Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Soetrisno Bachir: Pemerintah Lemah Tekanan Asing Kelola Minerba

Ketua Umum KB PII Soetrisno Bachir.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Ketua Umum Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Soetrisno Bachir dalam Majelis Reboan di Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (15/1/2014) malam, mengatakan, Indonesia dikenal sebagai pengekspor mineral mentah terbesar di dunia, namun industri dalam negerinya keropos.

“Ini adalah sebuah ironi,” ujar Soetrisno Bachir.

Pemerintah Indonesia dinilai masih sangat tergantung kepada perusahaan asing dalam mengelola sumber daya alamnya. “Pemerintah lemah menghadapi tekanan luar, sehingga gampang disetir oleh kepentingan asing,” tambahnya.

Menurut ia, hal ini tampak dari dibuatnya Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengolahan Mineral dan Batubara (Minerba), yang mencerminkan inkonsistensi terhadap amanat Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba.

Inkonsistensi semakin tampak dari masih diizinkannya PT Newmont dan PT Freeport untuk mengekspor mineral mentah.

Soetrisno menepis alasan bahwa revisi dua peraturan turunan UU Minerba karena khawatir terhadap melemahnya sektor tambang dan perekonomian Indonesia, termasuk isu PHK massal.

Ia menilai hal ini karena pemerintah kurang konsisten dalam menerapkan kebijakan. Soetrisno juga menjelaskan, sebetulnya pemerintah sudah mengantisipasi dampak dari pelaksanaan UU Minerba ini.

“Undang-undangnya sudah disahkan lima tahun lalu, pasti sudah ada hitungannya,” katanya, dilansir Tribunnews. “Ada dampak ekonomi sekian triliun rupiah, yang harus bisa diatasi dengan berbagai program, misalkan optimalisasi pendapatan lain yang bisa menambal kekurangan karena penghentian ekspor mineral mentah.”

Dia mengatakan, inkonsistensi pelaksanaan UU Minerba ini terjadi karena kombinasi antara ketakutan dan kerakusan yang dihadapi pemerintah.

“Jangan sampai hal ini disebabkan karena dua kelemahan mental pemerintah. Yakni karena takut terhadap tekanan pihak asing, dan rakus karena berharap imbalan dari sogokan asing. Apalagi ini adalah tahun politik, yang juga membutuhkan biaya operasional tinggi,” sindirnya.

Dorongan agar pemerintah mengedepankan kepentingan nasional dan berani menghadapi tekanan asing juga muncul dari para tokoh yang juga aktif dalam forum tersebut, seperti mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Presidium ICMI Marwah Daud Ibrahim, dan anggota DPD Sofwat Hadi, Didik J Rachbini, Yusuf Asyari, serta para aktivis dari berbagai parpol, ormas, dan kekuatan politik lainnya.

“Karenanya, KPK dan aparat penegak hukum agar tidak tutup mata terhadap kemungkinan terjadinya penyalahgunaan wewenang pejabat negara dalam melunaknya sikap pemerintah ini,”  kata Soetrisno Bachir lagi.*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Klarifikasi Menteri ESDM Soal Polemik Isu Kenaikan Harga LPG 3 Kg

Klarifikasi Menteri ESDM Soal Polemik Isu Kenaikan Harga LPG 3 Kg

FUUI: Aneh, Pemerintah Tak Tahu “NII Gadungan”

FUUI: Aneh, Pemerintah Tak Tahu “NII Gadungan”

Lembaga Pangan Nasional

DPR Minta Bulog Tidak Membeli Jagung dari Importir Ilegal

Kasus Ade Armando di-SP3 Polda, LBH Street Lawyer Ajukan Pra Peradilan

Kasus Ade Armando di-SP3 Polda, LBH Street Lawyer Ajukan Pra Peradilan

Sudan: Tuduhan Penjahat Perang Terhadap Presiden Sudan Tanpa dasar

Sudan: Tuduhan Penjahat Perang Terhadap Presiden Sudan Tanpa dasar

Baca Juga

Berita Lainnya