Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Kemendagri Bolehkan Ahmadiyah Mengaku Islam di e-KTP

Masjid Ahmadiyah/ foto: Tribun
Bagikan:

Hidayatullah.com–Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kapuspen Kemendagri) Reydonnyzar Moenek mengaku, lembaganya memperbolehkan warga Ahmadiyah dan aliran Sunda Wiwitan mengisi agama Islam pada kolom agama di e-KTP.

“Itu hak mereka, mengisi Islam atau mengosongkan kolom agama di e-KTP,” ucap Reydonnyzar saat dihubungi hidayatullah.com, melalui telepon genggamnya Rabu (12/09/2012).

Biar bagaimanapun, tambah Reydonnyzar, warga Ahmadiyah dan aliran kepercayaan Sunda Wiwitan di Kuningan harus diberikan pelayanan pengisian folmulir e-KTP.

Masalah agama dan kepercayaan menurutnya, bukan hal yang menghalangi warga negara untuk tidak mendapatkan kartu identitas penduduk.

“Mereka wajib dapat e-KTP, tidak ada kaitannya dengan kepercayaan mereka. Ini hak masyarakat dan kewajiban negara,” tambahnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, hingga awal September  ini belum mendata warga Ahmadiyah dan aliran Sunda Wiwitan untuk pembuatan e-KTP.

Pihak Pemkab Kuningan masih menunggu keputusan dari Kemendagri di Jakarta.
Hal ini disebabkan Pemerintah Kabupaten Kuningan tidak memiliki kewenangan karena belum ada peraturan dari pemerintah pusat.  [baca: Status Agama Tidak Jelas, Ahmadiyah Manislor Sudah Dapat E-KTP]

Sebelumnya, saat muncul polemik Ahmadiyah dalam kasus Cikeusik, berbagai kalangan mengusulkan agar Ahmadiyah berani mendeklarasikan diri membuat agama sendiri selain Islam. Langkah ini dikemukakan guna menghindari konflik yang sering terjadi.

“Kalau warga Ahmadiyah tidak mengatasnamakan Islam, masalah ini sudah selesai. Tapi kan, meminta Ahmadiyah keluar dari Islam tidak mudah, tak mudah merubah keyakinan seseorang. Ini yang kemudian terjadi gesekan-gesekan seperti kejadian di Cikeusik,” ujar Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Hasyim Muzadi dikutip Tribunnews.com, Senin, 7 Februari 2011.

Pendapat serupa juga diambil Ketua PBNU, H. Slamet Effendy Yusuf. Menurut Slamet, langkah ini dinilai tepat karena keberadaan Ahmadiyah sudah lama eksis dan sulit ditiadakan.

”Banyak aliran-aliran dan itu terlindungi, tanpa harus menjadi agama,” kata dia saat berdialog dengan Gerakan Peduli Pluralisme (GPP), di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (06/10/2012) dikutip Republika Online.*  

Rep: Niesky Abdullah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

ACN: Konsensus Seksual dalam RUU P-KS Mencederai UU Perkawinan

ACN: Konsensus Seksual dalam RUU P-KS Mencederai UU Perkawinan

Ketua Bidang Keluarga MUI: Ketahanan Rumah Tangga Harus Dijaga, Suami-Istri Lebih Kreatif

Ketua Bidang Keluarga MUI: Ketahanan Rumah Tangga Harus Dijaga, Suami-Istri Lebih Kreatif

Dua Tokoh Pejuang Perempuan Indonesia yang Jarang Disebut

Dua Tokoh Pejuang Perempuan Indonesia yang Jarang Disebut

Panglima TNI Ditolak AS, Salim Said: Ini Bisa Dianggap Penghinaan

Panglima TNI Ditolak AS, Salim Said: Ini Bisa Dianggap Penghinaan

Adik Gus Dur Hasyim Wahid Meninggal, Ucapan Doa Berdatangan

Adik Gus Dur Hasyim Wahid Meninggal, Ucapan Doa Berdatangan

Baca Juga

Berita Lainnya