Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pertemuan Bali hanya Untungkan Negara Maju

Pertemuan WTO di Bali
Bagikan:

Hidayatullah.com–Kesepakatan Paket Bali pada pertemuan Organisasi Dagang Dunia (WTO) di Bali tidak berdampak positif pada pembangunan pertanian untuk kemandirian dan kedaulatan pangan nasional. Bahkan hanya menguntungkan Negara-negara maju.

”Hal ini tentu bisa merugikan negara-negara yang bertopang pada sektor pertanian seperti Indonesia,” demikian disampaikan Ketua Kelompok Komisi Pertanian Fraksi PKS Habib Nabiel Al-Musawa, di Gedung DPR RI, Selasa (10/12/2013).

Menurut Nabiel, dalam pertemuan WTO tersebut, subsidi pertanian di negara berkembang meningkat dari sebelumnya 10% menjadi 15% dari nilai produksi nasional. Namun hal ini dibatasi hanya sampai empat tahun.  

Menurutnya, di negara kita saja petani sudah disubsidi masih hidup miskin, apalagi jika subsidinya dikurangi atau dicabut, maka banyak petani di Indonesia yang akan menjadi lebih miskin lagi.

“Subsidi merupakan nilai tambah dari sektor pertanian yang bisa dinikmati langsung oleh petani,”ungkap Nabiel.

Di sisi lain terkait poin fasilitasi perdagangan ke semua negara dapat menyebabkan liberalisasi pertanian nasional dan hanya akan memperluas pengaruh negara-negara maju mengakses pasar domestik semua anggota WTO,  termasuk Indonesia. Karena kebijakan tersebut hanya untuk mempermudah barang-barang dari negara maju masuk ke negara-negara berkembang.

“Produk impor akan membanjiri pasar domestik dan menyebabkan produksi dalam negeri melemah,”kata Nabiel.

Nabiel menambahkan, bahwa hal tersebut kontradiktif dengan UU Perlindungan Pemberdayaan Petani, Pasal 15 ayat (1) Pemerintah berkewajiban mengutamakan produksi Pertanian dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, ayat (2) Kewajiban mengutamakan produksi Pertanian dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui pengaturan impor Komoditas Pertanian sesuai dengan musim panen dan/atau kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Sedangkan dalam UU Pangan, Pasal 36 ayat (1) Impor Pangan hanya dapat dilakukan apabila Produksi Pangan dalam negeri tidak mencukupi dan/atau tidak dapat diproduksi di dalam negeri.

Nabiel menegaskan kepada pemerintah untuk serius mengimplementasikan kebijakan yang telah dibuat untuk melindungi kepentingan petani, antara lain pengaturan impor komoditas pertanian dan pemberian subsidi pertanian.

“Agar petani kita bergairah berproduksi dan produk hasil pertaniannya dapat berkompetisi dipasar domestik dan internasional,” tutur Nabiel.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pemerintah Akan Uji Coba ‘Full day School’ Untuk Sekolah yang Siap

Pemerintah Akan Uji Coba ‘Full day School’ Untuk Sekolah yang Siap

Ribuan Orang Sambut Kepulangan HRS dan Aksi Bela Kemuliaan Nabi

Ribuan Orang Sambut Kepulangan HRS dan Aksi Bela Kemuliaan Nabi

Simposium Nasional Produk Halal Indonesia Lahirkan Konsorsium Peduli Halal

Simposium Nasional Produk Halal Indonesia Lahirkan Konsorsium Peduli Halal

MUI Jatim Siap Menyambut Berlakunya UU JPH

MUI Jatim Siap Menyambut Berlakunya UU JPH

JPRMI dan FORPIJA Gelar Aksi Damai Protes Film IOM di Kedubes AS

JPRMI dan FORPIJA Gelar Aksi Damai Protes Film IOM di Kedubes AS

Baca Juga

Berita Lainnya