Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Hadiah Abdullah untuk Jakarta yang Tidak Tenggelam

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

HADIAH paling mahal di dunia saat ini ternyata bukan hadiah Nobel yang nilai uangnya US$ 1.3 juta, tetapi Hadiah Ibrahim yang nilainya berpuluh kali dari hadiah Nobel. Hadiah ini diberikan oleh Mo Ibrahim Foundation untuk mantan-mantan pemimpin Afrika yang berfikir dan bertindak jauh kedepan untuk kepentingan rakyatnya, bukan untuk kepentingan saat dia menjabat saja. Di tengah euphoria demokrasi dan pemilihan pemimpin berdasarkan pencitraan yang dipoles, barangkali semacam Hadiah Ibrahim ini bisa menjadi salah satu solusi.

Mo Ibrahim Foundation didirikan oleh konglomerat telekomunikasi Afrika Dr. Mohammed “Mo” Ibrahim – dahulunya pemilik perusahaan telekomunikasi Celtel yang beroperasi di 14 negara-negara Afrika. Setelah menjual perusahaannya ini senilai US$ 3.4 milyar tahun 2005, dia mulai membagikan sebagian hartanya untuk mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin berkwalitas di Afrika.

Mo Ibrahim Foundation-pun mengeluarkan index untuk mengukur kinerja para pemimpin dan pemerintahan di Afrika dengan apa yang disebut IIAG – Ibrahim Index of African Governance atau disingkat Ibrahim Index.

Untuk pemimpin yang berfikir panjang dan membuat kebijakan yang tepat untuk masa depan rakyatnya, dikeluarkannyalah apa yang disebut Ibrahim Prize atau Hadiah Ibrahim. Nilainya tidak tanggung-tanggung, US$ 5 juta dibayar di depan kemudian setiap tahun diberikan tunjangan US$ 200,000,- dan tambahan US$ 2 juta untuk berbagai sebab lain.

Yang berhak menerimanya adalah para pemimpin berprestasi yang dinilai setelah dia pensiun untuk memastikan transisi kepemimpinan yang smooth dan menghindari effect pencitraan semata. Yang sudah pernah menerima hadiah ini adalah Nelson Mandela (hadiah kehormatan),  Joachuim Chissano (Mozambique, 2007), Festus Mogae (Bostwana, 2008) dan Pedro Pires (Cape Verde, 2011).

Barangkali kita juga perlu memberikan hadiah semacam ini kepada para pemimpin kita dari pusat sampai ke daerah, agar semasa memimpin ia tidak mementingkan kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya. Dia harus berfikir panjang untuk seluruh rakyatnya jauh kedepan.

Kegagalan pemimpin dalam berfikir panjang sudah kita rasakan dampaknya. Ibu kota yang tidak nyaman lagi untuk bekerja dan tinggal karena kemacetan , banjir, pencemaran air dan udara – adalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah Jakarta yang ambles sebagian wilayahnya (Pluit) 1.6 meter antara tahun 2000 s/d 2010 saja, membuat daerah itu kini berada 2 meter dibawah permukaan laut (dpl). Intrusi air laut yang terus merasek masuk semakin jauh ke daratan sehingga air tanah tidak lagi layak minum bagi sebagian besar penduduk Jakarta – adalah contoh tragis lainnya.

Apakah problem-problem dalam contoh-contoh tersebut di atas tidak diketahui sebelumnya? Saya pikir kok tidak kurang banyak ahli yang mampu memprediksinya sejak berpuluh tahun lalu. Yang tidak ada adalah kebijakan dan tindakan yang tepat untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi.

Barangkali kinilah saatnya bagi pemimpin Jakarta khususnya dan juga seluruh pemimpin di Indonesia pada umumnya untuk membuat  kebijakan dan tindakan yang tepat itu. Kebijakan yang bisa mengerem laju kerusakan life support (penopang kehidupan) bagi rakyat kini dan yang akan datang. Bahkan juga kebijakan yang mampu memperbaiki life support tersebut sehingga anak cucu kita bisa hidup lebih baik dari kita-kita kini. Bisa menghirup udara lebih bersih, bisa memperoleh air bersih lebih murah, bisa melahirkan generasi yang lebih sehat dlsb.

