (ketakutan pada Islam) yang berkembang di negeri Paman Sam tersebut.

Keberadaan organisasi kaum Muslim yang berkembang di Amerika juga ikut mendorong terwujudnya dialog antar kaum Muslim dan penganut agama lain.

Organisasitersebut, diantaranya adalah Muslim Student Association (MSA), Islamic Society of North America (ISNA), dan Islamic Circle of North America (ICNA).

Jaye Starr menegaskan perkembangan yang baik ini membutuhkan partisipasi kaum Muslim Amerika yang lebih tinggi untuk dapat terlibat dalam kehidupan sosial, politik dan bidang lainnya.

Jaye Starr adalah seorang Muslimah dari Amerika yang sedang belajar S2 program Islamic Studies & Christian-Muslim Relations di Hartford Seminary, USA. Ia adalah seorang muallaf yang telah memeluk agama Islam selama 5 tahun.*/kiriman M Chozin Amirullah, Communication and Networking AIFIS

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Rizieq: Anggota FPI jangan Berdakwah dengan Kekerasan

Rizieq: Anggota FPI jangan Berdakwah dengan Kekerasan

Tiga Ribu Warga Jakarta Tolak Ahok jadi Gubernur DKI

Tiga Ribu Warga Jakarta Tolak Ahok jadi Gubernur DKI

Hasyim Muzadi: Kaum Gay Kian Berani karena Diberi Peluang

Hasyim Muzadi: Kaum Gay Kian Berani karena Diberi Peluang

Usai Dilantik, Wamenag Zainut: Radikalisme bisa Dipicu Ketidakadilan

Usai Dilantik, Wamenag Zainut: Radikalisme bisa Dipicu Ketidakadilan

Prof Din: MUI Harus Mengukuhkan Posisi sebagai Mitra Kritis Pemerintah

Prof Din: MUI Harus Mengukuhkan Posisi sebagai Mitra Kritis Pemerintah

Baca Juga

Berita Lainnya