Ahad, 23 Januari 2022 / 19 Jumadil Akhir 1443 H

Nasional

Sekolah yang Baik adalah Yang Kuat Ruhiyah-nya

Bagikan:

Hidayatullah.com–Banyak orang yang mempermasalahkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Indonesia. Namun bagi penulis buku-buku parenting, Mohammad Fauzil Adhim, yang bermasalah bukanlah UN-nya. Malahan, UN bisa membuka mata bahwa pendidikan di negeri ini sedang “sakit keras”. Salah satu contoh nya adalah banyak siswa yang nyontek, tidak jujur dalam mengerjakan ujian.

Pernyataan pemerhari masalah psikologi ini disampaikan saat mengisi “Seminar Parenting” yang diadakan oleh Komite Sekolah SD Integral Luqman Al-Hakim Surabaya di Aula Serbaguna Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya pada Jum’at (22/4).

Menurutnya, kegiatan menyontek bukan sekedar pelanggaran, namun sudah bentuk kejahatan. Oleh karena itu, pelakunya harus ditindak tegas. Kalau perlu, pihak sekolah harus berani mengeluarkannya dari sekolah.

“Sekolah harus berani tegas terhadap siswa yang nyontek. Dikeluarkan dari sekolah, misalnya. Karena nyontek sama dengan menipu. Ini biang kejahatan di masa-masa berikutnya,” kata salah satu kolumnis di Majalah Hidayatullah ini.

Selain itu menurutnya, siswa yang suka mencontek menunjukkan bahwa dia memiliki integritas yang jelek. Padahal dengan adanya siswa yang memiliki integritas jelek menunjukkan pendidikan belum dikatakan berhasil.

Dia melanjutkan, ada tiga komponen pendidikan bisa dikatakan berhasil, yaitu memiliki integritas yang baik, motivasi yang tinggi, dan kompetensi yang unggul.

Seorang siswa dikatakan memiliki integritas yang baik, ketika dia berbuat jujur dalam segala perilakunya. Oleh karena itu, seorang guru haruslah berupaya sekuat tenaga menjadikan siswa jujur.Sedangkan untuk menjadikan siswa memiliki motivasi yang tinggi, seorang guru haruslah pandai memotivasi dan menggembleng mentalnya. Selain itu harus dipastikan, bahwa sang guru senang dengan aktivitas mengajar.

Sementara itu untuk masalah kompetensi, Fauzil menjelaskan, kompetensi yang harus dimiliki siswa tidak hanya kompetensi akademik, melainkan juga kompetensi hidup (life competence). Kompetensi hidup pun masih dibagi dua, yaitu kompetensi diri (self competence) dan kompetensi sosial (social competence).

“Seseorang tanpa memiliki kompetensi hidup tidak akan bisa survive dalam hidup ini, sekalipun dia memiliki kompetensi akademik yang bagus sewaktu duduk di bangku sekolah.”

Dalam seminar yang sebagian besar dihadiri oleh orantua wali siswa juga diberikan trik jitu mencari sekolah yang pas untuk para buah hati. Menurutnya, sekolah yang baik bukanlah dinilai karena negeri atau swastanya, melainkan dinilai seberapa kuat ruhiyah (spritual) yang dimiliki oleh sekolah tersebut.*/Luqman Hakim

Foto: kegiatan siswa saat ujian

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

kerja sama pelayanan dan pembinaan antara IMS dan Kemenkumham

Maksimalkan Pelayanan dan Pembinaan di Lapas, Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham dan IMS Perpanjang Kerjasama

Persahabatan KH Hasyim Asy’ari & KH Ahmad Dahlan Difilmkan

Persahabatan KH Hasyim Asy’ari & KH Ahmad Dahlan Difilmkan

LKPSI: Coba Jika Pendukung John Kei itu FPI

LKPSI: Coba Jika Pendukung John Kei itu FPI

Baleg DPR Mengaku Siap Bahas RUU Cilaka

Baleg DPR Mengaku Siap Bahas RUU Cilaka

Gubernur Jateng Deklarasi Dukung Jokowi, Bawaslu Tak Temukan Pelanggaran Administrasi

Gubernur Jateng Deklarasi Dukung Jokowi, Bawaslu Tak Temukan Pelanggaran Administrasi

Baca Juga

Berita Lainnya