Ahad, 23 Januari 2022 / 19 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

Lebih Jernih Membaca Kasus Hafitd dan Assyifa

Tribunnews
Ahmad Imam Al Hafitd dan Assifa Ramadhani.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Beragam dugaan dan analisa mencoba menghubungkan riwayat pekerjaan ayah kandung Ahmad Imam Al Hafitd (19), Ownie Sumantri, terhadap orientasi pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto (19). Bahkan kasus aborsi yang pernah dilakukan  sang ayah yang berprofesi sebagai dokter kandungan pada 2009, kembali diangkat.

Terkait hal ini, Khalid Basalamah, Ketua Umum Yayasan Ats Tsabat, Jakarta Timur, mengatakan, tidak bisa begitu saja menghubungkan kesamaan tindakan hanya karena hubungan bapak-anak. Orientasi hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan kondisi lingkungan dimana Ia bertumbuh dan berinteraksi.

“Misalnya, kalau sebelumnya kita bukan perkokok, lalu kita bergaul dengan 10 orang perokok, hari pertama-kedua tidak terpengaruh. Tapi kita akan terbiasa dengan asapnya. Sebulan coba-coba. Setahun kita bisa ikut merokok bersama mereka,”papar pengisi kajian Hadits, Masjid Agung Al Azhar, itu.

Begitu juga sebaliknya jika kita tidak bisa membaca Al Quran.

“Lalu kita bergaul dengan 10 penghafal Al Quran. Sehari-dua hari kita malu nggak bisa ngaji. Setahun kita bisa ikut menghafal bersama mereka,” lulusan Universitas Islam, Madinah, jurusan Dakwah dan tarbiyah itu menjelaskan.

Ia menilai, pendidikan merupakan faktor terkuat yang mempengaruhi cara pandang seseorang, termasuk Hafitd.

“Jika ayahnya pernah melakukan aborsi, maka anak ini bisa saja dididik dari poin itu bahwa pelanggaran-pelanggaran agama dianggap biasa. Namun jika tidak, maka Ia dipengaruhi oleh lingkungan,”ungkap peraih gelar Master jurusan Manajemen Pendidikan Islam tersebut.

Tidak Ada Hubungan Nama

Pembicaraan masyarakat juga mengarah pada nama islami Hafitd dan Assyifa. Sekali lagi menegaskan, tidak bisa begitu saja sebuah kasus dikaitkan karena memiliki nama islami.

“Nama tidak ada hubungannya. Kalau namanya Muhammad tapi pembunuh? Kita tidak bisa bilang jika ada seorang tentara melakukan pelanggaran kemudian kita bilang seluruh tentara di sana buruk,”ulasnya. Lebih lanjut Ia menegaskan, perbuatan yang dilakukan keduanya tidak mungkin dilakukan seseorang yang tumbuh dilingkungan yang sehat dan islami. “

Khalid menambahkan, perbuatan aborsi lebih karena akhlak yang tidak baik.

“Makanya kita harus melihat, apakah dia berteman dengan orang-orang yang kayak begitu yang beranggapan bahwa membunuh adalah hal kecil,”ucapnya. Hal tersebut menurutnya, sama seperti perempuan yang berjalan penuh percaya diri didepan umum memakai rok mini.

“Karena pendidikan rumahnya, pendidikan orangtuanya, tontonannya, lingkungannya, sehingga ia menganggap hal itu biasa,”ucapnya tandas.*

Rep: Ibnu Sumari
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Edaran Menag: Shalat Idul Adha dan Qurban Dibolehkan, dengan Protokol Ketat

Edaran Menag: Shalat Idul Adha dan Qurban Dibolehkan, dengan Protokol Ketat

MUI Bangun Menara dengan Nilai Rp 600 Miliar

MUI Bangun Menara dengan Nilai Rp 600 Miliar

Kunjungi Al-Azhar Indonesia, Ahmad Ath Thayyib Ulangi Sejarah 50 Tahun Silam

Kunjungi Al-Azhar Indonesia, Ahmad Ath Thayyib Ulangi Sejarah 50 Tahun Silam

Hendropriyono Sebut Al Zaitun Bukan Sarang NII KW-9

Hendropriyono Sebut Al Zaitun Bukan Sarang NII KW-9

MUI Dukung Penuh Aksi Pembebasan Baitul Maqdis

MUI Dukung Penuh Aksi Pembebasan Baitul Maqdis

Baca Juga

Berita Lainnya