Jum'at, 26 Maret 2021 / 13 Sya'ban 1442 H

Nasional

Menulis, Senjata Dai Melawan Barat

Muh. Abdus Syakur
Halaqah Peradaban di Depok.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Salah satu senjata melawan hegemoni Barat adalah ilmu. Ilmu diperoleh di antaranya dengan banyak membaca. Hasil dari membaca sebaiknya ditransformasi menjadi tulisan.

Demikian salah satu kesimpulan dari kajian pekanan Halaqah Peradaban di Masjid Ummul Quraa, Kalimulya, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu, 18 Shafar 1435 H (21/12/2013) usai Shubuh.

Dalam acara yang diisi Ketua Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat Drs Tasyrif Amin ini, para dai diharapkan tak hanya cakap spiritual. Tapi juga cakap intelektual, termasuk menulis.

Tasyrif mengingatkan para dai untuk memahami Islam seutuhnya. Dari pemahaman inilah yang bisa dijadikan bahan tulisan.

“Pemahamannya dengan zikirnya bisa menjadi sebuah tulisan. Banyak (yang) bisa membaca, tapi tidak bisa menulis,” ujarnya di depan ratusan jamaah.

Menurut Tasyrif, saat ini sudah banyak dai yang telah berkarya lewat tulisan. Namun, kebanyakan masih dalam batas ‘ulumuddin (ilmu-ilmu agama).

“Diharapkan ada yang menulis tentang sains,” imbuhnya.

Beda Barat dengan Islam

Dikatakan, dalam kancah keilmuan, ada perbedaan mendasar antara Islam dengan non-Islam, yaitu sikap mental.

Dalam Islam, kata kunci berilmu adalah tawaddu atas hadirnya wahyu. Sedangkan kunci tegaknya peradaban ada di surat al-‘Alaq.

Sehingga, jelas Tasyrif, untuk mencetak kader Islam, metodenya bisa dicontoh dari urut-urutan turunnya wahyu Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dijelaskan, “Iqra'” sebagai wahyu pertama merupakan perintah membaca kepada Muhammad. Inilah unsur keilmuan dalam Islam.

“Kita harus mencetak kader yang ahli baca. Karena tidak mungkin kita bersaing dengan Barat kalau referensi keilmuan kita ini kurang,” imbuh Tasyrif.

Dia mencontohkan, pendiri Hidayatullah Allahuyarham Ustadz Abdullah Said semasa hidupnya sangat aktif menulis. Tulisan di majalah bulanan Suara Hidayatullah saat itu dipenuhi banyak hasil karyanya, yang rata-rata dicetuskan usai shalat lail.

Selain itu, Tasyrif berpendapat, antara intelektual dan spiritual para dai harus berimbang. Sosok dai seperti ini terinspirasi surat al-Qalam sebagai wahyu kedua yang turun.

“Sosok mujahid yang lahir dari al-Qalam (menjadi) pemikir sekaligus ideolog. Apapun yang dipikirkan, dia harus mengantar orang untuk ber-Qur’an,” tandasnya.*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

KISDI Minta Semua Pihak Dudukan Ahmadiyah Secara Proposional

KISDI Minta Semua Pihak Dudukan Ahmadiyah Secara Proposional

Soal Dana Aksi Bela Islam, Dinilai tak Ada UU Yayasan yang Dilanggar

Soal Dana Aksi Bela Islam, Dinilai tak Ada UU Yayasan yang Dilanggar

Komnas HAM : Melindungi HAM Bagian dari Peran Penting TNI

Komnas HAM : Melindungi HAM Bagian dari Peran Penting TNI

Kak Seto LPAI Kunjungi Cucu-cucu Habib Rizieq di Markas FPI Petamburan

Kak Seto LPAI Kunjungi Cucu-cucu Habib Rizieq di Markas FPI Petamburan

Psikolog sarankan Pendidikan Seks Anak Tugas Orangtua

Psikolog sarankan Pendidikan Seks Anak Tugas Orangtua

Baca Juga

Berita Lainnya