Rabu, 27 Oktober 2021 / 21 Rabiul Awwal 1443 H

Nasional

Anggota DPR: Pemerintah Jangan Perlakukan Etnis Rohingya sebagai Imigran Gelap

Bagikan:

Hidayatullah.com—Hingga hari ini, nasib ratusan etnis Rohingya yang datang ke Indonesia belum jelas. Status mereka belum bisa diputuskan pemerintah Indonesiaa sebagai pengungsi atau bukan. Sementara Imigrasi dan media massa menyebut mereka imigran gelap. Padahal mereka dalam rangka mencari perlindungan.

”Warga Rohingya yang lari ke Indonesia adalah pengungsi, mereka lari karena adanya ancaman terhadap keselematan. Etnis Muslim Rohingya belum bisa kembali ke negeri mereka kecuali ada perubahan situasi mendasar. Oleh karena itu mereka tidak seharusnya di perlakukan sebagai imigran. Mereka sewajarnya dilakukan sebgai pengungsi atau pencari suaka,” demikian ucap Aboe Bakar Al Habsyi, Anggota Komisi III DPR RI, kepada hidayatullah.com melalui pesan singkat, Rabu (01/04/2013).

Sebagaimana diketahui selama ini etnis Muslim Rohingya yang datang ke Indonesia diperlakukan sebagai imigran gelap. Sementara nasib mereka yang masih terkatung-katung untuk mencari perlindungan, pemerintah Indonesia belum bisa memutuskan nasib mereka yang dinilai hanya menunggu penentuan status dari UNHCR, lembaga tinggi PBB yang mengurusi pengungsi.

”Indonesia seharusnya meratifikasi konvensi internasional 1951 dan protokol 1967 tentang satus pengungsi. Dengan demikian pemerintah bisa secara langsung menetapakan status pendatang etnis Muslim Rohingya sebagai pencari suaka atau pengungsi,” ungkapnya.

Setelah statusnya jelas, Aboe Bakar Al Habsyi mengusulkan untuk ditempatkan di tempat tertentu yang dikelola dengan otoritas khusus.

Menurutnya, Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) bukanlah tempat yang didesain untuk mereka, karena para pendatang Rohingya bukanlah pelanggar keimigrasian. Penempatan mereka di Rudenim yang melebihi kapasitas tampung akan mengakumulasi tingkat stress, akibatnya mereka mencoba kabur, melakukan tindakan kriminal dan bunuh diri.

Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia seharusnya mengambil peran aktif menyelesaikan persoalan HAM yang menimpa etnis Muslim Rohingya Arakan myanmar.

Dunia internasional pun harus melihat ini sebagai kejahatan kemanusiaan dan pembersihan etnis, sebagaimana hasil investigasi Human Right Watch (HRW).

“Jangan sampai ada diskriminasi dalam penegakan HAM. Ketika pelanggaran HAM menimpa orang Barat atau non Muslim semua pihat berteriak, namun saat pelanggaran HAM itu menimpa orang Muslim semua terdiam seribu bahasa,” ujar anggota DPR Dapil Kalimantan Selatan ini.*/Samsul Bahri

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Tayangkan Iklan Kondom, 11 TV Dapat Teguran KPI

Tayangkan Iklan Kondom, 11 TV Dapat Teguran KPI

Umat Islam Indonesia Tidak Punya ‘Rumah’

Umat Islam Indonesia Tidak Punya ‘Rumah’

Soal Penangkapan Wartawan, DPR Minta Parpol jangan Anti Kritik

Soal Penangkapan Wartawan, DPR Minta Parpol jangan Anti Kritik

Yusuf Mansur: Investasi Saudi di Mengangkat Ekonomi Umat

Yusuf Mansur: Investasi Saudi di Mengangkat Ekonomi Umat

“Gol Bunuh Diri” dalam Dakwah Harus Dihindari

“Gol Bunuh Diri” dalam Dakwah Harus Dihindari

Baca Juga

Berita Lainnya