Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pendidikan Agama Kurang, Picu Terjadinya Tawuran Pelajar

Salah satu peristiwa tawuran yang dilakukan pelajar.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Kurangnya nilai agama di kalangan pelajar saat ini, menjadi pemicu utama terjadinya tawuran antarsiswa sekolah yang kembali marak terjadi.

“Karena mereka tidak memiliki pendidikan agama yang cukup, menjadikan mereka tidak tahu cara menghormati orang tua, menghargai teman dan guru. Inilah yang memicu terjadinya tawuran,” kata Ketua Lembaga Dakwa Sekolah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jalimudin, dalam acara forum diskusi kelompok yang diselenggarakan DPD HTI Kota Bogor, di Kota Bogor, Sabtu (29/09/2012).

DPD HTI Kota Bogor menggelar forum diskusi kelompok terkait tawuran dan stigma negatif Rohis sebagai produsen teroris. Peserta berasal dari sejumlah kalangan seperti perwakilan sekolah, perwakilan masyarakat, Satuan Tugas Pelajar, dan organisasi masyarakat peduli tawuran dan narkoba.

Dalam forum diskusi yang mengangkat tema “Membongkar stigma negatif Rohis produsen teroris dan mengurai benang kusut tawuran anak sekolah”, sejumlah pemikiran tentang solusi komprehensif penanganan tawuran secara Islami dipaparkan sejumlah peserta.

Jalimudin mengatakan, kurangnya pendidikan agama di sekolah karena sistem pendidikan di Indonesia menggunakan sistem sekulerisme kapitalis. Sistem ini telah mengurangi porsi pendidikan agama di sekolah.

“Pendidikan agama menjadi sangat penting dalam membentuk akhlak dan moral anak-anak. Tawuran menunjukkan rendahnya moral generasi mudah saat ini,” katanya.

Hal tersebut dibenarkan Ketua Satgas Pelajar Kota Bogor, TB Muhammad Ruchjani. Ia mengatakan, moral anak bangsa saat ini telah rusak, khususnya mereka yang terlibat tawuran.

Pelajar yang terlibat tawuran tidak segan-segan melawan guru, aparat, petugas maupun orang tuannya sendiri. Tidak adanya sikap menghargai, menghormati dan melindungi, menjadi bentuk rusaknya moral seorang anak.

“Kami melihat kebanyakan anak-anak yang terlibat tawuran ini merupakan anak dari kalangan menengah ke bawah. Kondisi sosial ekonomi menyebabkan mereka minim mendapat perhatian dari orang tua,” katanya.

Selain karena rendahnya moral akibat kemiskinan, lanjut Ruchjani, sistem pendidikan serta minimnya pengawasan dinas terkait juga menjadi penyebab utama terjadinya tawuran pelajar.

Menurutnya, Dinas Pendidikan harus bertindak tegas dalam mencegah tawuran, salah satunya memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah dengan mengurangi kuota rombongan belajar, serta mengeluarkan siswa yang terlibat tawuran.

“Yang paling penting, Dinas Pendidikan harus mendata sekolah-sekolah yang terlibat tawuran, lalu memberikan pembinaan. Data ini nantinya untuk catatan, bila sekolah tersebut terlibat tawuran dapat diberi sanksi agar kuota penerimaan siswa dibatasi. Selain itu, Dinas harus tegas mengeluarkan aturan larangan penerimaan siswa yang terlibat tawuran di sekolah manapun di Kota Bogor. Silakan dia pindah sekolah di luar Kota Bogor,” katanya.

Sementara itu, menurut salah satu perwakilan dari SMUN 4 Kota Bogor mengatakan, upaya pihak sekolah dan satgas Pelajar dalam menanggulangi tawuran telah optimal. Hanya saja, tidak adanya kejujuran di lingkungan sekolah, seperti antara komite dan sekolah. Hal ini menjadi penghalang dalam mencegah tawuran.

“Diperlukan kejujuran masing-masing pihak. Jika kita sudah jujur, kita optimalkan pengawasan, tawuran ini dapat diminimalisasi,” katanya, seperti dimuat Antara.

Selain itu, lanjut dia, perlu pembinaan secara berkelanjutan, khususnya pembinaan keagamaan untuk para pelajar. Salah satunya lewat kegiatan rohani keislaman yang kini mulai ditinggalkan.

Menurutnya, tawuran terjadi karena belum optimalnya pemanfaatan waktu pembelajaran siswa sehingga waktu luang dimanfaatkan untuk hal-hal negatif. Ditambah rendahnya pendidikan agama sehingga pelajar mudah terbawa arus pergaulan.

“Fasilitas pendidikan kita masih kurang, jam belajar juga tidak optimal. Banyaknya waktu luang ini yang dimanfaatkan siswa untuk berkumpul dan hura-hura. Jika jam pelajaran mereka dioptimalkan dengan pendidikan ekstra saya yakin kegiatan siswa akan lebih positif lagi,” ujarnya.

Forum diskusi kelompok yang digelar LDS DPD HTI Kota Bogor menghasilkan sejumlah pemikiran dan solusi-solusi konprehensif yang diharapkan dapat mengeliminasi terjadinya tawuran.

“HTI akan mencoba melakukan koordinasi dan mediasi dengan instansi terkait untuk bagaimana membantu mencegah terjadinya tawuran lewat kegiatan dakwah dan kerohanian di sekolah-sekolah. HTI juga akan melakukan pembinaan kepada sekolah dan juga siswa secara berkelanjutan,” kata Ketua panitia penyelenggaran forum diskusi kelompok LDS HTI Kota Bogor, Hadi.*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Heran, Kok Banyak yang Nafsu Bom Cirebon sebagai Ideologi Takfir!

Heran, Kok Banyak yang Nafsu Bom Cirebon sebagai Ideologi Takfir!

50 Persen Dosen di Indonesia Belum S2

50 Persen Dosen di Indonesia Belum S2

FUUI: Tutup Pintu Dialog dengan Syi’ah

FUUI: Tutup Pintu Dialog dengan Syi’ah

PTDI Produsen Tunggal Pesawat C212-400

PTDI Produsen Tunggal Pesawat C212-400

IPT ’65 Dinilai Melanggar HAM terhadap Umat Islam Indonesia

IPT ’65 Dinilai Melanggar HAM terhadap Umat Islam Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya