Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Menhut: Dai Bisa Jadi Jubir Lingkungan

Bagikan:

Hidayatullah.comKawasan hutan Indonesia merupakan dua pertiga dari luas daratan yang ada (190 juta hektar). Tetapi, 130 juta hektar area perhutanan ini hingga sekarang yang masih bagus sisa 40-an juta hektar saja. Lainnya sudah habis akibat eksploitasi. Yang tersisa inipun letaknya berjauhan. Pernyataan ini disampaikan Menteri Kehutanan RI, Zulkifli Hasan dalam sambutannya sebelum menutup Pembekalan Dai Sarjana Hidayatullah (PDSH) 2011, Senin (03/10/2011).

Menurut Zulkifli, bahkan, sangking parahnya kerusakan hutan Indonesia, Kalimantan yang selama ini dikenal sebagai paru-paru dunia sekalipun, hutannya juga telah diambang kritis.

“Tinggal hutan di daerah perbatasan dengan negara-negara tetangga, seperti Malinau di Kalimantan Timur,” ujarnya di hadapan ratusan peserta yang memenuhi Masjid Ummul Quraa’, Pondok Pesantren Hidayatullah, Depok, Jawa Barat.

Sedang untuk Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur, lanjutnya, daratannya tidak begitu luas.

Topik “perhutanan” memang jadi tema utama penyampaian Zulkifli siang itu kepada para dai asal Hidayatullah yang akan dikirim ke pulau-pulau terpencil.

Usai memberi pengantar terkait parahnya kerusakan hutan di Tanah Air, Menhut berharap dan mengajak Hidayatullah sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia agar dapat berperan aktif dalam menjaga kesinambungan alam.

“Santri-santri dan para sarjana dari Hidayatullah kami tantang untuk berlomba-lomba berbuat amal shaleh,” ajaknya, sembari menekankan tugas berat tersebut sebagai suatu kemuliaan.

Bukankah Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat untuk seluruh alam). Selama ini, kata Menteri dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu,  orang melihat kawasan hutan hanya sebagai pepohonan, dianggap sebatas kayu-kayu yang berjejer sehingga boleh diekspolitasi secara berlebihan. Juga hewan-hewan yang dilihat sekedar sebagai sesuatu yang bisa diburu dan dimangsa. Padahal, lanjutnya, Allah SWT telah menegaskan bahwa seluruh alam adalah makhluk-Nya (juga). Sebagai satu ekosistem (kesatuan) alam, ciptaan Tuhan yang lain mesti dihargai pula.

“Manusia makhluk yang paling paripurna ditunjuk sebagai khalifah, tidak hanya memimpin manusia tapi juga memimpin alam semesta,” tegas Zulkifli.

Zulkifili meminta para santri dan dai untuk ikut memperbaiki lingkungan khususnya dengan giat menanam pohon.

“Para santri jangan sampai kalah dengan burung. Burung saja, katanya, ke mana-mana selalu menanam pohon. Setiap terbang, burung membawa biji-biji yang dia makan lalu menyebarkannya. Itu mengapa ada jenis pohon di Afrika bisa tumbuh di negeri ini.”

Suatu kesyukuran bagi Menhut dengan adanya Hidayatullah di berbagai penjuru Indonesia. Selain sebagai penyiar agama, da’i juga bisa jadi juru bicara lingkungan (di masyarakat).*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Adakah Solusi Atasi Usaha “Pemurtadan”?

Adakah Solusi Atasi Usaha “Pemurtadan”?

BPJPH: Sejumlah Daerah Menyatakan Kawasan Wisata Halal

BPJPH: Sejumlah Daerah Menyatakan Kawasan Wisata Halal

Muzzammil Yusuf: Disertasi “Milk Al Yamin” Penistaan Agama Berkedok Ilmiah

Muzzammil Yusuf: Disertasi “Milk Al Yamin” Penistaan Agama Berkedok Ilmiah

Tak ada Partai Pemenang, Tifatul singgung Koalisi Partai Berbasis Islam

Tak ada Partai Pemenang, Tifatul singgung Koalisi Partai Berbasis Islam

Pergub Larangan Ahmadiyah Wujub Aspirasi Masyarakat

Pergub Larangan Ahmadiyah Wujub Aspirasi Masyarakat

Baca Juga

Berita Lainnya