Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Riset: Miras Pemicu Remaja Jadi Pembunuh

ISTIMEWA
Fahira Idris dan Para Pelajar dari Jakarta dan sekitarnya saat pembagian Buku Say No Thanks di Bundaran HI
Bagikan:

Hidayatullah.com–Fakta yang cukup mencengangkan terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan Pusat Kajian Kriminologi FISIP UI bersama Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM).

Data data kualitatif membuktikan bahwa akses mendapatkan minuman keras (Miras) yang terlalu mudah merupakan alasan utama mengapa remaja berada dalam pengaruh miras pada saat melakukan tindakan kriminal dalam hal ini pembunuhan.

“Dari wawancara mendalam yang kita lakukan terhadap 13 orang remaja yang mengonsumsi miras pada saat melakukan tindakan kriminal pembunuhan, ditemukan fakta yang cukup mengerikan, bahwa mereka begitu mudahnya membeli miras dan sama sekali tidak terawasi oleh keluarga maupun lingkungan sosialnya,” ujar Ketua GeNAM Fahira Idris saat membagikan 100 buku Anti Miras berjudul Say: No, Thanks, kepada para pelajar pada saat car free day, di Bundaran HI, Ahas  (23/03/2014).

Penelitian juga menemukan bahwa berdasarkan data pemberitaan media massa, sebanyak empat persen kejahatan di Jakarta sepanjang 2013 dilatarbelakangi oleh konsumsi Miras.

“Statistiknya masih kecil, karena basis data penelitian kita masih lewat pemberitaan salah satu media cetak lokal Jakarta. Namun, dalam perspektif perlindungan anak, ini mengkhawatirkan dan menujukkan masih belum bersahabatnya Kota Jakarta terhadap perlindungan anak-anak kita dari miras,” jelas Fahira Idris yang juga Ketua Yayasan Anak Bangsa Berdaya dan Mandiri ini.

Fahira Idris mengatakan, solusi untuk marajelalanya miras dikalangan remaja adalah ada intervensi negara dalam mengendalikan produksi, distribusi, dan penjualan miras dan melarang tegas menjual Miras kepada remaja kita.

”Saya sangat apresiasi beberapa kepala daerah yang berani membuat terobosan membuat Perda yang melarang 100 persen miras beredar di daerahnya,” ujar perempuan yang juga dikenal sebagai aktivitas sosial yang concern kepada persoalan anak dan perempuan ini.

Menurut Fahira, kepala daerah yang lain tidak perlu takut membuat Perda Anti Miras, karena Perpres No.74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol mempunyai poin khusus, dimana kepala daerah diberikan wewenang untuk mengatur peredaran miras sesuai dengan kondisi kulturnya.

“Ini artinya menurut saya, kalau bupati/walikota mau melarang 100 persen miras di daerahnya, itu kewenangan mereka,” kata penulis Buku Anti Miras berjudul Say: No, Thanks ini.

Solusi kedua, lanjut Fahira, adalah kebijakan pengendalian individu (personal control policy) yaitu lewat berbagai aturan misalnya melarang mengendara kendaraan saat dalam pengaruh miras dan dihukum berat jika melanggar, memberikan layanan rehabilitasi bagi pengguna alkohol, dan yang paling penting edukasi bahaya miras terutama kepada kalangan remaja.

“Seperti yang dilakukan GeNAM sekarang. Kami mengedukasi bahaya miras kepada remaja lewat buku yang ditulis dengan bahasa sehari-hari mereka agar mudah dicerna dan dipahami. Kami juga sosialisasi langsung ke sekolah hingga RT/RW,” ujar Fahira lagi.
Sementara itu, Kepala Pusat Kajian Kriminologi FISIP UI Iqrak Sulhin mengatakan, dalam kajian kriminologi, peran alkohol sebagai faktor kriminogen dapat dibedakan ke dalam dua kategori besar, yaitu: berperan langsung dan pemercepat.

“Meskipun sejumlah penelitian hanya menyatakan bahwa alkohol adalah fasilitator kejahatan, namun banyak penelitian lainnya memberikan konfirmasi adanya pengaruh langsung dalam kasus kejahatan kekerasan,” ungkapnya.

Basis penelitian ini sendiri, pertama, berdasarkan penelitian kuantitatif mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku anak, di beberapa lembaga pemasyarakatan anak di Indonesia di mana salah satu pertanyaannya adalah mencoba untuk menemukan apakah terdapat variabel konsumsi miras di dalam terjadinya pembunuhan. Kedua, berdasarkan pemberitaan media massa lokal sepanjang 2013 sebagai sumber informasi.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

PPP Nilai Putusan MK Salah Fatal

PPP Nilai Putusan MK Salah Fatal

Ulil Abshar Kecewa Wapres Sebut Syiah Bukan Islam

Ulil Abshar Kecewa Wapres Sebut Syiah Bukan Islam

Peserta Aksi Bela Islam III Kecewa, Jokowi Tak Singgung Kasus Ahok dalam Sambutannya

Peserta Aksi Bela Islam III Kecewa, Jokowi Tak Singgung Kasus Ahok dalam Sambutannya

ADI Aceh Adakan Safari Dakwah Perbatasan, Bendung Pemurtadan

ADI Aceh Adakan Safari Dakwah Perbatasan, Bendung Pemurtadan

50 Oknum Bidan dan 100 Calo Terlibat Kasus Klinik Aborsi Ilegal

50 Oknum Bidan dan 100 Calo Terlibat Kasus Klinik Aborsi Ilegal

Baca Juga

Berita Lainnya