Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Kurikulum Bahaya Rokok Belum Diproses, Kemendikbud Dinilai Terima Sumbangan Sampoerna

Anak-anak SMP yang sudah jago merokok
Bagikan:

Hidayatullah.com–Dewan Kehormatan Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), Ir. Nita Yudi, mengungkapkan Komisi Nasional (Komnas) Pengendalian Tembakau sudah empat tahun mengajukan edukasi tentang bahaya rokok ke dalam kurikulum namun hingga kini belum diproses oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Yang lebih aneh, Kemendikbud dinilai telah menerima sumbangan dari perusahaan rokok.

“Ya mereka bilang akan diproses tapi we don’t know sampai sekarang belum diproses, karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan malah terima yayasan sumbangan dari  Sampoerna Foundation,” demikiann ujar Nita saat kepada hidayatullah.com seusai seminar tentang “Kisruh Regulasi Rokok” di Auditorium Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, belum lama ini.

Padahal menurutnya, pengajuan edukasi bahaya rokok ke dalam kurikulum sudah diajukan dari tahun 2008 lalu.

“Yang mengusulkan Komnas Pengendalian Tembakau, Ikatan Ahli kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sama pak Abdillah dari Fakultas Demografi Universitas Indonesia,  membuat itu agar masuk kurikulum dan minta pada menteri pendidikan dan kebudayaan,” ujarnya.

Ia juga mengusulkan pada pihak Kemendikbud,  jika anak-anak Indonesia ingin pintar, pihak Kementerian tak lagi menerima iklan-iklan rokok dan sumbangannya.

“Kalau mau pinter anak-anaknya, Kementerian jangan terima itu iklan-iklan rokok dan sumbangannya, kalau negara lain bisa hidup tanpa rokok kenapa kita tidak?.” pesannya.
Perokok Anak Meningkat

Sementara di sisi lain, terdapat fakta yang cukup mengejutkan, Lembaga Demografi Universitas Indonesia menyebutkan prevalensi perokok anak usia 10-14 tahun meningkat 6 kali lipat selama 12 tahun dari tahun 1996 hingga tahun 2007.

Pada tahun 1995 jumlahnya hanya 0,3 persen atau sekitar 71.100 orang, kemudian meningkat tajam menjadi 2 persen atau sekitar 426.200 orang.

Menurut Komnas Perlindungan Anak, ini adalah trend yang mengkhawatirkan karena meningkatnya prevalensi merokok berarti meningkatnya beban ekonomi akibat merokok serta menurunnya sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang.*

Rep: Sarah Chairunisa
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dendeng Babi Meresahkan, Pemerintah Aceh Laporkan ke Polisi

Dendeng Babi Meresahkan, Pemerintah Aceh Laporkan ke Polisi

Bupati Yoyok Teringat Pesan Ibu, Jabatan itu Ringan yang Berat Sumpahnya

Bupati Yoyok Teringat Pesan Ibu, Jabatan itu Ringan yang Berat Sumpahnya

Pemerhati Sirah: Perayaan Idhul Ghadir Tak Dikenal dalam Islam

Pemerhati Sirah: Perayaan Idhul Ghadir Tak Dikenal dalam Islam

Ormas Gabungan Imbau Umat Bersabar Tunggu Hasil KPU

Ormas Gabungan Imbau Umat Bersabar Tunggu Hasil KPU

KNRP Akan Berangkatkan Relawan dan Artis ke Palestina

KNRP Akan Berangkatkan Relawan dan Artis ke Palestina

Baca Juga

Berita Lainnya