Untuk ini diperlukan pejabat yang siap tidak populer karena membuat kebijakan yang efek manfaatnya jangka panjang, sedangkan rakyat diajak kerja keras dan berkontribusi sejak saat ini. Untuk mendorong ini pula saya membuat serangkaian tulisan yang terkait dengan banjir dan perbaikan life support ini sejak beberapa tulisan sebelumnya.

Alhamdulilah di antara serangkain tulisan tersebut, sampai pula ke sebagian pihak yang berkompeten untuk membuat kebijakan yang terkait. Bahkan sebagian mereka telah mengundang saya untuk menjelaskan detailnya. Sebagian dari penjelasan detil saya tersebut adalah ilustrasi dibawah.

Teknik yang saya usulkan antara lain adalah membuat soil storage seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya – Agar Air Tetap menjadi Sumber Kehidupan.

Ilustrasi tersebut di atas intinya menggambarkan bahwa air yang berlimpah sekarang yang belum lama ini menjadi musibah banjir, bila di manage dengan benar sebenarnya air itu bisa mengisi supply bagi kelangkaan air jangka panjang kedepan – yang diprediksi McKinsey 25 juta orang akan tidak memiliki akses air bersih di Indonesia pada tahun 2030.

Supply untuk demand sekian tahun kedepan itu tersedia kini, maka diperlukan kebijakan dan tindakan yang tepat oleh para pemimpin yang berkompeten saat ini – untuk hasil yang bisa jadi hanya dirasakan sekian tahun jauh kedepan.

Selain air yang tersedia kini harus bisa menjadi supply air jangka panjang, dengan teknik soil storage yang diterapkan mulai dari daerah resapan di Selatan Jakarta, daerah pemukiman di pusat kota Jakarta sampai ke daerah yang sudah ambles sekalipun – Jakarta masih mungkin untuk bisa bebas banjir , proses turunnya permukaan tanah (ambles) mungkin masih bisa dihentikan dan intrusi air laut-pun masih mungkin dilawan dengan resapan air hujan melalui sejumlah biohole yang ditaburkan di seluruh wilayah terbuka hijau Jakarta.

Syaratnya adalah hadirnya pemimpin yang benar-benar pemimpin, memimpin rakyat untuk bersikap dan bertindak secara benar. Dan karena pemimpin seperti ini mungkin tidak populer karena hasil kerjanya tidak segera bisa dirasakan, dia harus siap untuk tidak dipilih lagi oleh konstituennya – yaitu rakyat kebanyakan yang bisa jadi tidak tahu hal sangat berharga apa yang sebenarnya telah dia lakukan.

Pemimpin sesungguhnya tetapi tidak makmur dan tidak terus terpilih di era demokrasi – karena kebanyakan rakyat pemilihnya tidak tahu – inilah yang harusnya kita beri hadiah semacam Hadiah Ibrahim yang saya perkenalkan di awal tulisan ini.

Tetapi karena tidak ada di antara kita yang sekaya Dr. Mohammed “Mo” Ibrahim tersbut di atas, segelintir rakyat ini bisa berpatungan membantu kehidupan pemimpin sesungguhnya yang tidak lagi menjabat tersebut. Karena dari rakyat yang banyak yang tidak bisa disebut satu persatu, maka kita namai saja hadiah tersebut misalnya menjadi Hadiah Abdullah. Hadiah dari hamba Allah untuk hamba Allah lain yang telah berbuat banyak untuk negeri dan rakyatnya. Hadiah yang sesungguhnya bagi pemimpin yang benar-benar pemimpin tersebut hanyalah dari Allah semata. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dr Ali Muhtadi, MPd : Tugas Guru Mengantarkan Murid Sukses Dunia Akhirat

Dr Ali Muhtadi, MPd : Tugas Guru Mengantarkan Murid Sukses Dunia Akhirat

KH Cholil Nafis: Komnas Perempuan Tak Mengerti Islam

KH Cholil Nafis: Komnas Perempuan Tak Mengerti Islam

Pengibaran Bendera Palestina Dinilai Langkah Maju, Tapi Belum Final

Pengibaran Bendera Palestina Dinilai Langkah Maju, Tapi Belum Final

IPHI: Perkuat Ukhuwah Islamiyah

IPHI: Perkuat Ukhuwah Islamiyah

Hidayatullah Lepas Relawan Guru Menuju Aceh

Hidayatullah Lepas Relawan Guru Menuju Aceh

Baca Juga

Berita Lainnya