Sabtu, 13 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Nasional

Pemimpin Tidak Merdeka, Seperti Menegakkan Benang Basah

Bahtiar Nasir
Bagikan:

Hidayatullah.com– Pemimpin berjiwa merdeka, pasti menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Namun jika jiwanya tidak merdeka, dia tidak akan tunduk aturan Allah. Demikian disampaikan Sekertaris Jenderal (Sekjen) Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat, Bachtiar Nasir, mencermati fenomena kepemimpinan saat ini.

“Tahajudnya bagus, umrohnya sering, suka bangun masjid. Tapi, kalau jiwa-jiwa tidak merdeka, tunduk pada aturan yang bukan aturan Allah, seperti menegakkan benang basah,”ucapnya di depan sekitar seribu jamaah Majelis Tadabbur Quran (MaTaQu), Masjid Baitul Ihsan, Jakarta Pusat, Sabtu, 15 Maret 2014.

Pimpinan Arrahman Quranic Learning Islamic Center (AQL) itu melihat contoh sosok seorang Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini sebagai pemilik jiwa merdeka.

Perempuan yang pernah dinobatkan sebagai Wali Kota terbaik dunia asal Indonesia itu berhasil menutup empat lokalisasi di Surabaya. Sepak terjangnya selalu diukur dari keridhaan Allah. Kekhawatiran terhadap pertanggungjawabannya kelak di akhirat, membuatnya menutup lokalisasi. Itulah yang membuat proses penutupannya, ulas Bachtiar, relatif tidak ada gejolak.

“Enak jadinya kalau sudah la ilaha illallah. Tapi ada yang nentuin jilbab aja, bingung,”ucapnya mengomentari pernyataan petinggi Kapolri yang masih tidak jelas mengambil sikap hal polisi wanita (Polwan) dalam berjilbab.

Bachtiar juga melihat sosok pemimpin berjiwa merdeka di negeri Malaysia. Menurutnya, mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad pernah menyatakan,  “Silahkan bawa masuk uang, asal jangan pernah bawa Syiah masuk Malaysia!”. Menurutnya, sinyalemen ini menjadikan para aparat pemerintahan di sana konsisten menghalau pertumbuhan aliran sesat.

Tidak untuk Islam, Tinggalkan

Bachtiar menambahkan, jika saja Kapolri meluluskan keinginan para Polwan menutup auratnya, maka kemenangan hakiki akan didapat. Dalam setiap aturan Allah, terdapat hikmah yang berguna bagi makhluk ciptaan-Nya. Aturan yang terdapat di Al-Quran, diberikan supaya jalan hidup manusia tidak berbenturan dengan keberadaan ciptaan Allah lainnya.

“Seperti thawaf, kenapa Allah memerintahkan thawaf dengan menempatkan Ka’bah di sisi kiri badan? Kalau Allah menempatkan Ka’bah di sebelah kanan kita, pulang-pulang, banyak jamaah yang gila karena perputaran sel-sel tubuh sesuai dengan thawaf,” ujar Ketua Lembaga Tadabbur Quran Indonesia (LaTaQia) itu menjelaskan.

Sama halnya jika seorang pemimpin hanya tunduk pada kekuasaan manusia lainnya. Ia akan mengalami kerusakan orientasi kehidupan

“Dan kita, akan menjadi orang gila kalau kita tidak menuruti aturan Allah yang telah menciptakan kita di dunia ini!”tukas lulusan Universitas Islam Madinah itu.

Selanjutnya, Bachtiar menghimbau jamaah untuk tidak tergiur pada berbagai janji dan jargon kampanye peserta Pemilu 2014.
“Kalau sudah meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, kalaupun partai Islam, tinggalkan! Yang tidak bekerja untuk Islam, tinggalkan! Yang ragu bersama Islam, tinggalkan! Karena berjuang untuk hal seperti itu hanya bekerja untuk pepesan kosong,”ucapnya tegas.*

Rep: Rias Andriati
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Tokoh Adat: Justru Warga Dayak Meminta Pendirian FPI

Tokoh Adat: Justru Warga Dayak Meminta Pendirian FPI

MUI Jatim Tidak Puas SK Gubernur tentang Larangan Ahmadiyah

MUI Jatim Tidak Puas SK Gubernur tentang Larangan Ahmadiyah

Tabu, Kader Muslim Tidur Pagi sehabis Subuh

Tabu, Kader Muslim Tidur Pagi sehabis Subuh

Kedubes Arab Saudi Siapkan Hadiah Haji Gratis di Indonesia International Book Fair 2014

Kedubes Arab Saudi Siapkan Hadiah Haji Gratis di Indonesia International Book Fair 2014

FUI Kecam Agresi Zionis, Wakil PBB Ketakutan

FUI Kecam Agresi Zionis, Wakil PBB Ketakutan

Baca Juga

Berita Lainnya