Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Cari Masjid 10 KM, Santri Butuh Shalat dan Ngaji dengan Nyaman

Tak ada masjid, masyarakat dan santri manfaatkan Mushollah yang sudah dimakan rayap
Bagikan:

Hidayatullah.com—Masyarakat Muslim di desa Humane bisa merasakan bagaimana susahnya membangun tempat ibadah. Maklum, kaum Muslim di Pulau Nias ini tergolong minoritas.

Menurut seorang warga, Yahman Hulu,  di Nias umat Islam agak susah membangun masjid. Maklum, selain umat Islam hanya minoritas (5% saja),  komunitas Muslim tinggal  di lingkungan non Muslim, yang secara umum masyarakat di Pulau Nias adalah pemeluk agama Kristen.

“Kebanyakan Muslim di sini adalah pendatang. Jadi agak sulit untuk mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid melalui swadaya masyarakat,” ujar Yahman Hulu kepada hidayatullah.com.

Selain itu, kata Yahman, mungkin karena komunitas Muslim minoritas, perizinan mendirikan masjid di tempat ini juga agak susah.

Hanya, saja, dengan pekembangan jumlah umat Islam dan santri-santri yang ingin belajar Islam, kebutuhan  adanya masjid yang layak, bisa digunakan tempat shalat dan belajar tak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab warga dan santri tidak mungkin harus berjalan jauh mencari masjid yang jumlahnya terbatas.

“Jarak antara masjid  yang berada di desa Humane dan pondok pesantren
lebih kurang 10 Km. jadi sangat tidak memungkinkan untuk di gunakan untuk kegiatan beribadah sehari-hari,” ujar  Ust Sriyono, Pimpinan Pesantren Hidayatullah Nias.
 
Kegalauan serupa dirasakan para santri.  Muhammad Ali Lahagu, seorang santri di pesantren itu mengatakan, biasanya, ia shalat dan memperoleh pelajaran di mushollah Jabal Nur yang hanya berukusan 5 x 6 meter. Seiring dengan perkembangan santri, tempat ini sudah tidak layak lagi.

“Sekarang mulai ajaran baru, jumlah santri bertambah banyak dari 23 siswa. Saat ini santri sudah berjumlah 67 orang. Jadi kegiatan sholat dan pembelajaran diniyah sesudah sholat harus berdekat-dekatan dengan kelompok belajar lainya. Mudah mudahan Ramadhan ini kami bisa sholat tarawih di masjid yang sedang dibangun,” katanya penuh harap.

Karena  tak adanya masjid, selama ini, masyarakat Muslim hanya memanfaatkan keberadaan mushollah Jabal Nur, yang secara fisik sudah tidak layak lagi.

“Keberadaan Masjid saat ini sangat kami butuhkan, karena mushollah saat ini sudah tidak mampu menampung dan juga sudah tidak layak pakai lagi. Bangunan Musholla sudah banyak yang di makan rayap,” ujar Sriyono.

“Anak saya belajar di pesantren ini dengan segala kekurangan sarana dan prasarananya,” ujar seorang orangtua murid bernama Ikran Harefa. Karenanya, besar harapan Harefa agar ada sebagian kaum Muslim ikut mendengar keluhannya ini, semata-mata agar anak-anak Muslim di Pulau Nias ini juga bisa menikmati belajar Islam dan shalat dengan tempat yang layak.*/Masdar Ayub
 
Untuk bantuan masjid Nias bisa ke rekening BNI 70.000.333.5. Untuk konfirmasi, hubungi 0852 6047 4611.*

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sibuk Cikeusik, Sebuah Masjid di Medan Dibongkar Paksa

Sibuk Cikeusik, Sebuah Masjid di Medan Dibongkar Paksa

WNA asal Jepang Masuk Daftar Pemilih Tetap Minahasa Utara

WNA asal Jepang Masuk Daftar Pemilih Tetap Minahasa Utara

FPI Desak Pemerintah Kembalikan Materi Kurikulum Terkait Pemberontakan G-30S/PKI

FPI Desak Pemerintah Kembalikan Materi Kurikulum Terkait Pemberontakan G-30S/PKI

Din Syamsuddin: ‘Film BCG Singgung Perasaan Susila Masyarakat’

Din Syamsuddin: ‘Film BCG Singgung Perasaan Susila Masyarakat’

Federasi Muslimat Desak Pemerintah jadi Regulator Lembaga Pendidikan Asing

Federasi Muslimat Desak Pemerintah jadi Regulator Lembaga Pendidikan Asing

Baca Juga

Berita Lainnya