Rabu, 1 Desember 2021 / 25 Rabiul Akhir 1443 H

Nasional

Irman Gusman: Wacana Peradaban Islam Perlu Terus Digulirkan

Bagikan:

Hidayatullah.com– Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI Irman Gusman, mengatakan wacana kajian Peradaban Islam harus digiatkan dan berkelanjutan. Hal tersebut, kata dia, sebagai usaha untuk menyampaikan kepada khalayak ramai, dan bukan saja kepada umat Islam, bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘aalamiin bukan agama radikalisme.

Ia pun mengatakan pihaknya mendukung diselenggarakan acara kajian peradaban guna mengkaji nilai nilai Islam. 

“Membangun peradaban Islam adalah merupakan kerja yang sangat mulia. Kajian peradaban Islam sangat tepat dilakukan mengingat saat ini Indonesia butuh solusi dari banyaknya masalah yang mendera,” ujar Irman Gusman dalam acara Seminar Peradaban bertema, “Membangun Peradaban Islam, Membangun Indonesia Masa Depan Dengan Al-Qur’an” yang diselenggarakan INISIASI-Hidayatullah di Auditorium Universitas Al Azhar Indonesia, Kebayoran Baru, Jakarta, (28/1/2012).

Irman menjelaskan, pasca tragedi 11 September runtuhnya gedung kembar WTC di Amerika, secara tidak langsung hal itu mempengaruhi banyak orang khususnya di Barat, dan itu meciptakan rasa penasaran yang dalam benak mereka untuk mempelajari apa itu Islam sesungguhnya.

Salah satu hikmah dari peristiwa tersebut, lanjut dia, adalah tidak sedikit dari orang orang yang sebelumnya terlanjur punya pandangan buruk terhadap Islam, akhirnya dapat memahami Islam sesungguhnya yang ternyata sangat berbeda dengan Islam yang mereka ketahui dari pemberitaan media di Barat itu.

Dalam pada itu, jumlah pemeluk Islam pun kian bertambah. Secara kuantitas umat Islam memang membanggakan. Namun, imbuh Irman, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh lembaga Kerjasama Negara-Negara Islam (OKI) pada tahun 2006, menyebutkan sebanyak 240 juta Umat Islam dunia masih berada dalam garis kemiskinan.

“Termasuk dalam penelitian itu keterpurukan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal yang dipahami Islam adalah peradaban yang mencerahkan, Islam renesaince, Islam pencerahan,” tuturnya.

Tapi tak bisa dielak pula, mengutip perkataan sarjana Barat Paul Kennedy dalam The Rise and Fall of the Great Power, Irman menegaskan bahwa dalam bidang matematika, kastografi pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum muslimin pernah selalu berada di depan.

Ia melanjutkan, menegakkan peradaban Islam di Indonesia adalah pekerjaan yang tidak ringan. Kata Irman, Indonesia memang negara yang berpenduduk Muslim terbesar d dunia. Namun, kata dia, Indonesia ternyata negara yang sangat tidak Islami.

Kesimpulan tersebut sendiri merujuk pada sebuah hasil penelitian bertema ”How Islamic are Islamic Countries” yang dilakukan oleh Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010).

Penelitian itu menyebut Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adapun ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dalam penelitian tersebut diambil dari al-Qur’an dan hadits, dan dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

“Sekarang, bagaimana Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dalam kancah peradaban saat ini. Jangan-jangan kita di Indonesia ini terpuruk karena terjebak pada hal hal simbolik, padahal lebih dari itu Islam itu juga substansi. Makanya ada yang sholat rajin, tapi korupsi jalan. Umrohnya rajin, suap juga diterima,” imbuh Irman.

Irman menambahkan, dasar Islam adalah keadilan. Sehingga dia sangat yakin kapitalisme akan mati dan ini sudah tampak saat ini, begitupun dengan komunisme yang jauh dari praktik keadilan. Kata Irman, hanya peradaban Islam yang bisa menggantikan kesemua ideologi itu.

Seminar yang digelar lembaga Institute For Islamic Civilization Studies and Development (INISIASI) ini menghadirkan juga pembicara lainnya yaitu Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Ir. Isran Noor, Ketua PP Hidayatullah DR. Abdul Mannan,  Dosen Ilmu Politik dan Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Burhanuddin Muhtadi, Direktur INSISTS DR. Adian Husaini, Ustadz Yusuf Mansur, dan Direktur INISIASI-Hidayatullah Ustadz Suharsono.*

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Mahfudz Sidik: BIN Perlu Tempatkan Perbinlu Di Turki

Mahfudz Sidik: BIN Perlu Tempatkan Perbinlu Di Turki

PBNU Tolak Peringatan HUT Israel di Indonesia

PBNU Tolak Peringatan HUT Israel di Indonesia

Gerakan Pawai Kebangsaan akan Dideklarasikan di Aceh

Gerakan Pawai Kebangsaan akan Dideklarasikan di Aceh

Senator DKI: Anies Semakin Berprestasi, Semakin Dicaci

Senator DKI: Anies Semakin Berprestasi, Semakin Dicaci

Pakar Komunikasi: Media Sosial Lahirkan Keintiman Semu, Perilaku Iri Hati dan Ilusi

Pakar Komunikasi: Media Sosial Lahirkan Keintiman Semu, Perilaku Iri Hati dan Ilusi

Baca Juga

Berita Lainnya