Pelajar Diimbau Tak Konsumsi Berita Sampah

Dia memberikan contoh bagaimana pikiran dapat dengan segera menyimpulkan sesuatu, meyakininya, dan kemudian susah untuk menghapusnya.

Terkait

Hidayatullah.com — Apabila diibaratkan komputer, penglihatan, pendengaran dan perasaan adalah perangkat lunak terdapat dalam diri manusia yang kemudian memusat menjadi buah pikiran. 

Untuk itu, pemuda, pelajar, dan mahasiswa diimbau untuk berhati-hati dengan apa yang dilihat, dibaca, ditonton, dan didengar. Tidak ada manfaat dari membaca berita sampah yang berseliweran. Sebab, setiap kebiasaan, baik ataupun buruk, berawal dari kesimpulan pikiran saat mengkonsumsi sebuah objek, termasuk dalam hal ini informasi.

Hal itu dikatakan Shohibul Anwar saat menyampaikan materi dalam acara Leadership Training diikuti ratusan peserta pelajar dan mahasiswa se-Jabodetabek digelar PP Syaabab Hidayatullah bertajuk “Mewujudkan Pemuda Masa Depan Indonesia Berkarakter Intelektual Ideologis” di Kota Depok, Sabtu (18/05/2013).   

Dikatakan Ketua Persaudaraan Dai Nusantara (POSDAI) ini, dengan adanya perangkat lunak tersebut setiap manusia dapat melihat dan menerjemahkan suatu keadaan atau objek, serta dapat mengekspektasinya dalam bentuk perkataan. 

Sehingga, terang dia, untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat, “perangkat-perangkat” tersebut harus selalu terinstal dengan baik.

Anwar menerangkan, manusia sebagai pengendali perangkat kesempurnaan manusia itu, harus mampu mengendalikan operasionalisasi perangkat lunak yang terdapat dalam setiap diri manusia itu, bukan justru dikendalikan.

“Jika pikiran terinstal dengan baik sesuai fitrah kemanusiaan maka nurani berkuasa dengan nalar akan mencari dalil untuk menjelaskan kebenaran. Sebaliknya, kalau salah instal, ia akan dikuasai hawa nafsu yang nalarnya dijadikan dalih untuk merekayasa kebenaran,” kata Shohibul Anwar.

Dijelaskan dia, ketika manusia melihat suatu kejadian atau objek, maka akal yang distimulasi melalui perangkat rasa, merespon hal tersebut menjadi sebuah paradigma atau rangkaian pikiran. Setelah itu terjadi transfer pemikiran yang menghasilkan kesimpulan. 

“Sehingga, adik-adik pelajar yang ingin lebih baik, jangan isi atau menginstal pikiran kita dengan informasi sampah. Berita sampah, tontonan sampah, iklan sampah. Sebab jika itu yang dominan melingkupi pikiran kita lambat laun akan mengotori dan menjadi sebuah kebiasaan buruk,” katanya.

Perilaku suka bolos sekolah, marah, tawuran, bahkan kencanduan merokok adalah merupakan buah dari kesimpulan pikiran yang pada dasarnya diawali dari salah program pikiran kita, jelas Shohibul. 

Merokok misalnya, diawali oleh pikiran yang menyatakan tidak ada salahnya sesekali mencoba. Dari mencoba akhirnya menjadi kecanduan lalu terciptalah sebuah kebiasaan buruk itu. 

Padahal, jelas Anwar, apabila pikiran selektif alias tidak sembarangan menginstal, ia akan membuat pemiliknya tetap berada dalam firahnya. 

Anwar pun memberikan contoh bagaimana pikiran dapat dengan segera menyimpulkan sesuatu, meyakininya, dan kemudian susah untuk menghapusnya dari memori pikiran. 

Kepada peserta leadership training ini ditanyakan apakah tahu apa dan bagaimana buah rambutan, semua sepakat menyatakan tahu dan bisa membayangkan wujudnya. Kemudian ditanya lagi, apakah peserta tahu seperti apa buah durian. Jawabannya sama, sangat tahu.

Saat Shohibul Anwar menanyakan kepada peserta apakah mereka tahu seperti apa buah simalakama, peserta sontak tercenung. Mereka tidak tahu apa dan bagaimana itu wujud buah simalakama. 

Anwar pun kemudian menggambarkan bahwa buah simalakama itu seperti buah rambutan dan durian; besarnya seperti buah rambutan sekira ukuran telur dan kulitnya berduri layaknya buah durian.

“Sekarang saya tanya, bagaimana itu buah simalakama,” tanya Anwar kemudian. Peserta serentak menjawab sebagaimana telah digambarkan. 

Nah, sekarang sudah tahu ya, bagaimana itu buah simalakama. Sekarang, saya minta Anda hapus kembali kesimpulan buah simalakama tadi dari pikiran Anda. Susah, ya,” lanjut Anwar kemudian ditimpali anggukan serius dari peserta.

Begitulah, tandas Anwar, pikiran dapat segera menginstal segala hal yang ditangkap oleh penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Lalu menaruhnya di pikiran alam bawah sadar, meskipun situasi atau objek itu tak pernah sekalipun dilihat secara kasat mata.         

“Maka berhati-hatilah dengan apa yang Anda lihat, yang Anda baca, yang Anda tonton, yang Anda dengar, tidak ada manfaatnya membaca berita sampah. Sebab, setiap kebiasaan, baik ataupun buruk, berawal dari kesimpulan pikiran,” tandas dia.

PP Syabab Hidayatullah kembali menggelar kegiatan leadership training yang diikuti ratusan pelajar dan mahasiswa dari sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di Jabodetabek dan sekitarnya yang digelar selama 3 hari di Depok ini. 

Ketua Panitia Leadership Training ke-III Hanifuddin Ibrahim, mengatakan acara ini digelar bertujuan untuk menajamkan spirit menuntut ilmu bagi pelajar dan mahasiswa. Selain itu, juga dalam rangka menyiapkan intelektual muda berkarakter ideologis yang berakhlakul karimah dan berwawasan luas.

“Kegiatan semacam ini akan digelar secara berkesinambungan, Insya Allah. Leadership training kali ini adalah yang ketiga kami gelar sejak beberapa bulan lalu diikuti oleh 126 peserta,” tukas Hanifuddin yang juga mahasiswa STIE Hidayatullah ini didampingi Ketua Bidang Dakwah PP Syabab Hidayatullah Rahmat Ilahi Hadits.

Kegiatan ini menghadirkan instruktur nasional Syabab Hidayatullah yang berpengalaman di bidangnya diantaranya Asdar Majhari Taewang, Isnaini, Muhammad Faizal, Syaifullah Hamid, Musliadi Raja, Imam Nawawi, Suhardi, dan mendatangkan trainer dari lembaga motivasi dan pengembangan diri, HiTC, yang berpusat di Jakarta.*

Rep: Ainuddin Chalik

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !