Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Antara Kecantikan, Sahwat dan Minimnya Prestasi

Bagikan:

oleh: Wahyu Ichsan

HARI Kamis (05/04/2012) aktivis Muslim di Aceh menggelar aksi demonstrasi mengisolasi mulutnya dan mengusung poster bertuliskan kecaman terhadap Rafika Soraya Azhar, peserta kontes kecantikan Miss Indonesia terkait keikutsertaannya di ajang Putri Indonesia 2012 mewakili Aceh.

“Saya memberanikan diri mewakili Aceh di ajang Miss Indonesia 2012, karena saya memang berdarah Aceh dan saya bangga mewakili Aceh. Melalui cara ini saya ingin mengangkat harkat wanita Aceh di tingkat nasional,” demikian ungkap Rafiqa Soraya Azhar dikutip serambinews.com.

“Saya percaya bahwa acara ini dapat mempertegas nilai-nilai keperempuanan di Indonesia, dan tidak menjurus kepada eksploitasi perempuan,” lanjutnya.

Tapi ini bukan kasus baru, sebelumnya, tahun 2009, muncul juga nama Qary Sandioriva, seorang berdarah Aceh yang dinobatkan sebagai Putri Indonesia 2009 dengan menyisihkan 38 finalis lain dari 33 provinsi.

Qary memikat hari para juri dan mampu mengalahkan dua pesaing yang masuk tiga besar. Dalam ajang yang disiarkan langsung oleh Indosiar, Qary menyisihkan Zukhriatul Hafizah dari Sumatera Barat (Runner-up I), dan Isti Ayu Pratiwi dari Maluku Utara (Runner-up II).

Qary lahir di Jakarta saat itu masih duduk di semester satu Sastra Prancis Universitas Indonesia. Qary merupakan putri kedua dari Fariawati, mantan calon anggota legislatif Aceh dari Partai Golkar. Kemenangan Qary dalam ajang kecantikan yang berlangsung di Hotel Nikko ini menuai beragam tanggapan publik Aceh. Tapi ia bahkan cuek kita keputusannya melepas jilbab hanya untuk mengejear ajang Miss Indonesia.

Bila kita telisik secara mendalam, alih-alih mengangkat harkat wanita, aksi seperti ini justru sebaliknya, membahayakan wanita. Sebab pergelaran kontes kecantikan tersebut menunjukkan bahwa perempuan itu yang dihargai tubuhnya bukan kepandaian dan kepribadiannya. Karena itu, jangan heran yang dilombakan adalah tubuh-tubuh semampai, wajah yang cantik dengan berbagai pakaian yang terbuka. Pertanyaan-pertanyaan dari juri ketika lomba hanya kamuflase untuk menutupi tujuan ekploitasi. 

Terlepas dari polemik, sang pemenang dan kandidat berikutnya berasal dari provinsi syariat Islam atau tidak, yang jelas kontes semacam itu sebenarnya satu bentuk eksploitasi terhadap wanita, dan tidak mendidik bangsa untuk menghargai wanita dengan tepat. Unsur-unsur fisik yang seharusnya tidak perlu diperjuangkan oleh seorang wanita malah dihargai melebihi prestasi keilmuan.

Banyak wanita Indonesia yang bejuang keras membangun masyarakatnya. Namun, mereka tidak mendapatkan penghargaan setinggi putri Indonesia atau Miss Universe. Guru-guru wanita di berbagai daerah miskin di Indonesia yang gigih mengabdikan diri, mendidik masyarakat, mendapatkan penghargaan yang sangat minim dan tidak manusiawi. Guru-guru TK dan SD, misalnya, masih ada yang mendapatkan gaji Rp. 50.000 per bulan. Padahal, mereka adalah pahlawan bangsa yang sesungguhnya. Mereka mendidik anak-anak dengan ilmu, bukan dengan membanggakan kondisi fisik, yang merupakan anugerah Sang Pencipta. Mereka justru lebih berhak mendapat pujian dibanding anak-anak minim prestasi yang hanya mampu menjual kecantikan dan tubuh.

Jika ditelusuri, sikap eksploitatif terhadap tubuh wanita itu — atas nama pemujaan terhadap wanita — merupakan kutub ekstrim yang lain setelah di masa peradaban Barat yang silam mereka berada di kutub penindasan wanita yang serba brutal.

Antara Sahwat danPrestasi

Ajang Kontes Putri Indonesia bagi penulis tidak lebih dari sebuah gerakan syahwat, disbanding prestasi. Anehnya, mengapa hal seperti ini justru mendapatkan tempat yang tinggi oleh banyak kalangan dan bahkan pemerintah.

Mari kita lihat bagaimana mirisnya kondisi pendidikan negeri kita, kita semua tahu urutan Kualitas Pendidikan Indonesia di mata dunia selalu menduduki urutan paling bawah. Sejak 1997 hingga 2009 menurut hasil survei World Competitiveness Year Book, pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut: tahun 1997 dari 49 negara yang diteliti, Indonesia berada di urutan 39.

Pada tahun 1999, dari 47 negara yang disurvei, Indonesia berada pada urutan 46. Tahun 2002 dari 49 negara, Indonesia berada pada urutan 47, dan pada tahun 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan yang ke 53. Tahun 2009, Peringkat ke-111 diantara 182 negara.

Sementara hasil penelitian program pembangunan PBB (UNDP) tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia berada pada urutan 109 dari 174 negara, jauh dibandingkan dengan negara tetangga Singapura (24), Malaysia (61), Thailand (76) dan Philipina (77).

Berdasarkan data hasil penelitian di Singapura (September 2001) menempatkan sistem pendidikan Indonesia pada urutan 12 dari 12 negara Asia bahkan lebih rendah dari

Vietnam. Peringkat ini dilansir dari laporan monitoring global yang dikeluarkan UNESCO.

Penelitian terhadap kualitas pendidikan dasar ini dilakukan oleh Asian South Pacific Beurau of Adult Education (ASPBAE) dan Global Campaign for Education. Studi dilakukan di 14 negara pada bulan Maret-Juni 2005.

Laporan ini dipublikasikan pada 24 Juni lalu. Rangking pertama diduduki Thailand, kemudian disusul Malaysia, Sri Langka, Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua Nugini, Kep. Solomon, dan Pakistan. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 dan memiliki rata-rata E.

Kenapa demikian? Seperti yang telah dijelaskan di atas, negara kita menempatkan para guru pada posisi yang tidak manusiawi, sedang ajang syahwat mendapatkan dukungan, bahkan Indonesia menduduki urutan negeri pornografi kedua terbesar setelah Rusia. Bahkan menurut data dari search engine terakhir sekitar satu bulan lalu menyebutkan, Indonesia menjadi negara pengakses situs pornografi tertinggi di dunia (Detiknet, Rabu (14/3/2012)).

Kesimpulan

Sebenarnya kontes kecantikan semacam Putri Indonesia sama sekali tidak memuliakan wanita, bahkan merendahkan wanita. Sebab wanita dihargai dan dianggap mulia hanya karena kecantikan fisik yang mereka miliki.

Karenanya, dalam Islam kedudukan wanita mulia bukan karena kecantikan, harta atau jabatannya, tetapi karena ketakwaanya, yaitu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS. al-Hujurat:13)

Penulis Mantan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh – Jakarta 2010-2012. Kini, mahasiwa Master of Political Science di IIUM

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Buku Mitsuo Nakamura tentang Muhammadiyah Karya Monumental Penyempurnaan Buku Tahun 1983

Buku Mitsuo Nakamura tentang Muhammadiyah Karya Monumental Penyempurnaan Buku Tahun 1983

Santri NU dukung Amien Rais

Santri NU dukung Amien Rais

Ba’asyir Bantah Pernah Jadi Anggota NII

Ba’asyir Bantah Pernah Jadi Anggota NII

Global Halal Business Forum Akan Dihadiri 16 Negara

Global Halal Business Forum Akan Dihadiri 16 Negara

Murhali Barda Dituntut 6 Bulan Penjara

Murhali Barda Dituntut 6 Bulan Penjara

Baca Juga

Berita Lainnya