Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Nasional

Sepanjang Ghibah, Infotainment Dinilai Bukan Produk Jurnalistik

Bagikan:

Hidayatullah.com–Infotainment tidak sesuai dengan kaidah jurnalisme, sebab kebanyakan berisi pergunjingan (ghibah). Sepanjang masih begitu, infotainment tak layak disebut produk jurnalistik.

Wartawan senior Herry Mohammad menyampaikan itu dalam acara tukar pendapat dan silaturahim dengan jajaran Kelompok Media Hidayatullah (KMH) di Polonia Jakarta Timur, Kamis, 27, Rabiul Akhir 1435 H (27/2/2014).

Menurut Herry yang juga Redpel pada satu majalah nasional, fungsi media massa memberi informasi, mengkritik, dan mengedukasi masyarakat. Sedangkan infotainment isinya ghibah, tidak mendidik.

“Yang begini kan nggak boleh,” tegas Herry.

Namun, baginya, unsur hiburan dan semacamnya boleh saja dalam media massa. Tapi bukan unsur utama. Jika unsur hiburannya yang diutamakan, otomatis media tersebut gagal.

Herry juga menegaskan, para jurnalis harus jujur menyampaikan fakta berita dalam kondisi bagaimana pun, termasuk saat perang. Terutama menyangkut informasi-informasi yang umum.

“Ini sebenarnya yang jadi persoalan di dunia jurnalistik,” ungkap mantan wartawan Tempo ini.

Herry pun menyinggung perilaku buruk “wartawan amplop”, yaitu wartawan yang menerima duit dari narasumbernya.

Menurutnya, saat diberi duit oleh narasumber, wartawan jangan menerimanya. Sebab rawan campur tangan pemberi duit.

“Kalau kita terima duit dari narasumber, narasumber bisa ngatur kita. Nanti kalau tulisannya nggak muncul, ditelepon, ‘Kenapa nggak muncul?'” dalihnya mencontohkan.

Atau bisa saja kalau berita yang ditulis wartawan tersebut muncul di medianya, narasumber mengintervensi jika tak sesuai dengan keinginannya.

Herry mengatakan, setiap perilaku wartawan harus disesuaikan dengan ritme kerja perusahaannya, bukan sebaliknya.

Nggak bisa (wartawan) pakai perilaku dia sendiri,” imbuhnya.

Wartawan pun, tambah Herry, harus senantiasa menjaga komunikasi dengan atasannya. Misalnya dengan selalu mengaktifkan telepon selularnya (handphone/HP) agar mudah dihubungi.

“Kalau ada wartawan HP-nya dimatikan terus, itu bukan wartawan. Itu pengusaha,” ujarnya berkelakar dalam bincang-bincang ringan itu.*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Potensi Kerugian Ekonomi karena Narkoba Capai Rp 74,4 Triliun

Potensi Kerugian Ekonomi karena Narkoba Capai Rp 74,4 Triliun

Teguhkan Ukhuwah, Keluarga Besar NU-Muhammadiyah Malang akan Gelar Halalbihalal Bareng

Teguhkan Ukhuwah, Keluarga Besar NU-Muhammadiyah Malang akan Gelar Halalbihalal Bareng

Azis Gagap Kunjungi Posko Hidayatullah, Hibur Korban Gempa NTB

Azis Gagap Kunjungi Posko Hidayatullah, Hibur Korban Gempa NTB

Wapres KH Ma’ruf Amin Mengenang Prof Yunahar Pemersatu Umat

Wapres KH Ma’ruf Amin Mengenang Prof Yunahar Pemersatu Umat

Usai Dilantik, Wamenag Zainut: Radikalisme bisa Dipicu Ketidakadilan

Usai Dilantik, Wamenag Zainut: Radikalisme bisa Dipicu Ketidakadilan

Baca Juga

Berita Lainnya