Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Bendri Jaisyurrahman: Aktivis Dakwah jangan Jadi “Playboy Fisabilillah”

Antara
Remaja dalam kegiatan Gerakan Cinta al-Quran di Bogor (ilustrasi)
Bagikan:

Hidayatullah.com—Adalah hal bagus jika seseorang aktif dalam kegiatan keislam di kampus atau masjid. Hanya saja, menjadi tidak bagus jika sepulang kegiatan justru melahirkan kegiatan yang dilarang syar’i.

Demikian disampaikan Bendri Jaisyurrahman dari Yayasan Sahabat Ayah saat ikut menyemarakkan acara Silaturahmi Akbar (Silakbar) Kerohanian Islam (Rohis) se-Jakarta Timur, Sabtu (04/01/2014) di AQL Islamic Center (AQLIC), Tebet, Jakarta Selatan.

“Islami, sih ikut Rohis. Shalat berjamaah di Masjid. Tapi, pulangnya, jalan bareng sama pacarnya. Begitu akan berpisah, si akhwat cium tangan ikhwan-nya,” kata alumni STID DI Al Hikmah dan Ma’had Utsman Bin Affan, Jakarta itu. Pria yang banyak mengisi kajian keislaman remaja tersebut mengungkapkan “virus merah jambu” yang kerap mendera para aktivis dakwah.

Dalam pemaparannya, ia mempertanyakan kesyar’ian hubungan yang belum diikat dengan pernikahan yang sah.

Walaupun menohok banyak remaja, ucapan Bendri membuat para aktivis Rohis yang berada di depannya, tertawa geli.

Bendri menyebut aktivis dakwah semacam itu sebagai “Playboy Fisabilillah”.

Interaksi sesama aktivis dakwah yang berlawanan jenis, jika tidak hati-hati, menjerumuskan dalam jurang maksiat. Contoh menarik yang dipaparkan Bendri,  misalnya seperti saling mengingatkan shalat Tahajud. “Takbirnya paling kencang. Tapi untuk hal semacam itu, justru dia langgar,”ulas pria yang mempelajari ilmu psikologi remaja itu.

Menurut Bendri, suatu kewajaran jika virus itu menjangkiti remaja dan kaum muda. Tidak terkecuali para aktivis dakwah. Hanya saja, ilmu syariah dasar yang sudah mereka dapatkan, seharusnya menjadi tameng perbuatan maksiat.

Selain itu, ia juga menerangkan kekeliruan pemahaman tentang perjuangan seorang aktivis dakwah. Menurutnya, hakikat berjuang di jalan Allah subhanallahu wata’ala itu tidak mengedepankan hal-hal artifisial sementara hal pokok dikesampingkan.

“Kalau nggak hapal nasyid, dibilangnya nggak ngikhwan. Kalau nggak punya jenggot dan celana tidak dari jenis bahan tertentu, juga disebut nggak ngikhwan. Waktu ditanya, kenapa harus begitu? Dia bilang, nggak tahu. Tapi di sisi lain, mereka tidak menghidupkan majelis al Qur’an.”

Menurutnya, saat ini banyak aktivis yang terjebak dalam pemikiran semacam itu. Akibatnya, banyak hal penting terkait program dakwah terabaikan.*

Rep: Rias Andriati
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

‘Kita Berharap Wamena Tersenyum dan Bangkit Kembali’

‘Kita Berharap Wamena Tersenyum dan Bangkit Kembali’

Panglima TNI Siap Kirim Pasukan ke Myanmar, Kapolri akan Temui Kepala Kepolisiannya

Panglima TNI Siap Kirim Pasukan ke Myanmar, Kapolri akan Temui Kepala Kepolisiannya

Pemerintah Blokir Situs, DVD Porno Malah Marak

Pemerintah Blokir Situs, DVD Porno Malah Marak

Warga Sulsel Bela Muslim Uighur

Warga Sulsel Bela Muslim Uighur

Arifin Ilham Sebut Miss World adalah Legalisasi Kemaksiatan

Arifin Ilham Sebut Miss World adalah Legalisasi Kemaksiatan

Baca Juga

Berita Lainnya