Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Kronologis Ajaran yang Dibawa Tajul Muluk Sejak 2006

Bagikan:

Hidayatullah.comBerbeda dengan temuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya tentang rincian kasus Syi’ah di Sampang, Madura, dalam kasus konflik bermuatan agama ini, para ulama setempat justu punya catatan lebih rinci.

KH. Ali Karrar Sinhaji, Pimpinan PP Daruttauhid, Desa Lenteng, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan Madura membuat catatan rincian dan kronologis kejadian masalah sebelum meledak kasus yang dimuat berbagai media massa akhir-akhir ini.

Kronologis kejadian ditulis semenjak tahun 2006, lengkap beserta 22 bentuk ajaran yang didakwahkan hingga membuat warga sekitar resah.

Laporan ini sekaligus membantah temuan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya yang telah dimuat di berbagai media massa bahwa ada provokasi sistematis yang dilakukan tokoh agama.

“Padahal, yang terjadi sebaliknya. Kerusuhan terjadi setelah adanya ajaran yang meresahkan warga yang didakwahkan Tajul Muluk setelah kembalinya dari Iran,“ jelas Kiai Haji Ali Karrar kepada hidayatullah.com, Selasa (03/02/2012).

Seringnya terjadi bentrok membuat ulama turun tangan untuk mengantisipasi masalah membantu pemerintah. Di antaranya mendatangkan Tajul serta memintanya kembali ke ajaran yang benar.

Peran ulama ini dilakukan jauh sebelum adik Tajul Muluk, Ra’is Hukama keluar dari Syi’ah. Namun karena dalam banyak kesepakatan Tajul Muluk dinilai sering ingkar, maka kalangan ulama akhirnya pasrah.

“Karena semua itu seluruh kejadian yang terkait dengan bentrok antara NU Sunni dan Tajul cs, kami para ulama sudah tidak ada urusan,” tambahnya.*

Di bawah ini adalah kronologis kejadian Syi’ah di Sampang semenjak 2006 versi ulama.

Kami Ulama Pesantren Madura mulai mengetahui dan menangani kesesatan Tajul Muluk cs. Sejak tahun 2006, di mana sebelum itu ketika Moh. Ra’is adik Tajul Muluk masih satu kubu dengan Tajul mendakwahkan faham ajarannya dikalangan Masyarakat Karanggayam dan Blu’uran yang mayoritas NU Sunni, sehingga membuat masyarakat resah.  Akibat ajarannya itu, maka sering terjadi bentrokan dengan masyarakat yang akhirnya masyarakat melaporkan kepada kami dengan membawa 22 tuduhan kesesatan Tajul-Ro’is. [bac: Ulama Beberkan 22 Ajaran yang Meresahkan]
Maka kami mengumpulkan Ulama Pesantren dari empat Kabupaten di Madura dan ditempatkan dirumah Alm. H. Sya’bi tepatnya pada tanggal 20-2-2006 dan hadir pula H. Fadlilah Budiono (Bupati sampang saat itu) serta Bpk. Imron Rosyidi (Ket. Depag saat itu) dengan agenda “Klarifikasi tuduhan-tuduhan tersebut kepada yang bersangkutan”, hadir pada waktu itu Tajul Muluk bersama kawan-kawannya dengan membawa beberapa kitab rujukannya, dan pada waktu itu kami sodorkan 6 perjanjian, maka Tajul muluk meminta waktu untuk berfikir dan siap menjawab pada pertemuan selanjutnya.
Setelah berapa hari dari pertemuan itu kami mengutus sebagian kiai yang diketuai KH. Abd. Wahhab Adnan bersama dengan MUI Sampang pada masa itu KH. Mubassyir dan Kapolsek Omben menemui Tajul cs. di Masjid Landeko’ Karanggayam di tempat kediaman kakek Tajul (KH. Ac. Nawawi) untuk membujuknya agar menerima 6 perjanjian dari ulama tersebut, dan Alhamdulillah dia menerima.
Kemudian kami mengadakan pertemuan susulan tepatnya pada hari Ahad 27 Muharram 1427 H. / 26 Februari 2006 M. yang dihadiri semua yang hadir pada pertemuan pertama untuk mendengarkan jawaban Tajul cs. Namun yang bersangkutan tidak mau hadir, maka majelis pertemuan mengeluarkan surat pernyataan melepas diri dari urusan Tajul dan menyerahkan kepada aparat yang berwajib serta tidak bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi. 
Di lain kesempatan, MUI Sampang bersama Ketua PCNU Sampang, Ketua DPRD Sampang, Depag Sampang, KA Bakesbangpol Sampang, dan para Ulama Sampang telah mengadakan pertemuan dengan Tajul cs. tepatnya pada 26 Oktober 2009 di PP. Darul Ulum Gersempal Omben.
Dan pada hari Senin 11 April 2011 M / 07 J. Ula 1432 H. kami mendapatkan undangan dari Kapolres Sampang untuk menemui Mabes Polri dengan rombongan, dan menghasilkan kesepakatan sebagai berikut:

Tajul muluk cs. harus angkat kaki dari Madura
Tidak menyebarkan fahamnya di kalangan masyarakat di Madura
Semua pengikutnya harus kembali bergabung dengan majelis ta’lim NU Sunni untuk dapat dibina kembali

Sekian rincikan kronoligis ini kami sampaikan, terimakasih atas segala perhatian

ttd,

Abuya Ali Karrar Sinhaji
Pimpinan PP Daruttauhid, Desa Lenteng, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan

Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Wantim MUI: Umat Islam Paling Toleran, Tak Adil Dijadikan Objek Isu Radikalisme

Wantim MUI: Umat Islam Paling Toleran, Tak Adil Dijadikan Objek Isu Radikalisme

Masjid Agung Madani Ditetapkan Sebagai Masjid Agung Percontohan I Tk Nasional

Masjid Agung Madani Ditetapkan Sebagai Masjid Agung Percontohan I Tk Nasional

AIMMA Ajak Lembaga-lembaga Kemanusiaan Bersatu

AIMMA Ajak Lembaga-lembaga Kemanusiaan Bersatu

PP Muhammadiyah: Sikap PGGJ Mengancam Hak Konstitusional Warga

PP Muhammadiyah: Sikap PGGJ Mengancam Hak Konstitusional Warga

JK Janji Bangun 10 Ribu Masjid Dilengkapi Pos Kesehatan

JK Janji Bangun 10 Ribu Masjid Dilengkapi Pos Kesehatan

Baca Juga

Berita Lainnya