Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Dosa Pembunuhan Karakter yang Dilakukan Media Lebih Besar

Media yang menyiarkan juga ikut berdosa, bahkan lebih besar
Bagikan:

Hidayatullah.com– Mengingat makin banyaknya praktik pembunuhan karakter (Character assassination) yang  terjadi di bidang politik, hingga agama, Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi NahdIatul Ulama yang digelar di Ponpes Kempek Cirebon, Jawa Barat, 15-18 September 2012 akan mengeluarkan fatwa haram terhadap tindakan pernbunuhan karakter atau  perusak reputasi.

Pernyataan ini disampaikan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU, KH Arwani Faisal, dalam sebuah kolom di harian milin NU, Duta Masyarakat, Kamis, (13/09/2012). Dalam kolomnya berjudul “Pembunuhan Karakter Hukumnya Haram”, Arwani Faisal menjelaskan, fatwa haram atas pembunuhan karakter ini dikeluarkan sebagai wujud tanggung jawab moral sekaligus keprihatinan NU akan maraknya praktik pembunuhan karakter.

Menurut Arwani, praktik pembunuhan karakter atau upaya mencoreng reputasi guna menjatuhkan orang lain  terjadi dari lembaga politik hingga organisasi kemasyarakatan, bahkan lembaga keagamaan sekalipun.

Pembunuhan karakter, menurut NU, umumnya dilakukan dengan memanipulasi fakta kebenaran, pemberian dusta, serta melemparkan tuduhan melanggar norma agama, hukum maupun sosial dengan tendensius, tanpa melakukan konfirmasi terlebih dulu.

Selain itu pembunuhan karakter bisa juga dilakukan melalui cara membuka bahkan membeberkan hal-hal negatif, sekalipun itu fakta, terkait pihak yang menjadi sasaran ke khalayak ramai. Akibatnya reputasi seseorang menjadi rusak, karier terhambat, dipecat dari jabatan, sampai dikucilkan di tengah-tengah masyarakat.

Pelanggaran berat dan Peran Media Massa

Pembunuhan karakter dalam pandangan fikih, termasuk pelanggaran terhadap konsep hifdzul `irdhi (harga diri) yang hukumnya haram sebab perbuatan ini tidak lepas dari perbuatan ‘kidzib (dusta), ghibah (gosip), namimah (memfitnah), dan, atau membuka rahasia orang lain.

“Terkait pembunuhan karakter ini, saya juga mengingatkan media massa, yang sering kali sengaja atau tidak sengaja terlibat di dalamnya. Ini harus menjadi perhatian media.

Meskipun  hanya sebagai pihak ketiga, media yang menyiarkan berita yang di dalamnya terkandung pembunuhan karakter juga ikut berdosa, bahkan lebih besar, karena dampaknya lebih luas,” tulis Arwani.

Semoga, peringatan Bahtul Masa’il ini juga ikut menjadi perhatian lembaga dan media yang melakukan pembunuhan karakter guna menjatuhkan reputasi dan citra kaum Muslim.*

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Hasil Sensus Penduduk 2020: Jumlah Laki-laki Lebih Banyak dari Perempuan

Hasil Sensus Penduduk 2020: Jumlah Laki-laki Lebih Banyak dari Perempuan

87 Persen Kasus HIV/AIDS Landa Kaum Muda

87 Persen Kasus HIV/AIDS Landa Kaum Muda

MUI Sayangkan Pemberitaan Tendensius

MUI Sayangkan Pemberitaan Tendensius

Dirjen Pendidikan Islam: Guru Madrasah Harus Jadi Rujukan Masyarakat

Dirjen Pendidikan Islam: Guru Madrasah Harus Jadi Rujukan Masyarakat

3 Agenda GNPF Saat Ini, Termasuk Perkuat Ukhuwah Pasca Aksi 212

3 Agenda GNPF Saat Ini, Termasuk Perkuat Ukhuwah Pasca Aksi 212

Baca Juga

Berita Lainnya