Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Nasional

Pandangan Masyarakat: Syiah Harga Mati di Sampang

Apakah memenjarakan Tajul Muluk merupakan akar dari solusi permasalahan Sampang?
Bagikan:

Hidayatullah.com–Pertikaian sektarian di Sampang Madura antara kaum Sunni dan Syiah dinilai terjadi karena adanya pelanggaran atas keberatan adanya aliran Syiah di Sampang, Madura. Pernyataan ini disampaikan  Wahid (inisial, red), seorang saksi mata kondisi kejadian. Menurutnya, kasus berdarah ini tak bisa dilepaskan dari kasus sebelumnya, Desember 2011, kasus pembakaran pertama.

Menurut  Wahid,  sampai saat ini, masyarakat masih penuh emosi. Hal ini dipicu oleh sikap warga Syiah yang dinilai masih bandel menyebarkan ajaran Syiah nya di Sampang Madura.

“Kondisi secara menyeluruhnya saya belum bisa bicara banyak, namun saat ini memang dipastikan penolakan terhadap ajaran Syiah sudah menjadi harga mati di sampan,” jelasnya kepada hidayatullah.com, Senin (27/08/2012).

Senada dengan Wahid, Siti Ruqoyyah permasalahan konflik di Sampang Madura ini tidak terlepas dari kasus sebelumnya, kasus penistaan agama oleh Tajul Muluk. Apalagi Tajul Muluk divonis bersalah oleh pengadilan. Sementara di sisi lain, para santri-santri Syiah dinilai masih menyebarkan ajaranya.

“Jadi masyarakat ini marah, karena santri-santri Tajul Muluk ini dinilai masih menyebarkan ajaran Syiah di Sampang, baik sembunyi-sembuyi maupun terang-terangan,” jelas Siti Ruqoyyah kepada hidayatullah.com.

Menurut Siti Ruqoyyah, sejak dikeluarkan Fatwa kesesatan Syiah oleh MUI Madura dan MUI Jawa Timur masyarakat Sampang sendiri masih mentolerir keberadaan komunitas Syiah. Masyarakat berharap dengan memberikan mereka hak hidup di Sampang mereka bisa bertobat dan kembali ke ajaran Islam yang benar. Namun, sikap-sikap santri-santri Syiah justru memicu geram warga Islam di sana.

“Jadi memang gesekan-gesekan konflik sejak kasus Tajul Muluk ini belum selesai,” jelasnya lagi.

Sebelum ini, Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA) punya versi lain atas konflik berdarah antara kaum Sunni dan Syiah, Desa Karanggayam, Omben Sampang, Jatim.

Dalam rilis nya yang dikirim ke kantor redaksi hidayatullah.com, Senin (27/08/2012), Bassra menemukan ada lemparan bom molotov dari kaum Syiah kepada kaum Sunni saat penghadangan bus. [Baca: Kronologis Kasus Sunni-Syiah Sampang Temuan Ulama Bassra]*

Rep: Thufail Al Ghifari
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Koopssus TNI Terbentuk, Jokowi Teken Perpresnya 3 Juli

Koopssus TNI Terbentuk, Jokowi Teken Perpresnya 3 Juli

Presiden Jokowi Sebut Penanganan Covid-19 Semakin Membaik

Presiden Jokowi Sebut Penanganan Covid-19 Semakin Membaik

Indonesia Kirim Dai ke Thailand Selatan

Indonesia Kirim Dai ke Thailand Selatan

Mensos: 100 Titik Lokalisasi Lagi yang Harus Ditutup

Mensos: 100 Titik Lokalisasi Lagi yang Harus Ditutup

SBY: Pencitraan Berlebihan Menurunkan Kepercayaan Rakyat

SBY: Pencitraan Berlebihan Menurunkan Kepercayaan Rakyat

Baca Juga

Berita Lainnya