Rabu, 27 Oktober 2021 / 21 Rabiul Awwal 1443 H

Nasional

Radikalisme Tidak Dapat Diobati dengan Hormat Bendera

Bagikan:

Hidayatullah.com—Saat ini, semua orang tiba-tiba sibuk mengaku mampu mencegah radikalisme.  Mendiknas Muhammad Nuh bahkan akan mewajibkan upacara bendera di sekolah-sekolah mulai tahun ajaran baru mendatang. Di dalamnya termasuk hormat bendera, yang menurutnya masih diperdebatkan boleh tidaknya di beberapa kalangan.

Sebelum mewajibkan, Mendiknas perlu memperjelas dulu esensi dari upacara bendera dimaksud. Namun tindakan seperti ini dibantah oleh  Partai Bulan Bintang (PBB), dalam sebuah pernyataannya yang dikirim ke redaksi hidayatullah, BM Wibowo, Sekretaris Jenderal DPP menulis, radikal atau tidak perilaku seseorang bukan terletak pada penghormatan bendera.

“Bila ditelusuri penyebab dari radikalisme, letaknya pada buruknya pengelolaan negara yang tidak mencerminkan keadilan ekonomi dan sosial bagi rakyat, merebaknya penyelewengan di kalangan pejabat, dan hilangnya optimisme akan perbaikan di masa depan. Korupsi yang nampak secara telanjang dan dilakukan oleh pejabat yang berbeda-beda, bahkan oleh pengganti dari pejabat lama yang dicopot karena kasus yang sama, menimbulkan kekecewaan berat dan apatisme, seakan-akan mustahil korupsi itu dapat dihapus dari bumi Indonesia,” demikian tulis rilisnya.

Karena itu, menurut PBB, mengatasi masalah mendasar ini dengan ‘hormat bendera’ tidaklah relevan, apalagi yang diwajibkan adalah anak-anak. Bila pendidikan moral di sekolah tidak kompatible dengan realitas moral para public figure, maka akan terjadi pembohongan di sekolah. Moral bangsa yang dipelajari itu tidak ada dalam kenyataan. Dan mereka yang melakukan penyelewengan saat ini adalah para peserta upacara bendera sejak sekolah dulu, bahkan sebagian pernah atau sering memimpin upacara itu.

“Bila Peraturan Menteri itu nanti juga menyantumkan sanksi bagi pelanggar, maka akan timbul kegaduhan. Apakah murid yang tidak mengangkat tangan kepada bendera patut dihukum, dengan alasan tidak menunjukkan cinta tanah air? Bagaimana bila siswa itu mencatat prestasi membanggakan dan mengharumkan nama bangsa, yang membuktikan kecintaannya kepada tanah air? Bagaimana pula dengan guru, karyawan sekolah, atau orang di luar lingkungan sekolah yang melakukan hal sama?”, tulisnya lebih lanjut.

“Bendera tetaplah benda, yang dihormati sebagai lambang tidak harus dengan cara yang sama berupa mengangkat tangan atau seremonial lainnya, apalagi yang mengarah pada semacam ritual.  Menghormati orang tua juga tidak harus diwujudkan dengan mengangkat tangan, tetapi dengan perlakuan yang layak secara keseluruhan.”

“Cobalah Mendiknas mencari cara yang lebih esensial ketimbang memunculkan perdebatan baru mengenai upacara dan hormat bendera. Tumbuhkan kebanggaan sebagai bangsa dengan mengintrodusir prestasi-prestasi anak bangsa, agar yang nampak bukan hanya keburukan atau realitas yang memalukan. Bila banyak prestasi dicatat, dengan sendirinya akan muncul kebanggaan sebagai bangsa. Bendera itu mungkin akan dicium-cium, bukan hanya diberi hormat oleh para murid sekolah,” lanjutnya.*

Rep: Ibnu Sumari
Editor: Panji Islam

Bagikan:

Berita Terkait

bencana alam NTT NTB

Perkembangan Bencana Alam NTT-NTB, 165 Meninggal Dunia 45 Masih Hilang

LPAI: Kasus LGBT Permasalahan Kedua Terbesar Anak

LPAI: Kasus LGBT Permasalahan Kedua Terbesar Anak

Bila Aksi Bela Islam III Digelar, Pimpinan MPR: Aparat Jangan Represif!

Bila Aksi Bela Islam III Digelar, Pimpinan MPR: Aparat Jangan Represif!

Dubes Mesir Diminta Jelaskan Syeikh Amr Kasus Ahok soal Penistaan Agama

Dubes Mesir Diminta Jelaskan Syeikh Amr Kasus Ahok soal Penistaan Agama

HNW: Dari Masjid Kita Suarakan Pemimpin Muslim

HNW: Dari Masjid Kita Suarakan Pemimpin Muslim

Baca Juga

Berita Lainnya