Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Di Pangalengan Pengikut Syiah Bangga dengan Identitasnya

Surya Fachrizal/Hidayatullah.com
Iwan Setiawan, penyebar ajaran Syiah di Pangalengan Bandung Selatan, Jawa Barat
Bagikan:

Hidayatullah.com–Pengikut Syiah di Pangalengan, Bandung Selatan, Jawa Barat tidak malu-malu lagi menampakkan identitas Syiahnya di tengah masyarakat. Bahkan mereka bangga mengaku sebagai pengikut ajaran Syiah.

Usman (69), warga Desa Sukamenak Pangalengan menegaskan dirinya tidak perlu lagi menyembunyikan (taqiyah) identitas dirinya sebagai pengikut Syiah.

“Keluarga saya sudah dicap masyarakat sebagai keluarga Syiah sesat. Untuk apa lagi saya ber-taqiyah (menyembunyikan). Saya memang Syiah. Kalau pengikut Syiah di Jakarta mereka taqiyah semua itu,” kata Usman saat ditemui hidayatullah.com di rumahnya baru-baru ini.

Usman juga mengajak anggota keluarganya mengikuti ajaran Syiah. Diana Barkah (29), anak lelaki Usman menegaskan jika dirinya akan terus menjadi pengikut Syiah hingga akhir hayat.

“Menurut saya Syiah adalah ajaran yang paling benar. Sampai mati saya akan menjadi Syiah,” ucap Diana.

Diana yang mengaku sempat bersekolah di Pesantren Persatuan Islam (Persis) ini tidak peduli dengan cap Syiah adalah sesat. Baginya mereka yang mengatakan Syiah adalah sesat adalah mereka yang belum mengenal ajaran Syiah secara mendalam.

Usman mengaku ia pertama kali dikenalkan ajaran Syiah oleh Iwan Setiawan (55). Iwan dikenal masyarakat sebagai penyebaran ajaran Syiah di Pangalengan.

Ketika ditemui hidayatullah.com,  Iwan tidak menampik jika dirinya disebut sebagai penyebaran ajaran Syiah di Pangalengan. Meski demikian ia mengaku tidak pernah mendakwahkan ajaran Syiah secara terang-terangan kepada masyarakat Pangalengan. Katanya, kebanyakan orang yang bertanya kepada dirinya karena penasaran.

Iwan yang juga pengurus Ahlul Bait Indonesia (ABI) mengaku yang membuatnya menganut paham Syiah setelah membaca kitab-kitab sejarah Ahlus Sunnah sendiri yang terdapat pada Hadits-hadits shahih. Ditambah aktivitasnya di NII pada akhir tahun 1970-an terasa cocok dengan revolusi Iran dan ide-ide Khomeini.

Iwan juga tidak memungkiri perbedaan-perbedaan Syiah-Sunnah termasuk dalam hal nikah muth’ah yang biasanya selalu disangkal. Katanya nikah muth’ah atau nikah kontrak memang dihalalkan dalam Syiah dan hal itu memang dipraktekkan oleh penganut-penganut Syiah di Indonesia.

“Tapi saya belum pernah melakukan nikah muth’ah. Saya belum menjiwai atau belum cenderung ke arah itu,” tegasnya.*

Rep: Ibnu Syafaat
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Belum Jelas Nasib Pengungsi Rohingya Setelah dari Jember

Belum Jelas Nasib Pengungsi Rohingya Setelah dari Jember

Presiden: Umat Islam Sedunia Harus Bersatu

Presiden: Umat Islam Sedunia Harus Bersatu

Komisi VII: Kebablasan Jika BPIP Campuri BRIN

Komisi VII: Kebablasan Jika BPIP Campuri BRIN

Selama Ramadhan, Jamaah Tabligh Sebarkan Da’i di Seluruh Kapal Laut

Selama Ramadhan, Jamaah Tabligh Sebarkan Da’i di Seluruh Kapal Laut

Soal Kebijakan Penggusuran, FAKTA Kritisi Model Kerja Pemprov DKI Jakarta

Soal Kebijakan Penggusuran, FAKTA Kritisi Model Kerja Pemprov DKI Jakarta

Baca Juga

Berita Lainnya