Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Nasional

Wapres: Zakat Dibutuhkan untuk Meningkatkan Kesejahteraan

Bagikan:

Hidayatullah.com—Untuk kunci efektivitas zakat, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yaitu pengumpulan dan sosialisasi, pengelolaan dan penyaluran, serta transparasi dalam pelaporan.

Hal ini disampaikan Wakil Presiden Boediono di depan peserta Konferensi Zakat International, di IPB International Convention Center, Bogor, Selasa (19/7).

Menurut Wapres, zakat sebagai upaya masyarakat dibutuhkan secara berdampingan dengan program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan, sehingga keinginan untuk menyejahterakan rakyat secara menyeluruh dapat lebih cepat tercapai.

Pemerintah terus mendukung gerakan zakat dengan berbagai program. Upaya tersebut dimulai dengan disahkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat.

Kemudian Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2001 tentang Badan Amil Zakat Nasional, serta paling akhir dukungan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2010 tentang Zakat Atau Sumbangan Keagamaan Yang Sifatnya Wajib Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto, untuk kepentingan pajak.

“Semua dukungan ini tentu dimaksudkan agar potensi zakat masyarakat dapat terkumpul dan tersalurkan dengan cara yang teratur dan efektif,” kata Wapres.

Wapres juga menyatakan, perlunya pembahasan penyaluran zakat negara-negara kaya kepada negara-negara miskin.

Mengutip Islamic Development Bank, Wapres mengatakan, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp100 triliun.

Di samping itu Wapres meminta para ulama dan intelektual muslim mencari solusi mengatasi perbedaan pendapat terkait zakat.

“Perbedaan pandangan yang ada di kalangan umat Islam yang terkait dengan zakat, perlu mendapatkan perhatian dari kalangan intelektual muslim dan forum seperti ini untuk dapat memberikan pemecahan dan pencerahan,” kata Wapres.

Wapres mencontohkan, seperti tentang kewajiban dan besarnya zakat profesi dan terkait penyaluran zakat tersebut.

“Apakah penyaluran zakat secara langsung kepada mustahik oleh pemberi zakat lebih baik dibandingkan dengan penyaluran melalui Badan Amil Zakat,” kata Wapres.

Dengan demikian potensi zakat dari kalangan profesional yang selama ini belum sepenuhnya tergali dapat menjadi lebih optimal.

Selain itu juga terkait wacana mengenai zakat untuk keperluan konsumsi atau zakat untuk keperluan produksi yang berkembang di masyarakat.

“Ini juga sesuatu yang perlu pencerahan dari forum seperti ini, sebagai orang awam dalam bidang ini,” kata Boediono.

Menurut Wapres, pemikiran zakat untuk kegiatan produksi akan mendorong percepatan pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan.

“Saya berpendapat tidak ada yang salah apakah zakat dimanfaatkan untuk keperluan konsumsi atau produksi. Namun dari sisi efektifitas zakat, sebagai instrumen yang diharapkan dapat ikut mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan umat, wacana zakat untuk keperluan produksi tentu lebih menarik,” kata Wapres.*

Rep: Syaiful Irwan
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Adian: Apakah Benar Indonesia Tertinggal dari Sisi Sains?

Adian: Apakah Benar Indonesia Tertinggal dari Sisi Sains?

Riset GeNAM: 14 Juta Remaja Indonesia Pernah Konsumsi Miras

Riset GeNAM: 14 Juta Remaja Indonesia Pernah Konsumsi Miras

Kemenag: Pesantren Harus Didirikan atau Dimiliki oleh Umat Islam

Kemenag: Pesantren Harus Didirikan atau Dimiliki oleh Umat Islam

KAMMI Gelar Aksi Solidaritas Rohingya di 50 Titik se-Indonesia

KAMMI Gelar Aksi Solidaritas Rohingya di 50 Titik se-Indonesia

Hizbullah Kutuk Israel di Depan Konjen AS

Hizbullah Kutuk Israel di Depan Konjen AS

Baca Juga

Berita Lainnya