Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Dr. HM Baharun: Perbedaan Sunni-Syiah tak Lagi Fikih, tapi Tauhid

Acara seminar di Cimahi
Bagikan:

Hidayatullah.com—Pernyataan yang mengatakan tidak ada berpendapat hakiki antara Sunni-Syiah menunjukkan ketidakpahaman masyarakat antara akidah Sunni dan akidah Syiah. Padahal, dilihat  perayaan yang digelar bisa dipastikan ada kaitannya dengan keyakinan yang sudah berbeda keduanya.

Demikian disampaikan Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI), Fahmi Salim,MA saat menjadi narasumber acara tablig akbar dengan tema “Bahaya Laten Syi’ah” yang di gelar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Jabar di Kota Cimahi, Ahad (27/10/2013).

Fahmi menjelaskan, tentang acara perayaan hari besar kaum Syiah di Jakarta yang belum lama ini diselenggarakan. Menurutnya, seharusnya umat Islam sadar bahwa dengan adanya perayaan-perayaan yang berbeda tersebut  membuktikan adanya perbedaan secara prinsip, yakni secara akidah.

“Kalau kehadiran mereka dalam rangka berdakwah kepada kaum Syiah, itu jelas bagus. Namun jika ikut membenarkan atau mendukung perayaan, itu yang berbahaya karena akan menjadi virus akidah,” ungkapnya.

Untuk itu ia mengingatkan agar kaum muslimin tidak terjebak dalam perangkap kaum Syiah baik pemikiran atau amaliyah. Padahal secara akidah ada perbedaan mendasar.

Senada dengan Fahmi, salah satu anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, Prof. Dr. HM Baharun mengingatkan agar ajaran Syiah tidak lagi dianggap sebagai perbedaan fikih semata namun sudah masuk pada wilayah tauhid.

Sambil menyitir pernyataan salah satu ulama besar di Indonesia, ia mengingatkan kasus Syiah di Indonesia akan menjadi bom waktu.

“Bom itu sudah meledak di mana-mana, terakhir di Jember. Haruskah menunggu yang lebih besar lagi korbannya?,” tanyanya. [Baca juga:  Kasus Konflik Syiah-Sunni Sampang, Dr.HM Baharun: “Jika Ada Penistaan, Pasti Ada Perlawanan”]

Guru Besar Sosiologi Agama yang juga dikenal seorang pengkaji dan penulis serius masalah Syiah ini juga menghimbau umat Islam tidak malas belajar dan membaca sejarah secara benar bukan sekedar mendengar propaganda-propaganda khususnya menyangkut pemikiran Syiah yang terkesan ilmiah tapi sesungguhnya menyesatkan.*

Rep: Ngadiman Djojonegoro
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Anies Diskon 50% PBB Lahan Kosong Jika Dijadikan Ruang Terbuka Hijau

Anies Diskon 50% PBB Lahan Kosong Jika Dijadikan Ruang Terbuka Hijau

Pola Asuh Orangtua yang Salah Bisa Sebabkan Anak Alami Kelainan Seksual

Pola Asuh Orangtua yang Salah Bisa Sebabkan Anak Alami Kelainan Seksual

WALHI Kritik Panjang Visi Jokowi Periode II

WALHI Kritik Panjang Visi Jokowi Periode II

Menteri Puan Ingin Hubungan Masyarakat Indonesia-China Ditingkatkan

Menteri Puan Ingin Hubungan Masyarakat Indonesia-China Ditingkatkan

Penghitungan Suara di Bengkulu 100 %, Prabowo-Sandi Menang atas Jokowi-Ma’ruf

Penghitungan Suara di Bengkulu 100 %, Prabowo-Sandi Menang atas Jokowi-Ma’ruf

Baca Juga

Berita Lainnya