Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

ACT Masih Dipersulit Masuk ke Kamp Rohingya

Selain ACT, masih terdapat 3 NGO yang diipersulit masuk ke Kamp Pengungsi Rohingya
Bagikan:

Hidayatullah.com–Hari keempat sejak pemberangkatan tim Aksi Cepat Tanggap (ACT)  saat ini masih kesulitan untuk bisa menembus ke pengungsi di perbatasan. Hal ini disebabkan sikap represif baik dari militer Myanmar di perbatasan maupun pemerintah di wilayah di Cox’s Bazar Bangladesh. Kabar ini disampaikan Tim ACT, Andhika P Swasono yang tengah berusaha mencari jalan masuk.

“Kita masih kembali ke Cox’s Bazar, agak sulit untuk masuk ke perbatasan karena pemerintah setempat sangat represif,” jelas Andhika P Swasono saat berkomunikasi via telpon dengan hidayatullah.com dari Bangladesh.

Menurut Andhika, saat ini selain ACT, terdapat 3 non-governmental organization (NGO) yang diipersulit untuk bisa masuk ke Kamp Pengungsi Rohingya. Baik yang ada di Kutapalung terlebih yang ada di perbatasan Myanmar-Bangladesh.

“Akses kami ditutup oleh pemerintah daerah di Cox Bazar,” jelas Andhika.

ACT sendiri terus memikir jalan-jalan alternatif dan cara lain untuk bisa menembus ke Kamp pengungsi Rohingya untuk membawa bantuan amanah sandang, pangan hingga kesehatan dari Rakyat Indonesia. ACT menargetkan Teknaf, Kutapalong hingga perbatasan Myanmar-Bangladesh sebagai tujuan penyaluran amanah keumatan ini, jelas Andika.

Peran Andhika sendiri menjadi sangat vital, karena jika dia berhasil menembus ke kamp pengungsi, akan menjadi kunci penting bagi kemudahan tim kedua ACT yang akan diberangkatkan sebelum Idul Fitri 2012.

Tim kedua ini nanti akan terdiri para dokter yang akan mengawal kebutuhan kesehatan pengungsi Rohingya.

Bangladesh Acuh

Sementara itu, Perdana Menteri Bangladesh Syekh Hasina dalam sebuah wawancara dengan Aljazeera English Channel menyatakan bahwa pemerintahannya tidak bertanggung jawab atas tragedi pembantaian etnis Muslim Rohingya di Myanmar.

Dia menyatakan bahwa permasalahan tersebut adalah masalah internal Myanmar dan Bangladesh tidak memiliki wewenang untuk mengintervensi pemerintahan Myanmar.

Sementara itu, di sisi lain, pemerintahan Bangladesh sendiri hingga hari ini selalu mengusir balik para pengungsi Rohingya yang datang menggunakan perahu untuk kembali ke laut.*

Rep: Thufail Al Ghifari
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

45 Ribu Warga Kehilangan Tempat Tinggal Pasca Gempa di Aceh

45 Ribu Warga Kehilangan Tempat Tinggal Pasca Gempa di Aceh

Menag Tegaskan Tak Ada Sanksi Pidana, Pendirian Pesantren Merujuk UU Pesantren

Menag Tegaskan Tak Ada Sanksi Pidana, Pendirian Pesantren Merujuk UU Pesantren

JAT: Penutupan PP Akhfiya  dan Pengeroyokan Ustad Mirip Isu Santet 1998

JAT: Penutupan PP Akhfiya dan Pengeroyokan Ustad Mirip Isu Santet 1998

Gus Kikin Berpeluang Gantikan Gus Solah Pengasuh PP Tebuireng

Gus Kikin Berpeluang Gantikan Gus Solah Pengasuh PP Tebuireng

Raplh Boys Bantah Bantuan AS Akan Digunakan Teror

Raplh Boys Bantah Bantuan AS Akan Digunakan Teror

Baca Juga

Berita Lainnya