Rabu, 24 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Nasional

Amien Rais: Pemilihan Langsung pun Rentan Politik Uang

Bagikan:

Hidayatullah.com–Tokoh reformasi 1998 Amien Rais menceritakan harapannya membuat konsep pemilihan presiden secara langsung oleh masyarakat pada saat dirinya menjadi Ketua MPR RI.

Dikutip Tribunnews,  usai berbuka puasa, Kamis (18/8/2011) Amien menuturkan bahwa presiden dan wakil presiden dipilih langsung oleh rakyat untuk menghidari politik uang. Karena kalau yang memilih 560 anggota DPR-MPR itu sangat rentan dengan politik uang.

“Ada orang membayar satu orang satu milyar, jangan-jangan dia bisa memenangkan presiden. Makanya kita lempar langsung ke rakyat yang berdaulat,” tutur Amien.

Tetapi yang terjadi saat ini, menurutnya justru diluar jangkauaan pemikiran dirinya. Ternyata pemilihan langsung pun sangat rentan dengan politik uang, baik untuk memenangkan kursi Walikota, Bupati, Gubernur, bahkan Presiden. “Perlu ratusan milyar bahkan triliun, ini sudah seperti itu,” ucapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, menurut Amien tidak ada jalan lain selain melakukan penegakan hukum, bila ada kandidat atau wakilnya yang menyebar uang itu langsung ditangkap dan diganjar hukuman setimpal.

“Tapi lagi-lagi repotnya penegak hukum pun mudah dibeli. Jadi penegak hukum kadang-kadang mengetuk hukum sendiri karena politik uang tadi. Jadi seperti lingkaran setan,” ucapnya berseloroh.

Tapi dirinya punya harapan, kalau pucuk pimpinan negeri ini yaitu presiden, siapa pun nanti presidennya, memulai dirinya dengan administrasi dan organisasi yang bersih, tentu saja sang pemimpin tidak akan dijadikan sasaran tembak oleh pihak mana pun.

“Kalau pusat kekuasaan sudah bersih nah nanti kebawah akan lebih gampang. Tapi kalau yang diatas sudah kotor, yang di bawah tinggal jadi makmum, ya kalo kotor kotor semua,” ungkapnya.

Sebagai orang yang pernah menggulirkan reformasi, ia berharap adanya solusi pemberantasan korupsi dengan percontohan. Lalu, siapa yang harus menjadi contoh? Ya, tentu saja pemimpin yang ada di level yang tertinggi yaitu istana.

“Tetapi bila istana main uang, stafnya juga, KPK, apalagi ditambah kepolisian, politisi, kejaksaan, kalau seperti itu, ini musibah bangsa yang panjang,” ungkapnya.

Bila sudah pucuk pimpinan tertinggi di negara ini tidak ada lagi bisa dijadikan contoh, maka kita tinggal menunggu pimpian yang benar-benar bersih, tidak maju mundur menghantam korupsi.*

Rep: Muhammad Usamah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Menteri Teten: Impor Cangkul Simbol Ketertinggalan

Menteri Teten: Impor Cangkul Simbol Ketertinggalan

Para Tokoh: Gus Solah Guru Bangsa dan Ulama Panutan Umat

Para Tokoh: Gus Solah Guru Bangsa dan Ulama Panutan Umat

Rachmat Gobel Dukung Adhyaksa Dault Maju Sebagai Gubernur Jakarta

Rachmat Gobel Dukung Adhyaksa Dault Maju Sebagai Gubernur Jakarta

Warga Muhammadiyah Perlu Kaji Buku “Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin”

Warga Muhammadiyah Perlu Kaji Buku “Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin”

LAPAN: Hilal Kemungkinan Tak Terlihat

LAPAN: Hilal Kemungkinan Tak Terlihat

Baca Juga

Berita Lainnya