Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

KMII Gagas Bentuk Pusat Pengembangan Media Islam Internasional

Bagikan:

Hidayatullah.com–Kerjasama sama media-media Islam tidak cukup hanya bertemu dalam sebuah konferensi. Untuk itu selayaknya diwujudkan dengan membuat sebuah pusat bagi pengembangan media Islam. Demikian dikemukakan Parni Hadi, wartawan senior dari Indonesia saat berbicara pada Konferensi Media Islam Internasional ke-2 di Jakarta, Rabu (14/12/2011).

“Karena itu perlu dibuat sebuah lembaga bagi jurnalis Muslim dengan nama International Islamic Media Development Centre (IIMDC),” kata mantan pimpinan Kantor Berita Antara dan RRI (Radio Republik Indonesia) ini.

Keberadaan pusat lembaga pengembangan media Islam internasional, menurut Parni untuk mewujudkan para jurnalis yang bekerja di media massa dengan memiliki karakter yang berpedoman pada sifat Nabi Muhammad SAW atau prophetic journalism.

“Kita mengetahui sifat Nabi yaitu, sidik (benar), amanah (terpecaya), tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas),” kata mantan pemimpin redaksi sebuah surat kabar ini.

Sebagai indikator dari jurnalistik kenabian ini, lanjut Parni maka media Islam dalam menyampaikan pesan memiliki ciri khas yaitu, kebebasan berbicara, objektif, berpihak pada kebenaran, adil dan fair, kesejahteraan, dan perdamaian global yang mengisyaratkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Seperti diketahui, Indonesia telah dua kali menjadi tuan rumah konferensi media Islam internasional. Pada tahun 1980 pertama kali konferensi diselenggarakan di Jakarta dengan resmi dibuka oleh Presiden Soeharto. Saat itu disampaikan sebuah “Deklarasi Jakarta” antara lain akan dibuat sebuah kode etik wartawan Islam.

Menurut Doktor Nasir Abu Ali, dosen Universitas Abdul Kadir Arab Saudi,
media Islam sangat efektif sebagai sarana dakwah. Namun demikian menurut dia media Islam harus memiliki konsep yang jelas. “Apakah sebagai suatu ilmu atau sebatas sarana,” ujarnya.

Saat ini media sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama tersebut. “Tentu akan lebih efektif diajarkan sebagai ilmu sendiri,” imbuhnya.

Hari ketiga KMII ke-2 yang berlangsung 12-15 Desember ini diisi dengan beberapa paparan oleh para panelis. Direncanakan kegiatan ini Kamis siang ditutup oleh Menko Kesra Agung Laksono. Sebelum penutupan akan disampaikan rekomendasi oleh Sekjen Rabithah Alam Islamy Abdullah bin Abdul Mukhsin Al Turky.*

Foto: kemenag

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pendidik yang Berkualitas Merupakan Kunci Pendidikan

Pendidik yang Berkualitas Merupakan Kunci Pendidikan

Adhyaksa Dault: Indonesia Belum Punya Cetak Biru Arah Bangsa

Adhyaksa Dault: Indonesia Belum Punya Cetak Biru Arah Bangsa

Pemulangan Istimewa Hj Culan, Pertama Kali dalam Sejarah Perhajian Indonesia

Pemulangan Istimewa Hj Culan, Pertama Kali dalam Sejarah Perhajian Indonesia

Dibutuhkan, 10 Ribu Paket Takjil untuk Dhuafa

Dibutuhkan, 10 Ribu Paket Takjil untuk Dhuafa

Bebaskan al-Quds, Jangan Isti’jal!

Bebaskan al-Quds, Jangan Isti’jal!

Baca Juga

Berita Lainnya